
" Gue juga punya kabar yang ingin gue sampaiin ke kalian, khususnya lo Vin.." ucapan Galen membuat ketiganya mengernyit terutama Gavin.
" Kabar apa..?" Tanya Gavin.
" Lo selesain dulu urusan Clarissa, nanti baru gue kasih tau." Jawab Galen.
" Kenapa nggak sekarang aja..?" Cecar Gavin tidak sabar.
" Kalem bro.. Gue nggak mau kasih tau sekarang, kalau perlu ajak Lea biar dia bisa dengar juga."
" Eh, kenapa bini gue di bawa-bawa..?"
Galen terkekeh, " Udah, lo tenang aja.. Sekarang lo kasih tau rencana lo buat bales Clarissa.."
" Emang kampret temen lo.. Sok main rahasia." Celetuk Faris.
" Gue demen bikin Gavin emosi kaya gitu.." Kekeh Galen.
Gavin mulai menceritakan rencananya, dia ingin Clarissa bisa berhenti mengganggu Lea. Dia khawatir dengan keselamatan istri dan anaknya jadi dia berharap rencana bisa di jalankan dengan baik.
" Tugas kalian cuma satu pastiin dia datang ke tempat itu.. Gue mau cabut sekarang, nyonya gue udah WA ngajakin pergi.. Bye para jomblo." Kekeh Gavin langsung keluar dari ruang private.
" Gavin sialan..!!" Umpat ketiganya.
***
Saat ini Bunda dan Lea sedang berada di mall, Bunda menuruti keinginan menantunya yang ingin makan ramen.
" Gavin sudah kamu chat..? Kita tunggu di restorannya aja."
" Iya Bun, Gavin bilang dia udah di jalan."
Lea, Bunda dan Trisa sudah ada di restoran khas Jepang, setelah mendapatkan duduk Bunda langsung memesan. Posisi duduk mereka berada di paling pojok restoran agar tidak terganggu dengan pengunjung lain.
" Bun, Lea mau ke toilet dulu ya.."
" Iya sayang, mau Bunda atau Trisa temenin..?"
" Nggak usah Bunda, Lea nggak lama kok.."
Bunda mengangguk dan membiarkan menantunya itu pergi ke toilet yang berada di samping restoran.
" Lea dimana Bun..?" Ucap Gavin saat tiba di restoran.
__ADS_1
" Lagi ke toilet, baru aja keluar."
Gavin kembali keluar restoran untuk menyusul Lea, dan menunggu di depan lorong.
" Lea.." Ucap seseorang saat Lea keluar dari bilik toilet.
" Ana.."
" Jadi bener ini lo Le.. Ya ampun lo makin cantik aja."
" Bisa aja kamu.." Kekeh Lea.
" Gue sama Adam coba kontak lo tapi nggak bisa, lo ganti nomor?"
Lea mengangguk, " Iya.. Nomor hape aku udah ganti, bentar." Lea mengeluarkan ponselnya.
" Nomor kamu mana biar aku save.."
" Kita ngobrol di luar yuk.. Adam kayanya udah nungguin di depan."
Lea dan Ana keluar dari toilet, di sana sudah menunggu Gavin dan Adam..
" Sayang..Lea.." Ucap keduanya. Gavin dan Adam saling tatap.
" Dari tadi.." Gavin mengecup pipi Lea.
Interaksi keduanya tidak lepas dari pandangan Ana dan Adam.
" Kamu kenal mereka..?" Tanya Gavin.
" Oh iya, ini teman kuliah aku.. Ana sama Adam."
" Gavin.." Gavin menjulurkan tangannya.
" Ana.. Adam.." Balas keduanya.
" Kalian abis ini mau kemana?" Tanya Lea.
" Kita mau makan.." Jawab Adam.
" Mau gabung sama aku..? Boleh sayang?" Ucap Lea menoleh pada Gavin.
Gavin mengangguk, Ana dan Adam saling pandang lalu ikut mengangguk. Mereka masuk ke dalam restoran dimana Bunda dan Trisa berada.
__ADS_1
" Sayang, kenapa lama?" Tanya Bunda.
" Maaf Bunda tadi ketemu sama teman kampus terus Lea ajak buat makan bareng." Jawab Lea.
Bunda melihat Ana dan Adam yang ada di belakang Gavin. Keduanya di minta duduk dan memesan makanan.
Semuanya fokus dengan makanan masing-masing sambil di selingi obrolan Lea dan kedua temannya, Bunda dan Gavin juga sesekali ikut mengomentari obrolan ketiganya.
Mobil yang di kendarai oleh Gavin dan Trisa sudah berhenti di carport rumah, setelah selesai makan Bunda mengajak Lea ke butik untuk membeli gaun dan Jas untuk Gavin dan Lea. Minggu depan perusahaan yang di dirikan oleh Gavin akan berulang tahun yang ke 5.
" Sayang, air hangatnya udah aku siapin.. Kamu bersih-bersih duluan aja." Ucap Lea sebelum masuk ke dalam walk in closet.
" Kenapa nggak mandi bareng aja sih..?" Keluh Gavin sambil membuka bajunya.
" Nggak sekarang, aku lagi nggak mood." Ucap Lea, ibu hamil itu sudah mengganti bajunya dengan daster.
" Kamu masih kesel sama aku Yang..?"
Melihat Lea tidak menjawab ucapannya malah asik membuka chat di hape nya membuat Gavin tidak jadi masuk kamar mandi.
" Aku nggak suka sama tatapan Adam ke kamu, aku bisa tebak kalau dia suka sama kamu sayang."
" Dia emang suka sama aku dari awal masuk kuliah.." Ucapan Lea membuat Gavin membelalakan matanya.
" Tuh akan benar feeling aku.."
" Duduk sini.." Ucap Lea.
Gavin duduk di samping Lea dan menatap wajah cantik istrinya.
" Kamu nggak perlu cemburu sama Adam, dari awal aku udah bilang sama dia kalau perasaan dia nggak bisa aku bales, apalagi sekarang aku udah sama kamu."
" Kamu cemburu bukan karena kalah ganteng kan sama Adam..?"
" Aku udah senang lho malah kamu ledek.. Pemenangnya tetap aku karena udah berhasil dapetin kamu, berarti dia kurang ganteng."
" Ish mulai deh narsisnya tapi emang benar sih.." Kekeh Lea.
" Pokoknya kamu cuma milik aku, orang lain nggak boleh.." Ucap Gavin sambil memeluk Lea.
" Siapa juga yang mau ambil ibu hamil sementara di luar sana masih banyak cewek cantik.. Ini jadinya nggak mandi? Nanti malem nggak usah kelon ya.." Gavin langsung beranjak ke kamar mandi, lebih baik dia cari aman daripada nggak bisa peluk istrinya malam nanti.
Lea terkekeh melihat tingkah suaminya itu, suaminya itu pencemburu dan Lea cukup menenangkan hatinya karena cemburu dalam hubungan itu wajar karena rasa sayang terhadap pasangan namun mengendalikan rasa cemburu itu agar tidak menjadi kecemasan adalah tugas pasangan itu sendiri.. Lea ingin pernikahannya dengan Gavin bisa saling mengingatkan satu sama lain seperti saat ini.
__ADS_1
TBC.. !!