PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 49


__ADS_3

Faris tetap fokus ke depan tidak peduli dengan rengekan yang keluar dari mulut Ana. Rasa cemasnya belum bisa menghilang sejak melihat darah mengalir dari hidung gadis itu.


" Mas, Ana baik-baik saja.."


Lelaki itu tetap tidak menjawab ucapan Ana, setelah tiba di parkiran rumah sakit Faris langsung menggendong Ana tanpa memperdulikan pekikan gadis itu.


Faris menunggu dibangku depan UGD selama Ana di tangani oleh dokter tanpa sadar dia menggumamkan doa untuk Ana.


" Dengan keluarga pasien..?"


" Saya kerabatnya Dok.. Gimana kondisi Ana?"


" Tidak ada yang perlu di khawatirkan meskipun mimisannya sudah berhenti, saya sarankan teman anda di rawat dua hari di sini."


" Baik Dokter, terima kasih untuk bantuan dan informasinya.."


Ana sudah di pindahkan ke ruang rawat inap, gadis itu merajuk karena harus di rawat di rumah sakit. 


" Mas, Ana mau pulang.. Ana juga baik-baik aja."


" Dokter minta kamu buat di rawat dua hari Ana.."


" Ana bisa istirahat di kosan Mas, nggak harus di sini."


" Di sini kondisi kamu bisa di kontrol sama Dokter jadi aku minta nurut."


" Mas Faris tidak harus melakukan ini.. Ana sudah biasa kalau kecapean pasti mimisan."


Faris terdiam mendengar ucapan Ana.. Gadis dengan sikap tertutupnya membuat Faris harus berusaha lebih untuk mendekatinya.


" Maka dari itu kamu harus istirahat biar kondisi kamu pulih."


" Apa tujuan Mas Faris..?"

__ADS_1


" Maksudnya gimana?"


" Mas Faris gak ada niat terselubung kan?"


Faris terkekeh mendengar ucapan gadis itu, dia sangat mengerti maksudnya dan tidak tersinggung sedikitpun.


" Aku emang ada niat terselubung kok.."


Ana mendelik membuat tawa Faris semakin kencang. 


" Muka kamu gemesin banget sih.."


" Ana mau pulang aja.." Ucap Ana hendak turun dari ranjangnya.


Faris langsung menahan tubuh Ana, posisi awkward membuat keduanya terdiam. Faris menjauhkan badannya dari Ana dan duduk kembali di kursi samping ranjang Ana.


" Lebih baik kamu istirahat, besok tanya sama Dokter kondisi kamu jika istirahat di kosan."


Ana hanya bisa pasrah menuruti kemauan lelaki itu. Ana hanya tak ingin semua menjadi bumerang baginya, perhatian yang Faris berikan pasti membuat hatinya dilema.


Setelah Faris pergi, Ana kembali merebahkan dirinya. Dia tau fisik tubuhnya sudah mulai lemah, banyak hal yang dia pikirkan terutama Bunda dan adiknya, dia harus pastikan mereka tidak kekurangan sedikitpun. Geram rasanya kalau mengingat semua perlakuan sang Ayah pada mereka.


Di ruang rawat Lea..


Pagi tadi Mommy Galen datang untuk menjenguk Lea, wanita paruh baya yang tetap cantik di usinya itu sedang menyuapi Lea.


" Lea udah kenyang m..om." ucap Lea gugup.


" Sedikit lagi ya sayang, kalian kan butuh banyak nutrisi biar baby bisa tumbuh sehat."


Lea menggeleng membuat Mommy harus meletakkan piringnya lalu memberikan Lea minum.


" Sayang.." Panggilnya pada Gavin membuat lelaki itu bangun dari duduknya.

__ADS_1


Lea membisikan sesuatu membuat Gavin terkekeh lalu dengan sekali gerakan menggendong Lea menuju kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi, ponsel milik Gavin berbunyi. Nama Zio terpapang di layar, dia mengangkat telepon itu dengan sedikit menjauh.


" Sayang, aku harus ke kantor sekarang.. ada pertemuan dengan rekan bisnis yang gak bisa di wakilkan oleh Zio."


" Iya sayang.. Sana pergi, aku di sini sendiri gapapa."


" Mommy akan temani kamu sayang, Gavin nggak usah khawatir.. Lea Mom yang jaga." ucap Mom pada Gavin.


Gavin dan Lea saling tatap lalu Gavin mengangguk dan mencium kening Lea.


Ruang rawat Lea terasa sepi, kecanggungan tidak dapat di elakkan. Tadi saat ada Gavin, Lea masih bisa menyesuaikan sikapnya pada Mom namun saat ini hanya ada mereka berdua.


" Mom senang bisa bertemu kamu Lea.." Ucapan Mom memecah kesunyian di antara keduanya.


" Kamu sudah tau semua soal kisah Mom dan Abah kamu?" Lea mengangguk.


" Lea baru tau kemarin, ini salah satu alasan Lea bisa berada di sini."


" Itu pasti ngagetin kamu yaa.. Bukan cerita indah yang harus di bagi tapi Mom pikir kamu berhak tau.. Satu yang Mom sesali setelah menikah sama Ivan adalah kehadiran Mom di antara mereka dan Mom terlambat mengetahuinya."


" Semua sudah terjadi Mom, kisah kalian sudah jadi takdir Tuhan.. Mom jangan terus merasa bersalah, Umi juga sudah bisa menerima ini semua karena selama ini Umi tak pernah mengungkitnya baik saat Abah masih hidup atau sampai Abah sudah nggak ada."


Mata Mom berkaca-kaca, ketakutannya sedikit berkurang berganti perasaan lega. Yaa, semua sudah menjadi kisah yang akan tetap ada namun tak perlu di hapus atau di buang karena tidak semua cerita memiliki sisi buruk.


" Makasih sayang, Mom tau kamu masih canggung tapi Mom harap Mom bisa di terima dan di sayang seperti kamu sayang pada Umi."


" Iya Mom.." Hanya itu yang bisa Lea ucapkan. Berlapang dada menerima semua mungkin ini yang terbaik, sama seperti Umi yang tabah menerima dan menjalani semua dengan baik, dia juga pasti bisa.


Lea dan Mom larut dalam obrolan seru yang membuat mereka melepaskan rasa canggung, Mom dengan antusias mendengar cerita Lea, terkadang dia terkekeh melihat sikap Lea yang sangat ekspresif saat cerita. Lea memang cocok untuk Gavin yang pendiam dan terkesan dingin.


TBC..!!

__ADS_1


Maaf lama gak Up.. aku usahain hari ini double up..


Terus dukung cerita aku, jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMEN..


__ADS_2