PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 53


__ADS_3

" Morning sayang.." Suara Gavin terdengar saat telepon Lea di angkat oleh suaminya itu.


" By, kamu lagi ngapain?" 


" Ini aku lagi siap-siap ke kantor.. Kamu lagi apa?"


Wajah Lea memang belum terlihat karena dia baru saja selesai mandi. 


" Sayangg…!! Kamu mau godain aku yaa..?"


Gavin melihat Lea muncul hanya mengenakan pakaian dalam saja dan itu terlihat seksi di mata Gavin.


" Aku nggak godain, ini mau pakai baju.. Oiya aku boleh ke kosan Ana..?"


" Boleh sayang, tapi di temani oleh Trisa.."


" Iya, pulangnya aku juga mau ke cafe beli cake buat Bunda sama Umi."


" Iya sayang, hati-hati.. Jangan lupa sarapan dulu dan terus kabarin aku ya."


" Siap By, kamu juga semangat kerjanya biar cepat pulang."


Gavin dapat melihat mata Lea yang berkaca-kaca, " Aku kangen By.."


" Aku juga kangen kamu sayang.. Yasudah, aku kerja dulu ya, Zio pasti sudah nunggu.. Bye sayang."


Lea mengangguk, " Iya By.."


Gavin harus segera mengakhiri teleponnya karena dia semakin berat saat melihat wajah sedih istrinya itu. Sejak menikah baru kali ini Gavin harus meninggalkan Lea karena biasanya semua bisa di handle oleh Zio, dia cukup melakukan meeting virtual namun saat ini keberadaannya mengharuskan dia berada di sana.


Mobil yang di kendarai oleh supir sudah berhenti di depan kosan Ana. Trisa membantu Lea keluar dari mobil lalu masuk ke dalam.


" Lea, Trisa mau minum apa?"


" Teh hangat aja An, aku bawain kamu lupis buatan Umi."


" Saya samakan saja dengan Nona." 


" Wah, Umi tau aja itu makanan kesukaan gue.."


" Tris, pinjem hape kamu.. Sekalian tolong cas hape aku yaa."


Trisa memberikan ponselnya lalu mengambil ponsel Lea dan cas di tas Nonanya itu.


Sampai dering kedua telepon Lea belum di angkat oleh Gavin, dia lalu menghubungi nomor ponsel Arik.


Darinya Lea tau kalau Gavin masih meeting dengan rekan kerjanya. Dia lalu mengembalikan ponsel milik Trisa.


Bumil itu mengambil kotak makan yang tadi dia bawa. Rasa lapar yang suka datang tiba-tiba membuatkan selalu membawa bekal agar bisa langsung dia makan.


" Kabar Bunda sama Anto gimana An..?"


" Alhamdulillah baik Le, semalam gue habis teleponan.. Anto bilang kalau Ayah sudah lima hari pergi dan selama dia pergi tidak ada yang datang ke rumah untuk mencarinya."


" Bunda masih nolak buat tinggal di sini sama kamu..?" Ana mengangguk.


" Dia masih berat buat ninggalin rumah peninggalan nenek, lagipula sekolah Anto juga sayang kalau di tinggalin.. Tahun ini udah kelulusan dia."


Lea mengangguk-angguk, " Oiya Adam mau mampir belum berangkat kuliah.." Ucapan Ana membuat Lea tersenyum.


" Bilang Adam mampir ke warung mang Ukat, pesenin kaya biasa."

__ADS_1


" Etdah bumil, lo bukannya baru makan?"


" Udah kamu pesenin dulu nanti keburu Adam jalan."


Ana hanya bisa pasrah menuruti kemauan sahabatnya itu, dia memutuskan melakukan panggilan agar Adam bisa tau kemauan Lea.


Seorang gadis cantik dengan tangan menarik koper berwarna soft pink di ikuti dengan asisten yang berjalan di belakangnya. Mereka baru saja tiba di bandara Soekarno Hatta, dia rencana akan bertolak kembali ke Surabaya namun sebelumnya dia akan menemui seseorang.


" Kita langsung ke kantor Devian.." Meri sang asisten hanya menjawab dengan anggukan.


Mobil yang sudah menunggu di pintu kedatangan langsung melaju menuju tempat yang sudah di infokan Clarissa.


Setibanya di kantor Devian, Clarissa berjalan masuk ke dalam dan masuk ke lift khusus direksi. Wajah yang cukup familiar membuatnya banyak di kenali oleh para karyawan.


Ceklek.. 


Gadis itu membuka pintu ruangan Devian dan melihat lelaki tampan itu sedang fokus dengan laptopnya.


" Sayang, kamu kapan datang..?" Devian bangun dari duduknya setelah tau yang datang adalah kekasihnya.


" Miss you.." Ucapnya memeluk tubuh langsing gadisnya itu.


" Aku mau ke pantry, kamu mau aku buatin apa?" Meri memutuskan meninggalkan keduanya.


" Apa saja.." Jawab Clarissa singkat.


Devian dapat melihat wajah lelah kekasihnya itu, Clarissa terlalu memporsir tubuhnya.


" Kamu lelah..?" Clarissa mengangguk dengan mata terpejam, dia menyandarkan punggungnya di sofa.


" Aku akan meminta Meri untuk mengurangi kegiatanmu.."


" Tidak bisa Dev, semua udah ada kontrak kerjanya jadi tidak bisa sembarangan untuk di batalkan."


" Kamu mendoakan aku sakit..?"


" Bukan seperti itu.." 


Devian menggelengkan kepalanya, gadisnya selalu sensitif kalau sudah membahas pekerjaannya.


" Nanti sore ikut aku ke Surabaya yaa..?" Devian mengernyit.


" Kamu baru tiba kenapa sudah mau pergi lagi ehm.."


Clarissa menatap wajah tampan di depannya, lelaki yang baru seminggu ini menjadi kekasihnya. Entah keputusannya benar atau tidak menerima Devian sebagai kekasihnya.


" Ada acara yang harus aku datangi dan aku ingin kamu temani.."


Devian menghembuskan nafasnya, " Kamu tidak usah datang saja.."


" Kok gitu..?! Yasudah kalau kamu tidak mau ikut, aku pergi saja sama Meri." Clarissa kembali memejamkan matanya.


" Okay, aku ikut kamu ke Surabaya.." Lagi, dia harus mengalah.. Kemauan gadis itu selalu tidak bisa di tolaknya.


Devian langsung menghubungi sekretarisnya untuk reschedule jadwalnya.


...❄❄❄...


Lea masih berada di kosan Ana, Adam juga baru saja tiba. Cowok itu membawa pesanan bumil tak lupa untuk Ana dan Trisa.


" Kerjaan kamu di Galeri gimana An..?"

__ADS_1


" Alhmdulillah Le, sejauh ini  gue nikmatin.. Mas Faris dan para crew sangat baik, mereka tidak pelit ilmu buat ngajarin gue."


" Terus hubungan sama Faris sudah ada kemajuan?" Ana mengernyit, dia menatap wajah Lea.


" Aku tanya An, kan penasaran.." Kekeh Lea.


" Temen lo payah Le, masih gerak di tempat aja."


" Kalian kan tau gimana keadaannya.."


" Lo harus jujur sama perasaan lo An, gue sama Lea dukung apapun keputusan lo tapi coba sekarang lo pikirin juga kebahagian lo." Ucapan Adam membuat Lea mengangguk setuju.


" Kalian harus ngomong berdua An, kamu dan Faris harus saling terbuka biar sama-sama enak.."


" Nanti deh, kalau mas Faris udah balik dari luar kota gue ajak dia buat ngomong berdua."


" Oh, Faris lagi nggak di Jakarta.." Ana mengangguk.


Trisa tiba-tiba menginterupsi obrolan ketiganya, dia memberikan ponselnya saat nama Gavin tertera di layar ponsel.


" Assalamu'alaikum By.." Sapa Lea saat mengangkat telepon Gavin.


" Sayang, maaf aku tadi lagi meeting.. Ini baru aja selesai."


" Iya, tadi Arik sudah kasih tau.. Oiya hape aku lagi di cas jadi nanti kamu hubungi ponsel Trisa aja."


" Pantes aku telepon kamu nggak bisa, yaudah aku lanjut kerja lagi ya.. Kalau sore udah kelar, aku bisa langsung pulang."


" Beneran..? Jangan bohong yaa.." Pekik Lea senang membuat tiga pasang mata itu saling tatap.


" Iya sayang, aku lanjut kerja dulu ya.. Nanti kabarin kalau udah pulang.. Bye sayang."


" Bye By.. Semangat kerjanya."


Lea memberikan kembali ponsel itu pada Trisa, wajah senang Lea masih terlihat.


" Kenapa? Seneng banget kayanya.."


Lea mengangguk, " Iya dong.. Gavin bilang kalau kerjaannya udah selesai dia bisa pulang hari ini."


" Dasar bucin.. Gak bisa berjauhan." Cibir Ana membuat Adam dan Trisa terkekeh.


" Ish, aku doain nanti kamu kaya gitu juga An."


" Nona, saya boleh izin ke mini market depan?" Ucapan Trisa membuat Lea menoleh.


Lea mengangguk, dia memberikan izinnya lalu menatap tajam kearah Adam yang memasang wajah tak bersalahnya.


" Kenapa liatin gue kaya gitu..?" Ucap Adam kearah Lea, bumil itu tersenyum smirk padanya.


" Kamu naksir sama Trisa…?" Tubuh Adam menegang, Lea terkekeh melihat respon sahabatnya itu.


" An, kamu jangan kalah sama Adam.. Nanti bisa duluan dia yang official." Kekeh Lea.


" Ucapan Lea bener Dam..?" Tanya Ana.


" Apaan sih kalian? Bisa banget mojokin gue." 


Wajah bersemu dari cowok itu membuat Lea dan Ana tidak dapat menahan ketawanya.


Adam hanya bisa mendengus pasrah menjadi bahan ledekan keduanya.

__ADS_1


TBC..!! 🌸


Dukung terus cerita aku... Jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMEN..💜


__ADS_2