
Gavin bangun dari duduknya saat merasakan pergerakan tangan Lea, dia dapat melihat mata indah itu terbuka.
" By.." Suara lirih Lea terdengar.
" Sayang, apa yang kamu rasain..?" Ucap Gavin lalu mencium punggung tangan Lea.
" Umi By.. Aku mau ketemu Umi.."
" Iya sayang, nanti kita ketemu Umi ya tapi setelah kondisi kamu membaik.. Aku gak mau kamu sama baby kenapa-kenapa." Gavin menghapus air mata di wajah pucat Lea.
" Umi kasihan di sana sendirian.. Hayu By kita ke sana.." Rengek Lea mengoyang tangan Gavin.
" Nanti yaa sayangnya abang.. Besok kalau kondisi kamu udah membaik abang anter ke tempat Umi.. Abang janji."
" Huwaaaaa.." Lea semakin menangis, suami dan abangnya sama-sama melarangnya pergi.
" Eh..ehh.. Sayang, udah ya jangan nangis terus nanti kamu ngesek.." Ucap Gavin makin panik.
Ceklek…
" Gavin, kamu apaain menantu Bunda..?"
Gavin dan Galen menoleh, melihat Bunda dan Mommy masuk dengan tatapan tajamnya.
" Galen, adek kamu jangan di godain mulu kenapa sih?" Mommy langsung memukul badan Galen dengan tas yang dia pegang.
" Aduh, Mom.. Galen gak nakalin adek, tanya aja sama Gavin.. Ya kan bro?"
__ADS_1
" Abang jahat Mom, Lea gak boleh ketemu sama Umi.. Hubby juga Bun."
Gavin dan Galen mendekat kearah Bunda dan Mommy, mereka menjelaskan kenapa Lea bisa menangis. Mereka tidak mau kena pukulan tas kedua wanita paruh baya itu.
Bunda dan Mommy menghembuskan nafasnya, di satu sisi dia tidak mau Lea menangis karena kepikiran Umi tapi mereka juga khawatir dengan keadaan bumil itu.
Gavin dan Galen memberikan ruang agar Lea bisa di ajak bicara, setidaknya tunggu sampai besok baru mereka berangkat ke kampung Lea.
" Ini aku gak bisa di lepas dulu sayang? Aku susah gerak.." Protes Clarissa karena Devian memeluknya saat gadis itu sibuk dengan masakannya.
" Gak mau.." Lelaki itu semakin erat memeluk perut ramping gadisnya.
" Aku gak jadi pergi nemenin kamu ya kalau gini.." Ancam Clarissa membuat Devian langsung melepas pelukannya.
" Beraninya ngancem kamu Yang.." Devian akhirnya duduk di bangku pantry sambil melihat Clarissa memasak.
" Bengong aja, hayo pasti mikir jorok.."
Devian berdecak lalu menarik tubuh body goal Clarissa dan memeluknya. " Iya aku lagi mikir nanti gaya apa aja pas kita honeymoon.."
Clarissa mendelik lalu memukul lengan Devian, " Dih, siapa juga yang mau honeymoon di ajak nikah aja nggak ya?"
" Okay, habis ini kita langsung ke KUA.."
" Sembarangan..!" Devian terkekeh, dia dengan brutal menciumi pipi Clarissa karena gemas dengan gadisnya itu.
Faris datang dengan nampan berisi makan siang dan menghampiri Ana yang tampak sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
" Sibuk banget sih sama hape nya dari tadi..? Aku cemburu lho.."
Ana berdecak, " Sama hape aja cemburu.. Nanti mau gak nemenin aku ke kosannya Adam? Dia udah hampir seminggu ini gak ada kabar.. Biasanya dia selalu fast respon kalau aku chat ini chat aku cuma centang satu."
Faris tau kedekatan Ana dengan Adam, lelaki yang tidak bisa dia cemburui karena persahabatan mereka yang sudah lama, lelaki itu juga dekat dengan Lea. Sejauh ini Gavin tidak bertindak apapun berarti dia juga santai saja.
" Malah bengong.. Gimana? Kamu ada kesibukan gak?"
" Bisa sayang, aku temenin ke sana.. Sekarang kamu makan dulu, aku udah pesan banyak."
" Kalau pesan makan suka gak kira-kira ih, kamu sengaja ya mau buat aku gendut terus nanti kamu cari cewek lain."
Faris menyentil dahi Ana dengan gemas, " Gak usah overthinking baby, kamu itu terlalu kurus.. Jadi tunangan aku, kamu harus selalu senang termasuk bebas makan apapun kesukaan kamu tanpa ada kata 'tapi'.."
" Cepet makan jangan di liatin aja sayang, ini makan gak akan pindah sendiri ke mulut kamu."
" Sini aku bisikin, dekatan lagi.." Faris mengernyit namun tetap menuruti kemauan gadis itu.
" Kamu sekarang bawellll banget.."
Ana tidak bisa menahan ketawanya saat melihat wajah marah Faris. " Love you sayang.."
" Love you to baby.."
Keduanya tidak sadar kalau sedang berada di tempat umum dimana banyak pasang mata yang melihat ke'uwu'an mereka dan mengabaikan chat yang masuk di hape Ana.
TBC..!!
__ADS_1