
Gavin meletakkan tubuh Lea di kasur mereka, setelah merengek sama Gavin tadi ibu hamil itu tertidur di pelukan Gavin.
" Kamu gemesin banget sayang.." Gavin melepaskan flat shoes dari kaki Lea lalu menutup tubuh istrinya itu dengan selimut.
Setelah mengurus Lea, Gavin melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Badannya sudah lelah dan ingin menyusul Lea di kasur mereka.
Tak berselang lama, motor Adam sudah berhenti di depan kosan Ana. Faris tidak jadi menjemput Ana, karena kerjaannya belum selesai.
" Gue langsung balik ya rabit.. Lo juga langsung istirahat."
" Iya gembul, hati-hati di jalan.."
Ana masuk ke dalam lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya dia melihat notifikasi pesan di ponselnya, masih belum ada kabar lagi dari Faris terakhir setengah jam yang lalu sebelum mereka pulang.
Ana baru saja meletakkan ponselnya di nakas namun suara dari dering ponsel membuatnya kembali mengambil ponselnya lalu menekan tombol hijau.
" Halo To.." Ana mengernyit mendengar suara dari seberang.
" To.. Kamu kenapa? Kamu tenang dulu.. Coba ceritain sama kakak."
Ana mendengar ucapan adiknya itu, " Apa..?" Ana berteriak saat Anto menceritakan kondisi sang Bunda.
" Kakak pulang sekarang.. Udah jangan nangis lagi, kamu terus temani Bunda.. Tunggu kakak ya." Ana mengambil tas ranselnya lalu mengambil beberapa baju dan pakaian dalamnya, dia juga masukkan dompet dan ponsel lalu bergegas keluar dari kosannya.
" Ana.. Kamu mau kemana?" Ucapan seseorang membuat Ana menoleh.
" Mas Faris.. Aku mau pulang ke Bandung, Bunda sakit.. Ana pergi dulu ya."
" Tunggu Ana, biar saya anter ya.."
" Nggak usah Mas, Ana bisa pergi sendiri.. Mas juga pasti cape habis pulang kerja."
__ADS_1
" Aku nggak cape Ana, aku malah khawatir kamu pergi sendiri."
Faris menarik tangan Ana agar menuju mobil yang di parkirkan dekat kosan Ana. Setelah Ana duduk dengan tenang, Faris melajukan mobilnya membelah jalan menuju Bandung. Meskipun sudah malam kondisi jalan masih ramai.
Faris menoleh kearah Ana, dia melihat gadis itu hanya terdiam menghadap jendela. Keterdiamannya membuat Faris cemas.
" Bunda pasti baik-baik saja An.. Kamu tenang ya."
" Anto cerita sebelum Bunda pingsan, Bunda sempat bertengkar dengan Ayah.. Lelaki tak tau diri itu meminta uang pada Bunda padahal yang seharusnya memberikan nafkah adalah dia tapi dia selalu menyusahkan Bunda dengan sering meminta uang."
" Aku takut Ayah bermain tangan ke Bunda.. Mungkin kalau hanya omelan Bunda masih bisa melawan tapi kalau sudah dengan kekerasan Bunda pasti hanya bisa pasrah." Ucap Ana sambil menangis, Faris menghentikan mobil lalu menarik tubuh mungil itu kepelukannya.
Faris mengusap punggung gadis itu, dia bingung harus berkata apa karena dia juga baru kali ini mendengar cerita Ana tentang keluarganya itu.
" Kita berdoa semoga Bunda baik-baik saja.. Ini minum dulu biar kamu tenang."
" Makasih Mas, maafin baju kamu jadi basah kena air mata aku."
" Kamu kalau ngantuk tidur aja, nanti aku bangunin kalau udah sampai Bandung."
" Aku temani kamu aja mas.."
" Yaudah terserah kamu, oiya mau beli makanan dulu sebelum kita masuk tol..?"
" Nggak usah mas, Ana masih kenyang tadi banyak makan di pesta bos Fajar."
Faris mengangguk lalu kembali fokus menghadap ke depan. Dia melajukan mobil sport dengan kecepatan sedang, dia juga sesekali menanggapi ucapan gadis di sampingnya.
Setelah tiga jam di perjalanan mobil Faris sudah terparkir di parkiran rumah sakit. Ana langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam menuju ruangan dimana Bunda berada.
Faris yang panik melihat Ana berlari, segera menyusul langkah gadis itu. Faris tidak menyangka, tubuh kecil itu bisa melangkah cepat membuatnya harus menghembuskan nafas setelah tiba di depan ruangan Bunda.
__ADS_1
" Keadaan Bunda gimana To..?"
" Kakak.." Anto memeluk tubuh Ana, saudari satu-satunya yang dia miliki.
" Bunda udah sadar tadi tapi kembali tidur setelah di kasih obat."
Ana berjalan di sisi ranjang melihat wanita paruh baya kesayangannya, wajah putih yang sudah mulai keriput dan terlihat lelah terpapang membuat Ana tidak bisa menahan tangisnya.
" Ana kangen sama Bunda.. Maafin Ana belum bisa bahagiain Bunda.."
Faris hanya bisa terdiam melihat interaksi Ana dengan keluarganya, gadis yang biasa tegar itu terlihat rapuh.
" Abang siapa?" Ucapan Anton membuat Faris menoleh.
" Saya Faris temannya Ana, gimana kondisi Ibu kamu..?"
" Saya Anto bang, Bunda sudah lebih baik tapi kayanya Bunda harus di rawat beberapa hari di sini."
Faris mengangguk, lalu memutuskan duduk di depan ruangan rawat inap Bunda. Memberikan waktu untuk Ana bersama Bunda dan adiknya. Dia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah jam 11 malam. Entah dia akan menginap atau memutuskan untuk tinggal tapi sepertinya kondisi saat ini membuatnya tidak bisa meninggalkan Ana sendiri.
" Kakak.." Teriak Anto dari ruangan Bunda, dia baru saja selesai menerima telepon dan akan melangkah ke kamar untuk menghampiri Ana.
" Ana..!!" Pekik Faris melihat Ana pingsan di bawah dan Anto yang sedang menahan lelaki paruh baya yang tidak Faris kenali.
" Bang, tolongin Kakak.." Faris mengangkat tubuh Ana dan membawanya keluar. Sekarang fokusnya hanya pada gadis itu, pertanyaan yang ada di kepalanya harus dia tunda dulu.
" Dok, tolong teman saya.." Ucap Faris di ruang UGD.
...🌸🌸🌸...
TBC…!!
__ADS_1
Dukung terus cerita aku, jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMEN..