Posessif Arka

Posessif Arka
episode 41


__ADS_3

Hari ke 5 Arka di rawat di rumah sakit, namun tak kunjung juga membaik, rasa sakit yang di rasakan nya pun tidak di pedulikan oleh Arka.


"Gue cabut dulu," pamit Gavin pada Arka dan Bayu, sedangkan Stella sedang pergi ke kantin untuk membelikan Gavin dan Bayu makanan.


"Mau kemana lo?" tanya Bayu yang terheran


Arka hanya menoleh sekilas, setelah nya ... dia tidak peduli lagi.


Gavin hanya sudah geram dengan sikap keras kepala Arka yang tidak bisa untuk di bujuk, ia memutus kan untuk pergi menemui Ana, seingat nya ... setiap hari rabu Ana libur bekerja.


"Keluar bentar,"balas nya dengan singkat dan kemudian pergi keluar dari ruangan Arka


3 menit setelah kepergian Gavin.. Stella datang masuk ke ruangan Arka.


"Loh, Gavin mana?" tanya Stella yang tidak mendapati Gavin di ruangan Arka


"Kata nya keluar bentar," balas Bayu


Stella mengangguk pelan," Nih makan Bay," Stella memberikan sebungkus makanan pada Bayu


"Thanks Stel," Bayu pun dengan sigap membuka bungkus makanan dan langsung memakan nya


Stella mendekat ke arah Arka dan seraya duduk di samping nya.


Stella menghela nafas ketika melihat kondisi Arka yang semakin menurun dan bisa dikatakan tidak baik.


"Mau sampai kapan kaya gini Ar? Aku ga tega liat kamu yang kaya orang ga ke urus," ujar Stella dengan helaan nafas


"Kamu mau apa? Aku bakal turutin kemauan kamu," tawar Stella, mungkin saja Arka akan tertarik


Arka hanya menoleh sekilas, dirinya tidak yakin jika Stella akan menuruti keinginan nya.


"Kali ini aja Ar kamu nurut sama aku,"


"Makan ya?"


Arka menggelengkan kepalanya dengan pelan


"Terus kamu mau nya apa? Aku bukan cenayang Ar yang bisa tau semua yang kamu pikirin,"


"Bisa diem kan Stel? Aku pusing,"


"Kamu berubah Ar, kamu bukan lagi Arka yang aku kenal dan kamu bukan Arka yang selalu prioritasin aku lagi," lirih Stella yang melihat sikap Arka semakin berubah pada nya.


Harus nya Arka tidak berbicara seperti itu tadi, sekarang dirinya merasa jadi serba salah.


"Stel, kasi Arka waktu, dia cuma lagi banyak pikiran," sahut Bayu menenangkan Stella


Stella bangkit dan menuju sofa yang di duduki Bayu.


Perlahan tapi pasti, Bayu pun memeluk Stella dari samping," Omongan si Arka gausah di dengerin, dia lagi waras jadi jangan di ajak ngobrol du ... aw," ringis Bayu yang mendapat lemparan bantal dengan cukup keras

__ADS_1


"Asem lo Ar, lagi sakit juga masih sempet-sempet nya ngajak ribut!" ujar Bayu sambil mengelus kepala nya yang terkena lemparan bantal, untung hanya bantal, jika batu yang lempar? .. bisa pecah ini kepala.


Arka hanya malas meladeni celotehan Bayu yang tidak berbobot itu. Lagian, siapa suruh dia mengatai dirinya sampai tidak waras segala?


Meskipun sedang sakit, kelakuan Arka tetap saja tidak berubah, dia tetap saja menyebalkan.


~~


Gavin terus saja memutari jalan untuk menemui Ana, namun sial nya .. dirinya lupa bertanya pada Arka mengenai rumah Ana.


"Ini gue oon apa gimana si?"gerutunya," Kenapa ga nanya dulu rumah Ana dimana sama si Arka, ini malah gue langsung pergi aja,"


"Udah tau gue gatau rumah si Ana, huft." saat ini Gavin benar-benar sedang di uji kesabaran nya," Bener-bener bego gue," desis nya


"Sekarang gue harus kemana? Yakali balik lagi ke rumah sakit. Sia-sia dong gue pergi dari tadi kalo ga ada hasil,"


Cukup lama Gavin terdiam di pinggir jalan seraya berpikir.


Dirinya baru ingat, kenapa tidak pergi ke cafe tempat Ana bekerja saja? Siapa tau disana ada petunjuk.


Tanpa pikir panjang lagi .. Gavin langsung menancap kan gas nya untuk pergi ke cafe.


15 menit telah Gavin tempuh, akhirnya tempat yang di tuju pun sampai juga.


"Permisi," ujar Gavin dengan sopan


"Mau pesan apa?" balas salah satu pelayan


"Saya ga mau pesen apa-apa, tapi ... saya mau tanya,"


"Mbak tau Ana yang bekerja di sini?" tanya Gavin yang tidak ingin basa-basi lagi


"Oh Ana, iya saya tau, tapi .. untuk hari ini .. Ana sedang libur jadi tidak masuk kerja," jelas nya memberi tau


"Kalo gitu .. mbak tau alamat nya ga? Kalo tau saya minta,"


"Tapi ..." Gavin melihat wajah pelayan itu seperti ragu


"Saya bukan orang jahat, saya temen nya," jelas Gavin," Teman nya Ana kecelakaan dan saya tidak bisa menghubungi Ana, dan saya juga tidak tau rumah nya, jadi karena itulah tujuan saya kemari,"


"Ya ampun kasian banget, yaudah sebentar saya tuliskan dulu alamat nya,"


Huft, syukurlah pelayan itu percaya, jadi Gavin tidak usah repot-repot untuk membuat drama.


Dengan senyum mengembang .. Gavin sudah menerima alamat Ana yang pelayan itu kasi.


"Terimakasih mbak udah nolong saya,"


"Iya sama-sama, semoga temen nya Ana segera sembuh ya,"


Gavin mengangguk pelan dan setelah nya Gavin pamit pergi karena ingin segera menemui Ana.

__ADS_1


Ternyata .. lumayan jauh juga, pikir Gavin.


"Kemana nih? Cuma ada gang sempit doang disana," ujar Gavin bermonolog


Untuk menghilangkan rasa penasaran nya.. Gavin pun langsung memasuki gang sempit itu.


Berkali-kali Gavin melihat ke arah rumah yang ada di depan nya dan menyamakan dengan alamat yang di berikan oleh pelayan cafe tadi.


"Sama,"


"Apa iya ini rumah Ana?" tanya nya pada diri sendiri


Gavin melihat rumah yang ada di depan mata nya ini sangat begitu sederhana.


Tok tok tok


Gavin mulai mengetuk pintu


Sudah berkali-kali Gavin mengetuk pintu .. tapi tidak ada sahutan dari pemilik rumah.


"Pada kemana si, sepi amat,"


"Nyari siapa?" tanya salah seorang warga paruh baya


"Ini bener rumah Anata kan bu?"


"Iya benar, tapi .. saya tadi liat Ana pergi keluar, seperti nya belanja,"


"Oh gitu,"


"Siapa nya Ana? Pacar nya ya?"


"E-eh bukan bu, saya temen nya, kebetulan lagi ada perlu,"


"Duduk aja dulu disitu, nanti juga Ana datang,"


"Memang nya Ana tinggal sendiri?"


"Engga, ada ibu nya di dalam, cuma .. ibu Ana sakit lumpuh, jadi.. kemungkinan besar.. ibu Ana ga bisa buka pintu,"


Gavin syok ketika baru tau jika ibu Ana menderita sakit lumpuh


"Ana cuma tinggal sama ibu nya berdua?"


"Iya, Ayah Ana sudah lama meninggal, kalo gitu ibu permisi ya, tunggu saja sebentar lagi juga pulang," pamit nya


"Iya bu, sekali lagi terimakasih banyak," balas Gavin dengan sopan


Gavin duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah Ana, pikir Gavin .. cewe seperti Ana tidak seharusnya merasakan kehidupan yang pahit seperti ini, terlebih lagi ... Ana kerja banting tulang untuk menghidupi ibu nya dan juga Ana sendiri.


Ana memang sangat berbeda dari banyak nya cewe di luaran sana, ketika yang lain menye-menye minta ini dan itu kepada orang tua nya, tapi tidak dengan Ana, justru Ana lebih bekerja keras untuk menghidupi keluarga nya.

__ADS_1


Jika Arka sudah tau kehidupan Ana seperti ini .. kenapa sahabat nya itu tega sekali sampai membuat Ana seperti ini.


"Gavin," ucap Ana kala melihat Gavin berada di depan rumah nya yang sambil terduduk


__ADS_2