
Perasaan tak tenang memenuhi seluruh hati nya, rumah sakit yang dominan bau obat-obatan pun kini Arka pijak.
Setelah Danil di periksa di dalam ruangan oleh seorang dokter .. Arka terus saja tak henti-henti nya mondar- mandir di depan pintu ruangan Danil.
"Duduk aja si Ar! Pegel mata gue liat lo mondar-mandir begitu," ujar Bayu dengan sebal, dirinya juga tau jika Arka sangat mengkhawatir kan kondisi Danil saat ini.
"Gue ga bisa diem aja sebelum tau kondisi sodara gue sekarang,"
"Duduk dulu aja, nanti juga dokter nya keluar," titah Gavin
"Gimana keadaan nya?" tanya Papah Arka dengan nafas yang ngos-ngosan.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Gavin menyempatkan diri untuk mengabari Papah Arka tentang keadaan Danil.
Wajah nya yang terlihat lelah serta di campur khawatir, itulah yang tercetak jelas di wajah Papah Arka.
"Masih di tangani dokter om," sahut Gavin, karena Arka tidak berniat menjawab," Duduk dulu om sambil nunggu kabar dari dokter,"
"Duduk," titah sang Papah kepada Arka yang masih mondar-mandir. Dengan gerakan pelan sang Papah meraih tangan Arka supaya anak nya ikut duduk bersama.
"Maaf Pah, Arka ga jagain Danil," cicit Arka sambil menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan.
"Bukan salah kamu, Danil memang sudah sering seperti ini,"
"Sering?" beo nya
"Iya sering, dengan cara kamu yang langsung membawa Danil ke sini .. itu udah bikin Papah bangga sama kamu. Makasih ya nak?" ucap sang Papah sambil merangkul pundak putra nya." Makasi juga buat kalian yang udah bawa Danil kemari,"
"Sama-sama om," balas nya serentak
"Separah itu Pah? Sampe Arka ga pernah tau?" tanya Arka dengan lirihan
"Ini semua permintaan Danil, Papah ga bisa berbuat apa-apa selain berusaha menyembuhkan penyakit nya," balas sang Papah dengan sendu," Waktu itu Papah ngerasa ga yakin kalo kamu bakal berbuat baik sama Danil jika mengetahui semua nya, apalagi .. sikap kamu yang tidak pernah menyukai sodara kamu sendiri,"
__ADS_1
Yang di katakan Papah nya ada benar nya juga, selama ini sikap nya terhadap Danil tidak pernah di katakan baik. "Maaf, Arka terlalu egois,"
"Dengan melihat kamu yang udah berubah .. itu udah bikin Papah seneng. Terus seperti ini jangan pernah berubah lagi, anak Papah kan hebat-hebat,"
"Pa---------"
"Keluarga pasien?" tanya seorang dokter yang keluar dari ruangan Danil
"Saya Papah nya, bagaimana keadaan anak saya dok?" cerca nya
"Mari masuk," ajak sang Dokter
Ke empat nya pun memasuki ruangan Danil. Arka dan kedua teman nya menghampiri Danil yang terbaring lemah, sedang kan sang Papah berbincang-bincang dengan dokter seraya memberi tau kondisi Danil.
"Begini pak, saran saya .. putra bapak harus di rawat inap supaya kesehatan nya terkontrol oleh kami. Jika di lihat-lihat .. putra bapak ini terlalu kecapean, atau mungkin terlalu beraktifitas lebih, dan harus nya dalam kondisi nya yang seperti ini .. putra bapak harus banyak-banyak istirahat. Kalau tidak .. saya angkat tangan,"
"Lakukan yang terbaik untuk putra saya,"
Arka yang mendengar penjelasan dari sang dokter pun di buat lemas, kenapa saat diri nya ingin memperbaiki semua nya .. justru malah mendapatkan masalah seperti ini.
"Mulai sekarang putra bapak harus di rawat,"final sang dokter," Ini semua demi kebaikan pasien,"
"Kira-kira berapa lama?" pasal nya Danil pasti tidak akan suka jika berlama-lama di rumah sakit, anak itu tidak akan betah dan pasti ingin beraktifitas seperti biasa. Kondisi nya yang seperti itu membuat Danil tidak ingin di pandang lemah.
"Saya tidak bisa memastikan, jika putra bapak bisa di katakan sudah baik ... maka dapat di perbolehkan untuk pulang,"
"Gue ga nyangka si Danil menderita penyakit mematikan kaya gini," ujar Bayu sambil meneliti wajah Danil, bahkan tubuh nya pun terlihat lebih kurus dari sebelum nya.
"Lebih ga nyangka nya lagi .. dia bersikap seolah-olah biasa saja tapi menyimpan banyak luka yang luar biasa," timpal Gavin
"Gue orang pertama yang paling bodoh karena udah nambahin luka dia." lirih Arka sambil bersedekap dada, tatapan nya sendu melihat Danil yang terbaring dengan beberapa alat medis di wajah nya," Lo emang sodara gue yang paling baik Nil, yang rela ngorbanin kebahagiaan lo demi gue, tapi gue malah bales lo dengan luka fisik,"
"Udah lah Ar, jangan terlalu nyalahin diri sendiri. Semua udah lewat, kita perbaiki aja semua nya,"ujar Gavin yang tidak suka dengan penuturan Arka
__ADS_1
"Kalian mana ngerti sama apa yang sekarang gue rasain. Gue selalu di hantui rasa bersalah setiap malem nya," lirih Arka," Gue ga bisa maafin diri gue sendiri kalo belum liat sodara gue sembuh dan bisa hidup layak nya orang normal lagi,"
"Percaya sama kita Ar, kalo si Danil bakal sembuh, jangan pesimis. Doain dia yang terbaik,"
"Yang sabar ya om," ucap Gavin dengan sopan kepada Papah Arka yang menghampiri Danil seraya mengusap rambut nya.
"Kalo di sini ga ada perkembangan .. dengan terpaksa Papah akan bawa Danil ke singapura," final sang Papah
"Arka akan dukung apa pun, asal kan Danil bisa sehat lagi Pah," sahut Arka
"Kita juga bakal doain kesembuhan Danil sebisa mungkin,"
"Harus nya Papah lebih tegas buat larang kamu untuk tidak beraktifitas di luar nak," ucap sang Papah kepada Danil yang terbaring di atas brangkar
"Kenapa Papah ga paksa dia aja supaya nurut? Toh juga kan demi kebaikan dia sendiri,"
"Dia ga mau orang lain curiga karena terlalu banyak izin ga masuk sekolah,"
"Dasar keras kepala!" cibir Arka," Tenang aja Pah, kali ini Arka yang bakal jagain Danil dengan tegas," ucap Arka dengan mantap.
"Papah percayakan sama kamu,"
"Jadi sekarang .. dia harus rawat inap?"
"Seperti yang kamu dengar tadi,"balas nya dengan singkat," Kalian pergi ke sekolah lagi aja, biar Papah yang jagain Danil," suruh nya
"Nanggung om, bentar lagi jam pulang," balas Bayu memang benar ada nya dan tidak di buat-buat.
"Mending Papah aja yang pulang, biar Arka yang di sini,"
"Papah mau nungguin Danil sampai dia siuman,"
"Yaudah Papah duduk aja di sofa, istirahat. Papah pasti cape kan dari kantor langsung ke sini?"
__ADS_1
Sikap peduli Arka membuat hati sang Papah terharu, belasan tahun .. baru kali ini mendapatkan perlakuan baik dari Arka putra nya.
Ternyata sebuah kesabaran nya selama ini sudah terbalaskan, rasa syukur tak pernah henti-henti nya di ucap kan dalam hati. Momen seperti ini seakan tak ingin cepat berlalu. Harapan nya saat ini adalah dirinya bisa berkumpul dengan kedua putra nya tanpa melibat kan dendam serta permusuhan lagi.