
Gavin hanya bisa pasrah di usir dari kamar Lea, kalau bukan karena ancaman dari gadis itu Gavin tidak akan mau keluar.
“ Ish, nggak bisa ilang kan..” ucap Lea kesal karena Gavin meninggalkan bekas merah di lehernya.
Lea membuka kopernya lalu mencari baju yang cocok agar tanda merah itu tidak terlihat, akhirnya pilihan jatuh pada sweater turtleneck berwarna baby pink dan rok motif flower.
Lea memoles mukanya dengan bedak tabur dan lip tint agar terlihat segar, sedangkan rambutnya dia gerai.
“ Sayang…” panggil Gavin dari depan pintu.
“ Sebentar..” saut Lea melangkah menuju pintu.
Lea membuka pintu dan melihat Gavin sudah rapi dengan polo shirt berwarna putih dan celana jins slim fit berwarna hitam.
“ Nggak usah terpesona gitu, aku emang ganteng dan itu udah jadi milik kamu.”
“ Ish, kepedean banget.. siapa yang terpesona?” elak Lea, padahal wajahnya sudah merona karena ketahuan mengagumi wajah tampan Gavin.
“ Iya in aja, yang suka gengsi emang gitu.”
Lea langsung mencubit pinggang Gavin membuat Gavin terkekeh melihat tingkah malu-malu Lea.
Di ruang makan sudah ada Bunda dan Ayah, Bunda membantu maid menata makanan di atas meja sedangkan Ayah sedang fokus dengan tab nya.
“ Ayah, kita mau makan malam lho.. tab nya coba di singkirin dulu.”
Ayah langsung bangun dari duduknya untuk menaruh tab itu di nakas.
__ADS_1
“ Hai sayang, kamu cantik banget..” ucap Bunda saat melihat Lea dan Gavin.
“ Iya dong cantik, calon istri Gavin..” ucapan Gavin membuat Bunda menggelengkan kepalanya.
“ Lea bantu ya Bun..” Lea baru saja hendak menghampiri Bunda, tapi lengannya sudah di tarik oleh Gavin.
“ Di rumah ini sudah banyak maid yang bantu Bunda, jadi kamu nggak aku izinin.”
“ Malam Ayah, Bunda..” ucap Galen, di belakangnya Faris dan Devian mengikuti.
“ Malam.. kalian janjian mau ke sini..?” tanya Bunda.
“ Iya Bun, udah lama Galen nggak makan bareng sama Bunda.”
“ Kalian sih sibuk banget sampai jarang main lagi ke sini.”
“ Iya, Bunda bangga kalian bisa jadi anak muda yang sukses dalam karir.. tinggal cari istri deh biar lengkap.”
“ Kaya Gavin ya Bun, udah ada calon istri..” ucap Gavin sambil menoleh pada Lea.
Ketiga sahabat Gavin hanya bisa mencibir tingkah Gavin.
“ Hai Lea.. apa kabar?” sapa Galen.
“ Hai, kabar aku baik..” jawab Lea. Yang lain memberikan senyuman pada Lea.
“ Ayo pada duduk, kita mulai makan malamnya..” ucap Bunda. Ketiganya langsung duduk di samping Gavin, memulai makan malam bersama di selingi dengan gurauan Gavin dengan ketiga sahabatnya, sedangkan Lea hanya jadi pendengar saja.
__ADS_1
Setelah makan malam, Gavin mengajak teman-temannya berkumpul di ruang santai termasuk Lea yang terus mengikuti ~ralat, di paksa ikut oleh Gavin.
“ Lea, kami minta maaf udah jadiin kamu bahan taruhan kami.. bukan cuma Gavin yang salah tapi kita juga.” ucap Galen mewakilkan teman-temannya.
“ Kita nyesel Le, untuk menebusnya kami rela di hukum apapun..” ucap Faris menambahkan.
“ Kalian udah Lea maafin kok, tenang aja.. Lea cuma minta kalian jangan lagi bercanda dengan perasaan orang lain, itu nggak baik.”
“ Siap cantik, ini juga gara-gara ide Faris.” ucap Devian.
“ Eh sembarangan..” protes Faris.
“ Beneran Le, kita udah di maafin? udah nggak marah..?” Tanya Galen.
“ Kalau Lea marah, apa semua akan kembali seperti semula? kan nggak.” Jawab Lea.
Lea menolah pada Gavin, cowok itu tidak bersuara sejak tadi, “ Kenapa diem aja..?” tanya Lea.
“ Aku beruntung banget bisa kenal dan milikin kamu sayang.” Jawab Gavin sambil mencium punggung tangan Lea.
“ Gombal deh..” kekeh Lea.
“ See guys, gue jujur di bilang gombal..”
“ Terima nasib bro.. kali-kali rasain jadi pejuang.” ledek Faris.
Gavin hanya bisa mendengus saat melihat Lea dan ketiga sahabatnya tertawa. Sikap Lea yang tarik ulur perasaannya tak menyurutkan semangat Gavin untuk terus memenangkan kepercayaan gadis itu kembali.
__ADS_1
TBC..!!