
Surat lamaran dan data diri sudah terkirim, saat ini Ana bersiap untuk berangkat kuliah. Dia berharap rezeki berpihak padanya jadi dia tidak bingung jika keluarganya sedang ada kebutuhan.
Semalam Lea mengirimkan chat bahwa dia di minta menyiapkan surat lamaran agar bisa di berikan ke temannya. Tanpa pikir panjang, Ana langsung membuka file berisi surat lamaran dan data diri yang tersimpan di ponselnya.
Ana mengernyit melihat Adam di depan gang kosannya, " Ngapain lo di sini Dam..?"
" Jemput lo.." Cengir Adam.
" Gue kan bilang nggak usah jemput, gue bisa naik bus.."
Adam mengulurkan helm pada Ana membuat Ana menghembuskan nafasnya lalu pasrah naik ke motor Adam.
Adam tersenyum melihat Ana pasrah naik ke motornya, dia memang sengaja menjemput gadis itu agar mereka bisa berangkat ke kampus bersama.
Lea sudah menceritakan kondisi sahabatnya itu jadi sebisa mungkin dia akan menyempatkan waktu untuk mengantar jemput Ana.
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit akhirnya mereka tiba di parkiran kampus, Adam meminta Ana untuk masuk duluan ke dalam karena dia tau jam mata kuliahnya sudah akan di mulai.
" Makasih gembul, gue masuk duluan ya.."
" Sama-sama rabit.."
Adam menatap kepergian Ana dengan tersenyum lalu beranjak menuju fakultasnya.
Faris menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruang kerjanya, semangatnya tiba-tiba menguap setelah tak sengaja melihat Ana di bonceng oleh Adam. Tadi saat mobilnya melintas di depan gang kosan Ana, dia melihat Adam mengulurkan helm untuk gadis itu.
Tring..
Faris melihat ada email yang masuk, dia pun membuka email tersebut dan dia langsung membelalakan matanya ternyata email tersebut berisi data pribadi milik seseorang yang baru saja dia pikirkan.
Dia langsung menghubungi Gavin untuk memastikan kebenarannya. Faris menghembuskan nafasnya setelah telepon di putuskan semua seperti alur yang di atur Tuhan, orang yang ingin dia ajak menjadi kru di galerinya adalah temannya Lea.
__ADS_1
Faris membuka kembali data diri itu, ada foto profil di pojok atas dan wajah itu benar Ana, gadis yang sudah berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Jika Faris saat ini dengan keterkejutannya, lain dengan Gavin, calon Papa itu sedang menikmati kemanjaan sang istri. Sejak terbangun dari tidurnya Lea tidak mau di tinggal oleh Gavin. Lelaki itu pasrah mengikuti rapat sambil memangku istrinya.
Gavin terus mengusap punggung Lea,meskipun sedikit terganggu dengan posisinya memangku Lea namun tidak menyulitkan Gavin untuk fokus memimpin rapat. Istrinya sedang hamil di tambah kondisi tubuhnya kurang sehat jadi manjanya Lea masih wajar untuk Gavin.
" Bunda.." Ucap Gavin saat melihat kedatangan Bunda.
" Kamu kenapa masih di rumah?" Tanya Bunda.
" Lea lagi kurang sehat Bun, subuh tadi Lea mual muntah lagi." Jawab Gavin.
" Menantu ku sakit..? Bunda mau lihat.."
Bunda berjalan menuju lift untuk naik ke lantai dimana kamar anak dan menantunya berada. Di dalam kamar Trisa sedang duduk di sofa menunggui Lea yang sedang tidur.
" Dia belum sarapan ya..?" Tanya Bunda saat melihat nampan berisi air kompresan dan satu piring nasi.
" Iya Bun, Lea nggak mau makan katanya takut muntah lagi." Jawab Gavin.
" Sayang, bangun dulu yuk.." Bunda mengusap lengan Lea agar menantunya itu terbangun.
Lea menggeliat lalu perlahan mata indah itu terbuka.
" Bunda.." ucap Lea kaget.
" Iya sayang.." Bunda membantu Lea bangun dari tidur lalu bersandar pada headboard kasur.
" Gavin mana Bun?"
" Aku di sini sayang.."
__ADS_1
Lea menoleh dan mengulurkan tangannya, Gavin melangkah menghampiri Lea lalu menggendong istrinya itu.
" Kamu ninggalin aku ya?" Tanya Lea sambil memeluk leher Gavin.
" Maaf sayang tadi aku mau ambil laptop di ruang kerja biar bisa nemenin kamu sambil kerja."
" Kamu lebih mentingin kerjaan daripada aku..?"
" Eh, eh.. Nggak gitu sayang.. Iya, aku temenin kamu aja..kerjanya bisa nanti." Ucap Gavin panik saat merasakan air mata Lea.
Bunda menyuapi Lea dengan telaten, menantunya itu tampak lahap memakan pure alpukatnya. Gavin tersenyum senang, Lea dan baby mereka bisa menerima asupan dan tidak dimuntahkan lagi.
" Biasanya mual muntahnya ibu hamil sampai berapa bulan Bun..?"
" Biasa trimester pertama aja tapi nggak semua ibu hamil sama."
" Gavin nggak tega kalau lihat Lea mual muntah apalagi kalau udah sampai sakit gini."
" Dulu Bunda sampai di rawat waktu hamil kamu.. Harus istirahat total karena kandungan Bunda juga lemah."
Gavin menoleh pada Lea, dia berdoa agar istrinya tidak mengalami fase kehamilan seperti Bunda.
Ana baru saja selesai untuk mata kuliah terakhir, dia berjalan menuju halte bus. Dia harus mendahului Adam agar sahabatnya itu tidak menghadangnya lagi seperti kemarin.
Tring..
Ana melihat ada email masuk lalu dia membuka email tersebut.
" Alhamdulillah.. Besok gue udah bisa interview." Gumamnya senang lalu masuk ke dalam bus yang baru saja datang.
Ana tersenyum senang semoga di tempat kerjaan yang baru, dia bisa beradaptasi dengan cepat dan bisa bertahan lama bekerja di sana.
__ADS_1
TBC..!!
Jangan lupa untuk LIKE, KOMEN dan VOTE bestie..