
Setelah kepulangan Umi, Lea kembali sibuk dengan kegiatan dirumah salah satunya mengurus keperluan Gavin. Lea mengabaikan larangan suaminya itu untuk tidak banyak aktifitas seperti saat ini Lea baru saja selesai membuat sarapan, sedangkan suaminya masih bergelung dengan selimut. Setelah semalam melepas rindu, Gavin belum juga membuka matanya.
" By, bangun.. Kamu nggak berangkat ke kantor..?"
Gavin bergerak memeluk pinggang Lea dengan posisi wajah menghadap perut buncit Lea.
"By..!!" Pekik Lea saat menggigit gemas pahanya.
Lea spontan memukus lengan kekar suaminya itu, " Aku nyuruh kamu bangun yaa By, kenapa jadi di gigit..?!"
Gavin tidak merespon, lelaki itu semakin memeluk pinggang Lea.
" Aku hitung sampai tiga, kalau nggak bangun jangan harap bisa nengok baby lagi yaa..?" Mendengar ancaman Lea membuat Gavin langsung bangun dari tidurnya.
" Jangan dong sayang, nanti kalau aku kangen sama baby gimana?" Lea mendengus.
" Aku tunggu di ruang makan, kalau lama ancaman aku beneran aku jalanin ya per hari ini."
Gavin bergegas turun dari tempat tidur hanya menggunakan boxer hitamnya. Lea hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya itu berbanding terbalik saat di luar rumah.
Lea keluar dari kamar setelah menyiapkan baju kerja untuk suaminya. Dia melangkah menuju lift untuk turun ke bawah.
" Semua makanan sudah siap Nona.." Ucap Trisa saat Lea tiba di ruang makan.
Lea mengangguk lalu duduk di bangku sambil melihat ponsel pintarnya. Tak lama terdengar langkah kaki, Lea sudah tau itu pasti Gavin. Setelah Umi pulang mereka kembali makan berdua karena Trisa dan Arik lebih suka makan dengan pelayan yang lain.
Cup..
" Kamu yang masak semua ini sayang..?" Lea mengangguk membuat Gavin menghela nafasnya. Dia sudah menyiapkan maid khusus di dapur dan istrinya itu masih kekeh untuk memasak.
" Jangan marah By.. Nanti ada waktunya aku akan fokus dengan anak kita, lagi pula aku hamil bukan pesakitan yang harus banyak istirahat, olahraga ringan juga di perlukan."
" Nanti ada waktunya kamu olahraga bareng sama aku sayang.."
" Ish, itumah mau nya kamu.."
Gavin terkekeh, ternyata istrinya paham dengan ucapannya itu. Mereka memulai sarapan dengan sesekali di selingi obrolan ringan.
" By, nanti aku boleh datang ke ulang tahun bos Fajar..?"
__ADS_1
" Jam berapa? Terus acaranya dimana?"
" Jam 3 sore.. di cafe pelangi tempat aku kerja dulu."
" Kamu pergi di temani Trisa, kalau kerjaan aku udah selesai nanti aku susul ke sana ya."
Lea mengangguk dan tersenyum senang, " Ana sama Adam juga ikut By, jadi nggak usah khawatir aku banyak yang jagain."
" Iya sayang, aku hanya ingin kamu sama baby tetap aman.."
Mobil yang di kendarai oleh supir sudah berjalan keluar halaman rumah, Lea kembali masuk ke dalam dan berbelok ke Galerinya.
...❄❄❄...
Tring..
Lea melihat ada chat yang masuk dari Ana, mereka rencananya akan berangkat bersama nanti jadi motor Adam akan di tinggal di rumah Lea sedangkan mereka pergi menggunakan mobil.
Sementara itu, Clarissa baru saja selesai pemotretan. Dia sengaja memadatkan jadwalnya agar bisa memiliki libur beberapa hari. Hubungannya dengan Devian tidak mengalami kemajuan, sejak pertemuan terakhir mereka lelaki itu belum menghubunginya kembali.
" Mer, Devian tidak kirim chat ke lo..?"
Clarissa berdecak, " Dia kayanya belum maafin gue yaa, baru kali ini marahnya lama banget.."
" Salah kau sendiri.. Dia beneran pergi baru tau rasa kau."
" Meryyyy..!! Lo bukannya nenangin gue malah bikin emosi.."
" Gue udah bilang sama kau yaa Cla, lupain obsesi kau ke Gavin.. Dia udah jadi laki orang, sedangkan kau sendiri udah punya pacar juga.. Kurang baik apa Devian sama kau Cla..? Kau mau cari lelaki macam mana lagi..?"
" Jadwal gue hari ini udah selesai kan? Gue mau cabut dulu.." Clarissa beranjak menuju ruang ganti, rencananya hari ini dia ingin mendatangi Devian lagi dan berharap hubungan mereka bisa kembali baik.
" Ingat, jangan buat ulah lagi kau.. Senang sekali buat kepala ku mau pecah.."
Setelah siap Clarissa melajukan mobilnya keluar parkiran menuju kantor Devian. Entah kenapa hatinya sedikit tidak tenang tapi dia berusaha tidak over thinking.
Akhirnya mobil yang di kendarai Clarissa sudah terparkir di parkiran para direksi sesuai permintaan Devian saat dia berkunjung ke kantor.
Clarissa berjalan anggun menuju lift, beberapa karyawan yang mengenal gadis itu sempat ada yang berbisik namun Clarissa tidak memperdulikannya.
__ADS_1
" Kamu siapa?" Ucap Clarissa saat tiba di depan ruangan Devian, seharusnya yang duduk di sana adalah Ostin sekretaris sekaligus asisten pacarnya.
" Siang Nona.. Saya Anis, hari ini saya sementara menggantikan Pak Ostin."
" Memang Ostin kemana? Apa Devian ada di dalam?"
" Bos sama Pak Ostin baru saja keluar kantor Nona, rencananya akan bertolak ke Singapore."
Clarissa terkesiap, Devian akan pergi tapi lelaki itu tidak pamit padanya.. Apa memang keberadaannya sudah tak penting lagi buatnya? Tanpa banyak bicara lagi Clarissa berjalan cepat menuju lift, dia langsung melajukan mobilnya menuju bandara. Entah kenapa dia tidak ingin Devian pergi padahal lelaki itu sudah sering berpergian keluar kota bahkan keluar negeri untuk urusan pekerjaan. Jalanan yang sedikit padat membuat Clarissa harus mengumpat.
Akhirnya mobil yang di kendarai oleh Clarissa tiba di bandara, dia bergegas masuk untuk memastikan posisi Devian.
Dengan langkah setengah berlari, Clarissa melihat kanan kiri. Tidak dia pedulikan lagi penampilannya yang ada di pikirannya saat ini bisa segera menemukan Devian di tengah banyaknya orang di bandara.
" Devian..!!" Teriak Clarissa saat melihat lelaki itu.
Devian yang merasa di panggil menolah dan melihat Clarissa yang sedang berlari kearahnya.
Brukk
Clarissa melompat kegendongan Devian, untung saja dia peka jadi gadis itu tidak akan terjatuh.
" Kamu mau kemana? Kenapa nggak pamit kaya biasanya? Kamu masih marah sama aku?"
" Aku nggak marah.. Turun yuk, kamu nggak malu di liatin banyak orang?" Clarissa menggeleng.
" Jangan pergi.. Di sini aja temenin aku.
" Kenapa aku nggak boleh pergi? Aku kan udah biasa keluar kota bahkan keluar negeri buat urusan kantor."
Clarissa masih terdiam di pelukan Devian, dia ingin egois saat ini. Banyak hal yang harus mereka bicarakan khususnya tentang hubungan mereka.
Devian mencoba melepas pelukan Clarissa, bukan karena pegal di tangannya juga karena interaksi mereka sudah jadi tontonan orang.
Entah kenapa Devian merasa Clarissa jadi manja padanya, apa mungkin setelah pertengkaran mereka waktu itu membuat hati gadis itu terbuka dengan perasaan yang dia berikan? Devian hanya bisa bergumam dalam hati sambil sesekali mengusap punggung gadisnya.
...❄❄❄...
TBC..!!
__ADS_1
Maaf baru sempet update, jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMEN yaa...💕