PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 45


__ADS_3

Lea mengerjapkan matanya dan melihat sekelilinh,dia sudah berada di ruang serba putih dengan aroma khas. Lea mendengar suara yang memanggil namanya itu pasti suaminya.


" Sayang.. Apa yang kamu rasain?"


" Galen mana?"


" Kamu kenapa yang di tanya pertama kali lelaki lain? Nggak tau kalau aku udah cemas dari tadi.." Rajuk Gavin.


" Dia utang penjelasan sama aku.. Dia dimana?" Tanya Lea lagi.


Galen beranjak untuk memanggil Galen, lelaki itu duduk di depan seorang diri. " Kok tinggal lo sendiri..?"


" Faris lagi nganterin Ana pulang, kalau Devian jemput nyokapnya.. Lea udah sadar?" Gavin mengangguk lalu meminta sahabatnya itu untuk masuk ke ruang rawat Lea.


" Le, kamu baik-baik aja..?" Tanya Galen.


" Aku nggak butuh basa basi kamu, sekarang jelasin semua maksud foto yang kamu kasih tadi." 


Gavin dan Galen saling pandang, mereka tau Lea wanita yang lemah lembut tapi melihat wajah datar tanpa senyum di wajah cantiknya menandakan ibu hamil itu benar- benar marah.


Galen menghembuskan nafasnya, dia duduk di bangku samping ranjang Lea dengan Gavin di seberangnya sambil menggenggam lengan wanita itu.


" Jujur Le, saat tau semua ini.. Aku sama kagetnya kaya kamu, Mom sebenarnya nggak mau cerita tapi karena aku nggak sengaja nemuin buku diary dan ada foto pernikahan mereka akhirnya Mom cerita.. Mom tidak cerita dengan detail akhirnya aku cari sendiri informasinya, aku juga udah ketemu sama Umi."


" Kamu ketemu sama Umi..? Kapan..?"


" Sebelum kalian menikah.." 


Lea menoleh pada Gavin namun lelaki itu mengendikkan bahunya.


" Gavin dan yang lain nggak tau, aku mau pastiin semua baru berani cerita sama kamu.."


" Tapi Abah nggak mungkin menghianati Umi Len.."


" Aku akan ceritain semuanya tapi aku mohon kamu jangan salah paham dulu sebelum ceritanya selesai.." 


" Sayang, kamu harus istirahat.. Kita bobo yuk!" Bujuk Gavin.


" Iya sayang iya.. Maaf, lanjutin Bro.." Ucap Gavin saat melihat tatapan tajam Lea.

__ADS_1


Gavin hanya bisa pasrah menuruti kemauan istrinya, ibu hamil itu menyeramkan saat marah.


Flashback On..


Ivander mendengar suara langkah kaki mendekati posisinya saat ini.


" Kita pergi sekarang.." Ivander beranjak menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.


" Kanaya..!! Kamu mau kemana? Papi belum selesai bicara.." Teriak seorang paruh baya mengejar putrinya.


" Naya nggak mau dengar omongan Papi kalau akhirnya Papi hanya memaksa Naya untuk menikah dengan lelaki itu."


" Ivan.. Jangan berani keluar dari halaman rumah..!!" Ucap pria paruh baya itu.


Kanaya menarik tangan Ivander dan meminta lelaki itu untuk masuk ke dalam mobil.


" Kanaya..! Papi nggak izinin kamu pergi."


Ivander membawa mobil itu keluar dari halaman mengikuti kemauan Nona nya. Mobil terus melaju tanpa arah tujuan.


" Ivan.. Aku harus bagaimana? Papi maksa aku buat nikah dengan lelaki itu."


" Dia itu mesum Van, masa baru kenal udah mau cium aku."


Ivander tidak tau harus bicara apalagi, baginya tak pantas untuk terlalu jauh ikut campur. Dari kaca spion, Ivan bisa melihat mata indah itu mengeluarkan air mata.


" Kamu bawa aku kemana?" Tanya Kanaya saat mobil mereka tiba di parkiran restoran.


" Nona pasti tadi belum sempat makan setelah makan Nona boleh lanjutin lagi marahnya" Kanaya terkekeh mendengar ucapan lelaki itu.


Kanaya menatap supirnya itu, lelaki sederhana yang minim ekspresi. Sejak dia bekerja menjadi supir pribadinya, lelaki itu selalu peka dengan keadaannya.


Kanaya melangkah ke dalam dan memilih private room agar acara makannya tak terganggu dengan yang lain. Gadis itu juga memaksa Ivander untuk ikut bergabung di satu meja dengannya.


" Kamu tidak bosan kan, kalau aku selalu mengeluhkan masalahku..?"


" Tidak Nona.."


" Apa kamu sudah punya pacar?" Lelaki itu mengangguk.

__ADS_1


Kanaya tersenyum, pasti perempuan itu beruntung mendapatkan lelaki seperti supirnya itu.


" Nona, Tuan meminta anda untuk pulang.." Ucap Ivander setelah melihat chat dari Tuannya.


" Biarkan saja, kalau Papi telepon  jangan kamu angkat."


" Tapi Nona nanti Tu.." Ponsel di tangan Ivander berbunyi, lelaki itu menunjukkan layar ponselnya dan nama sang Papi tertera di sana.


Kanaya mengambil ponsel itu dari tangan Ivander lalu mematikkan teleponnya, dia langsung menaruh ponsel itu ke dalam pouch miliknya.


Ivander hanya bisa pasrah melihat ponselnya di sita Kanaya, setelah makan siang Kanaya meminta Ivander untuk pergi ke Mall terdekat. Ivander sudah tau kebiasaan Nonanya kalau sedang bad mood, shopping dan perawatan menjadi pelariannya.


" Nona ini sudah malam, Nona tidak mau pulang?" Tanya Ivander.


Kanaya termenung menatap air mancur yang ada di depannya, gadis itu beberapa kali menghembuskan nafasnya. 


" Ivan.."


" Iya Nona.. Nona mau pulang?" 


Kanaya menatap wajah Ivander, supirnya itu terlihat sangat tampan karena berhasil dia paksa untuk ikut perawatan dan dia make over penampilannya.


" Kalau aku udah punya pasangan pasti Papi nggak akan maksa aku nikah sama lelaki mesum itu."


" Iyaa.. "


" Aku mau nikah.."


" Nikah sama siapa Nona?" 


" Nikah sama kamu.." 


Ucapan Kanaya membuat Ivander terbelalak kaget.


" Ehh, maksudnya gimana Nona?"


TBC…!!


...🌸🌸🌸...

__ADS_1


Terima kasih buat yang masih nungguin.. Terus dukung cerita aku yaa dengan VOTE, LIKE dan KOMEN..


__ADS_2