
"Panggilan kepada siswi bernama Anata Gladiya Suka harap memasuki ruang BK,"
"Sekali lagi, panggilan kepada siswi bernama Anata Gladiya Sukma harap memasuki ruang BK*,"
Ana yang duduk anteng di perpustakaan pun langsung menuju ruang BK.
Pikiran nya sudah kemana-mana sedari kemarin, bahkan setelah kejadian kemarin .. Arka sama sekali tidak memberi nya pesan.
"Aku yakin, kamu ga mungkin tega melakukan itu An," ujar Danil mengusap tangan Ana seraya menenangkan nya.
Danil tiba-tiba saja datang ketika Ana akan pergi ke ruang Bk.
"Kamu percaya sama aku?" lirih nya
"Percaya, sangat percaya," balas Danil dengan mantap," Kamu ga usah takut, selagi memang ga salah .. bersikap lah sesantai mungkin."
" Makasih Nil, dari banyak nya manusia ..kamu satu-satu nya orang yang percaya sama aku," ucap Ana sambil meloloskan air mata nya
Dengan sigap Danil menghapus jejak air mata yang ada di pipi Ana.
"Aku ke ruang BK dulu," pamit Ana pada Danil
"Aku anter," kedua nya jalan beriringan, mereka mencibir Ana dengan kata-kata pedas, bahkan mereka tidak peduli jika Ana akan sakit hati.
"Jalan aja An, mereka jangan di dengerin," bisik Danil tepat di telinga Ana
Ana beruntung masih ada Danil yang menguatkan diri nya.
"Aku tunggu di luar sampai kamu selesai,"
Kaki jenjang Ana langsung memasuki ruang BK, dan di dalam nya sudah terdapat Stella dan Arka.
"Silahkan duduk Ana," Ana terduduk sesuai perintah, dengan jelas .. Ana melihat Arka menggenggam tangan Stella dan sesekali mengusap nya dengan lembut.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Stella itu tindakan kriminal Ana, dan kamu sudah melanggar peraturan sekolah." ucap guru BK yang tidak ingin basa-basi
"Saya bukan pelaku nya bu," lirih Ana
"Semua bukti sudah saya terima Ana, saya sangat kecewa sekali sama kamu, kamu itu siswi kebanggan sekolah! Kenapa tega melakukan tindakan kriminal seperti itu? Terlebih lagi kepada Stella yang bisa di katakan masih murid baru di sekolah ini,"
"Gara-gara kamu .. sekolah ini tercoreng nama baik nya,"
"Udah saya bilang berkali-kali, kalo saya bukan pelaku nya," Ana tetap mempertahan kan kebenaran
"Kalo emang lo ga ngelukain gue .. terus siapa lagi? Kemarin kan kita cuma berdua Ana," sahut Stella memanasi keadaan
__ADS_1
"Kenapa lo tega sama gue Stel?"
"Cukup!! Lo ga usah nyari pembelaan diri lagi! Perbuatan lo itu udah ga bisa di maaf kan Ana!!" bentak Arka dengan wajah memerah nya, bahkan urat-urat leher nya pun terlihat menonjol.
Ana menunduk dan memejamkan kedua mata nya dengan kasar.
Meskipun dirinya berusaha mencari pembelaan diri .. tetap saja tidak akan ada yang percaya.
Hanya kata pasrah lah yang gumam kan dalam hati.
"Maaf Ana, dengan berat hati .. kami mengeluarkan kamu dari sekolah ini,"
Mata Ana melotot tak percaya jika dirinya sampai di keluarkan, Ana pikir .. dirinya hanya akan di skors saja, namun dugaan nya ternyata salah.
Seringai tipis tercetak di bibir Stella, akhir nya .. rencana yang sudah dirinya susun sedemikian rupa telah berjalan dengan sempurna.
"Selamat menderita Ana," pekik Stella dalam hati
Arka saja sampai kaget, tapi sebisa mungkin Arka bersikap biasa saja, toh ini hukuman yang harus Ana terima atas dari perlakukan nya pada Stella.
Semenjak kejadian kemarin yang menimpa Stella, Arka tidak pernah lagi bertatap muka dengan Ana, dirinya sudah terlalu kecewa dengan kebenaran yang sudah Stella beri tau.
"Apa tidak ada jalan lain bu selain di DO? Saya mohon jangan keluarkan saya dari sekolah ini," pinta Ana dengan memohon, bahkan air mata nya puk ikut turun tanpa di minta.
"Saya minta maaf karena tidak bisa berbuat apa-apa Ana, dan kamu boleh keluar hari ini juga, silahkan bereskan barang-barang kamu,"
Dengan helaan nafas berat .. Ana menerima kenyataan yang sangat begitu menyakitkan.
"Saya permisi bu, dan maaf sudah melakukan kerusuhan di sekolah ini," ujar Ana dengan sopan sambil membungkukkan punggung nya.
Ana mendapati Danil yang masih setia menunggu nya, tanpa di duga .. Danil menarik tangan Ana menuju taman belakang sekolah.
Tanpa di minta pun Danil tau jika Ana butuh pelukan dari seseorang," Nangis sepuas nya An, gausah di tahan,"
Sesampai nya di taman .. Danil langsung memeluk Ana dengan erat, sampai Ana menumpahkan air mata nya di sana.
"Aku di DO Nil," ucap nya di sela-sela tangisan dengan suara yang lirih
"Aku gagal buat bikin ibu bangga sama aku,"
Danil bisa merasakan apa yang Ana rasakan, Danil juga tidak bisa berbuat banyak, tapi .. apakah Papah nya bisa membantu? Nanti akan Danil coba berbicara pada Papah nya.
Danil percaya pada Ana sepenuh nya, selama dirinya mengenal Ana .. dia tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun, dan Danil yakin .. ini adalah jebakan agar Ana di fitnah.
Pikiran Danil tertuju pada seseorang, mungkin dugaan nya tidak meleset, dan Danil yakin dengan itu.
__ADS_1
"Aku akan berusaha bantu kamu semaksimal mungkin, kamu jangan dulu menyerah, perjalanan kita masih panjang,"
"Ibu pasti kecewa sama aku Nil," Ana masih setia dengan tangisan nya
"Ibu kamu pasti percaya sama kamu An, dia yang udah ngebesarin kamu, dan ibu kamu juga tau kalo putri cantik nya ini engga mungkin melakukan hal yang ga baik,"
"Kenapa kamu bisa percaya sama aku Nil, padahal aku udah nyakitin kamu,"
"Kita kenal udah lama Ana, aku ga mungkin percaya gitu aja dengan ada nya vidio yang berdurasi 20 detik itu,"
"Aku yakin, sebelum itu .. pasti ada kejadian-kejadian yang lain nya kan?"
Ana mengangguk mengiyakan," Tapi kenapa mereka semua ga percaya sama aku?"
"Karena mereka udah termakan sama omongan yang ga bener, dan lagi .. mereka ga tau siapa kamu An,"
"Cih, ternyata apa yang di bilang Stella bener, kalo lo cuma manfaatin gue doang," desis Arka yang baru saja datang seorang diri.
Ana mau pun Danil langsung berdiri menghadap Arka
"Tutup mulut lo Arka! Lo pikir Ana cewe kaya gitu hah?!" bentak Danil, dia akan menjadi garda terdepan ketika Ana mengalami masalah.
"Gue bakal pastiin kalo lo akan menyesal ketika udah tau kebenaran nya!" ucap Danil dengan penuh tekanan.
Sedangkan Arka hanya tertawa remeh mendengar nya
"Sebener nya males banget buat basa-basi sama kalian, tapi .. kedatangan gue kesini cuma mau ke lo Ana," tunjuk nya pada Ana," Mulai sekarang .. kita putus," setelah mengucapkan kalimat itu .. Arka langsung pergi dan tanpa menoleh kembali ke belakang.
Harus nya Ana senang jika Arka meminta putus, sebab dengan begitu .. nyawa ibu dan diri nya aman dari si peneror.
Di sisi lain .. Ana juga sulit menerima kenyataan jika Arka akan mulai menjauhinya.
"Gapapa Ar, kalo mau putus ya putus aja, dan ... yang di katakan Danil ada benar nya, kalo nanti nya kamu tau kebenaran dari masalah ini ... aku harap kamu ga akan menyesal,"
Hati Arka sedikit teriris kala Ana berucap seperti itu, dirinya jadi merasa bimbang.
"Aku harap .. ini terakhir kali nya kita ketemu Ar, dan aku mohon, kalau pun kita nanti nya ketemu di jalan .. kamu pura-pura ga kenal aja, anggap aja .. kita adalah dua orang asing yang ga saling kenal,"
"Ayo Nil kita pergi,"
Kedua nya pergi dan meninggal kan Arka yang mematung sendirian.
Ini adalah hari terakhir bagi Ana menginjak sekolah impian nya, dan kini saat nya Ana melepaskan semua beban yang sudah ia pikul selama ini.
Demi Ana .. Danil rela bolos untuk mengantarkan Ana pulang ke rumah nya.
__ADS_1