Posessif Arka

Posessif Arka
episode 62


__ADS_3

"Danil, kita berangkat sekarang," ujar sang Papah yang baru sampai di lantai bawah


Seperti biasa, hari ini jadwal Danil ikut pergi bersama sang Papah.


"Aku cape Pah," ucap nya dengan suara pelan namun terdengar seperti orang pasrah dengan keadaan,"Aku cape," sorot mata nya sangat sayu menyiratkan rasa sakit yang mendalam," Berhenti sampai sini aja ya Pah? Aku udah ga kuat buat nahan semua ini terlalu lama," Danil sudah tak mampu melanjutkan perkataan nya lagi, semua ini terlalu berat untuk dirinya lalui.


"Kamu ga sayang sama Papah, hm? Perjuangan Papah selama ini ga bikin kamu ingin bertahan?" balas nya tak kalah sendu,"Bukan nya kamu ingin menemani masa tua Papah bareng Arka? Apa kamu tidak ingin mewujudkan itu lagi?" suara nya tercekat menahan air mata yang ingin lolos, namun sebisa mungkin ia tahan.


Arka yang berdiam diri di ujung tangga pun melihat bahkan mendengarkan percakapan antara Danil dan Papah."Kenapa Papah bawa-bawa nama gue?" pikir nya yang terheran dengan arah pembicaraan yang dirinya dengar.


Bukan berniat ingin menguping, hanya saja .. Arka terlalu kepo.


"Pah--------"


"Kamu mau ninggalin Papah, iya?"


Danil menggelengkan kepala nya pelan. Di satu sisi .. dirinya merasa cape dengan keadaan yang selama ini menimpa nya, namun .. di sisi lain .. dirinya juga tidak tega membuat Papah nya bersedih.


"Danil cape Pah, sampai kapan aku harus kaya gini? Aku udah ga punya tenaga lagi, Bahkan rasa nya kaya .. di hantam habis-habisan,"


"Papah belum siap Nil, bahkan rasa nya Papah ga akan siap,"lirih nya," Mau kan bertahan lebih lama lagi buat Papah dan juga buat Arka?'


"Papah yakin ini tidak akan lama lagi Nil, " tegas sang Papah


Melihat Papah nya dengan tatapan memohon itu pun membuat Danil tidak bisa menolak nya dan menganggukan kepala nya dengan ragu. Danil tak yakin dengan jawaban nya sendiri, apa pun yang terjadi .. semoga semua nya baik-baik saja dan berjalan dengan lancar.


"Kita berangkat sekarang, nanti telat," ujar sang Papah mengalihkan pembicaraan


Danil hanya bisa menghela nafas pasrah, dirinya melakukan semua ini semata-mata hanya karena tidak ingin mengecewakan sang Papah.


Di situasi seperti ini membuat seorang Arka berpikir keras," Pembicaraan mereka bikin gue jadi penasaran,"

__ADS_1


"Ikutin ga ya?" ucap nya seraya berpikir," Ikutin ajalah kalo mau tau mah," Arka segera mengambil kunci motor dan juga jaket hitam milik nya.


Selama ini Arka memang tidak pernah se kepo ini tentang masalah Danil dan juga sang Papah. Yang membuat seorang Arka penasaran adalah .. pembicaraan kedua nya tadi menyebut nama nya dan itulah yang membuat nya bertekad untuk mengikuti mereka.


Motor yang di kendarai Arka tidak begitu dekat dengan mobil yang di kendarai sang Papah, ia melakukan itu agar tidak di curigai.


Hampir satu jam lama nya Arka mengikuti Papah nya, tapi tidak kunjung sampai. " Mereka mau kemana si," gerutu Arka yang merasa bosan," Gue kira bakal pergi ke kantor atau ke mall, lah ini .. masih ga sampe juga,"


Tak lama mobil yang di kendarai sang Papah berbelok ke parkiran rumah sakit.


"Rumah sakit," gumam Arka,"Ngapain Papah kesini? Dan siapa juga yang sakit?" pikiran Arka berputar-putar," Jenguk temen nya kali ya?," lanjut nya dengan acuh


Arka mengekor dari belakang dan untung nya ia memakai topi dan masker, jadi .. dirinya tidak terlalu khawatir.


Arka bersembunyi di balik tembok seraya melihat interaksi seorang dokter perempuan yang mengulas senyum ke arah Danil. Kening nya mengerut kala Danil di bawa ke dalam sebuah ruangan.


Untung nya saja ruangan yang di masuki Danil dan Papah memakai kaca, jadi .. Arka bisa dengan mudah melihat kondisi di dalam.


Mata Arka melotot kala melihat Danil berbaring di atas brangkar dan .. di ambil darah.


Brak


"Arka," ucap sang Papah dengan pelan


Danil menoleh ke sumber suara dengan lemah dan tatapan mata nya pun sangat terlihat sayu. Rasa nyeri yang menjalar di seluruh tubuh nya membuat Danil tidak bisa bergerak dengan leluasa," Arka,"ucap nya dengan nafas yang naik turun dengan cepat.


Sorot mata nya tak lepas dari wajah Danil yang semakin pucat." Apa yang sebenar nya terjadi?" tanya nya yang masih tak lepas menatap Danil ," Dan sejak kapan lo kaya gini?"


Kaki nya melangkah mendekat ke arah Danil sambil melihat setiap inci wajah lelaki di depan nya itu. " Lo kenapa?" tanya nya memulai pembicaraan.


"Kenapa kamu bisa ke sini Arka?" tanya sang Papah mengalihkan agar Arka tidak bertanya-tanya lebih jauh.

__ADS_1


"Jangan mengalihkan pembicaraan Pah!" ujar Arka menatap sang Papah," Apa yang sebenar nya terjadi? Kenapa Arka ga pernah tau masalah ini?"


Danil hanya bisa menutup mata nya pasrah ketika Arka sudah mengetahui dirinya berada di rumah sakit.


"Lo kenapa bisa sampe rumah sakit segede ini?" tanya Arka pada Danil


"Sejak kapan lo peduli?" balas nya dengan suara pelan


"Jawab yang bener sialan!" geram Arka," Mau gue tonjok hah?!" ujar nya sambil menunjukkan gumpalan tangan


"hmm, gue cuma kecapean," alibi nya dengan malas


"Ck, cuma kecapean?" Arka terkekeh pelan," Lo pikir gue anak TK yang bisa lo bodohi?! Kalo emang kecapean .. kenapa sampe muntah darah dan lagi .. muka lo pucet kaya mayit," desis nya


"Sejak kapan lo kepo?"


"Bener-bener minta di tonjok ini orang! Udah sekarat juga masih aja nyari gara-gara," ujar nya sambil memutar bola mata nya malas.


"Arka, jangan berantem," lerai sang Papah


"Mulai," balas Arka yang mulai di salahkan oleh sang Papah


"Kamu pulang aja Ar, jangan ganggu Danil, dia ga boleh di ganggu dulu masih butuh banyak istirahat."


"Kenapa Papah kaya ga suka kalo Arka ada di sini?"


"Bukan ga suka Arka, kedatangan kamu di sini membuat Danil tidak bisa beristirahat dengan tenang,"


"Yaudah aku diem," balas Arka dengan menatap Danil yang terbaring lemah. Pikiran nya di penuhi dengan hal-hal negatif, Arka masih belum mendapatkan jawaban yang logis tentang kondisi Danil.


"Pulang sana, ngapain juga lo disini? Ganggu!" titah Danil yang masih setia menutup mata

__ADS_1


"Gausah ngatur! Urus aja penyakit lo itu," sinis Arka


Perkataan Arka membuat hati Danil terenyuh, ia tidak berharap lebih dengan penyakit yang di derita nya ini, semua biar Tuhan saja yang atur.


__ADS_2