
Pagi-pagi sekali Ana sudah sampai di area sekolah, saat ini dirinya berada di taman belakang tempat favorit nya, seperti biasa dengan sebuah buku novel yang berada di tangan nya
Ana selalu fokus dalam kegiatan membaca nya karena kalo pikiran nya buyar, maka fell yang berada di dalam buku novel nya tidak akan dapat
"hai," sapa seseorang yang kini duduk di depan Ana, lelaki itu tersenyum manis, senyuman itu, wajah itu, suara itu... adalah seseorang yang beberapa hari yang lalu ia rindukan
"Danil? ini beneran Danil kan?" Ana tidak bisa berkata-kata lagi selain rasa bahagia yang saat ini menggerogoti tubuh nya
"Danil...," Ana memeluk nya erat, air mata turun seketika tanpa permisi," kemana aja? aku kangen tauuuu," rengek nya yang masih di sela-sela tangisan," kenapa ga ada kabar juga? telepon sama chat aku bahkan ga kamu respon,"
"maaf Ana," ujar nya dengan lembut, itu yang Ana sukai dari Danil.. lelaki itu tidak pernah berlaku kasar sedikit pun , bahkan ketika Ana salah sekalipun.. Danil tidak pernah menegur nya dengan kasar," maaf... aku ga sempet megang hp," jelas nya berbohong, Danil melakukan ini semata-mata untuk menyembunyikan sesuatu dari Ana, ralat dari semua orang terkecuali papah nya
"memang nya kamu kemana?" Ana memang tidak tau kabar Danil, sebab Arka tidak pernah buka mulut jika ia bertanya tentang Danil
"aku jagain nenek di Amrik, nenek jatuh sakit... makannya aku korbanin buat ga sekolah selama seminggu ini," jelas Danil agar terlihat meyakinkan di depan Ana
"sekarang udah sembuh nenek nya?"
__ADS_1
"udah An,"
"terus... kenapa cuma kamu yang pergi? maksud aku.. kenapa Arka ga ikut juga?"
"papah cuma nyuruh aku aja, lagian Arka kan sering bolos, kalo di tambah ga masuk seminggu? bisa-bisa nilai nya makin anjlok, papah gamau itu terjadi,"
"oh iya, hubungan kamu sama Arka gimana?" Danil bertanya, sejauh mana hubungan Ana dan Arka sekarang, apalagi selama seminggu ini dirinya tidak tau menahu
"gimana apa nya?!" dengan ketus nya Ana tidak suka membahas perihal Arka," aku ga ada hubungan apa-apa sama Arka! dia nya aja yang ngaku-ngaku," dengan dongkol campur sebal, bisa-bisa nya seorang Arka merusak hubungan nya yang sudah lama di idam-idam kan
"Ana... dengerin aku, Arka sebenar nya baik,"
"makan nya dengerin aku dulu sayang.." tangan Danil merapikan anak rambut Ana yang terkena angin," Arka itu baik, dia kaya gitu cuma karena ga suka sama aku aja, makan nya.... kamu nurut aja sama Arka, supaya dia ga bersikap kasar sama kamu,"
Ana mencerna ucapan Danil dengan seksama, memang benar Arka akan bersikap lembut jika dirinya menurut, terbukti seperti kemarin ... Arka tidak melakukan kekerasan sedikit pun
"tapi dia nyuruh aku buat ga deket-deket sama kamu," dengan suara lirihan yang tidak terima," aku gamau Nil gamau," tolak nya
__ADS_1
"turuti aja keinginan dia,"
"apa?! kamu gila? semudah itu kamu bilang? kamu ga sayang sama aku Nil?" tanya nya bertubi-tubi
"bukan gitu Ana, maksud aku kalo di depan dia kamu nurut aja, biar kamu aman," jelas nya memberi pengertian
"hubungan kita gimana?" suara Ana melemah, kenapa ketika Ana merasakan bahagia malah ada yang merecoki nya? tidak bisakah membiarkan Ana bahagia dengan orang tersayang nya? fikir Ana
"kita diem-diem aja kaya gini," Danil mengeratkan pelukan nya pada Ana
Danil fikir.. jika dirinya menyerahkan Ana pada Arka .. apa itu jalan terbaik yang di ambil? atau malah sebalik nya
Fikiran nya tertuju pada Arka, sampai kapan hubungan dirinya dengan Arka akan membaik? apa dengan kematian dirinya akan membuat Arka bahagia?
"kamu mikirin apa?" tanya Ana
"ga mikirin apa-apa, cuma ga nyangka aja sekarang aku udah punya pacar yang baik kaya kamu," tangan nya sambil mencubit hidung Ana dengan gemas
__ADS_1
pipi Ana berubah menjadi merah tomat akibat ucapan Danil barusan membuat nya merasa salah tingkah