PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
chapter 68


__ADS_3

Hari ini Gavin dan Lea sedang bersiap untuk pergi ke kampung Lea, seperti janjinya jika kondisi Lea sudah membaik mereka akan melihat keadaan Umi.


"Hubby, vitamin dan obat aku jangan lupa di masukin." Ucap Lea sambil melihat Gavin yang sedang sibuk membereskan barang-barangnya.


Gavin tidak mengizinkan Lea untuk beraktifitas yang mrmbuatnya lelah, di tambah karena kondisi Lea pasca pingsan dua hari yang lalu.


" Abang sama Mom jadi ikut By?"


" Jadi sayang, mereka mungkin sekarang sudah di jalan menuju kesini."


Lea hanya mengangguk, dia masih memperhatikan bagaimana suaminya itu fokus mengurus barang-barang mereka


" By, aku kangen sama Trisa.. Dia kapan pulang ke Indonesia?"


Gavin menoleh kearah Lea, " Dia akan pulang jika kondisi Bibi nya sudah stabil dan membaik."


Trisa sudah dua bulan izin menemani sang Bibi yang sedang menjalani pengobatan di negeri singa.


Tokk


Tokk


Gavin beranjak mendekati pintu lalu membukanya, Galen tampak berdiri dengan paperbag di tangannya.


"Hai, adek ipar.. Mana si cantik gue..?"


"Gue sama lo seumuran ya, jangan sok tua."


"Mau seumuran kek, gue gak peduli yang pasti lo nikah sama adek gue, mau gak mau harus terima sama nasib lo."


"Adek, liat nih abang bawain apa? Kamu udah siap belum?"


Galen memberikan isyarat agar Lea tetep di posisinya, dia mendekat lalu berjongkok di depan adeknya itu.


" Cantik selalu.. Abang suka."


"Iya dong cantik, bini siapa dulu.." Gavin ternyata sudah berada di belakang Galen. Keduanya selalu begitu setiap bertemu dan berlomba untuk menarik perhatian Lea.


"Abang, Hubby.. Jangan mulai, kita mau berangkat sebentar lagi."


Lea menjulurkan tangannya kearah Gavin membuat calon Papa itu tersenyum senang.


"See, gue tetap jadi pemenangnya.. Makanya cepet deh nikah biar gak ganggu Lea lagi."


Galen mendengus, "lo sama aja kaya Mom."


"Emangnya Mom kenapa?" Suara Mom di depan pintu membuat ketiganya menoleh.


"Udah pada siap kan?" Mom mendekati Lea lalu mengusap perut buncitnya.


"Anteng kan cucu Mom? Obat sama vitamin jangan sampai ketinggalan."


"Semua udah Gavin masukin kedalam tas Mom, aman."


"Kita berangkat sekarang aja biar gak terlalu malam."

__ADS_1


"Iya Mom." Keempatnya keluar dari kamar dengan Gavin dan Galen mengikuti langkah kedua wanita kesayangan mereka.


"Bunda sedih By gak jadi ikut kita hari ini."


"Biarin aja, siapa suruh ngikutin Ayah kunjungan kerja keluar negeri.. Bucin banget sama Ayah sampai gak mau jauh-jauh."


Galen memukul bahu Gavin, " Lo juga gitu ke Lea,kampret."


Gavin mengusap bahunya yang sakit, "gue doain lo juga bucin nanti sama cewek."


Lea dan Mom hanya bisa menggelengkan kepala melihat keduanya. Mereka semua naik kedalam mobil yang sama di ikuti dengan satu mobil yang di kendarai Arik dengan para bodyguard yang lain."


Mobil yang di kendarai oleh Faris berhenti di depan pintu pagar kosan. Mereka memutuskan turun lalu menghampiri satpam yang bertugas.


"Pak, saya mencari Adam.. Apa dia ada di dalam?"


" Mas Adam sudah lama tidak pulang Non, katanya ada keluarganya yang sakit."


Ana menatap Faris dengan cemas, "Adam pasti pulang ke rumahnya, Ayahnya memang udah sering sakit-sakitan tapi tumben baru sekarang dia hilang kontak."


"Mungkin Adam ingin fokus ngurus Ayahnya yang sakit, gak cemas sayang. Aku yakin dia baik-baik saja."


"Terima kasih ya Pak, kami pamit."


"Iya Non, Tuan.. Hati-hati."


"Aku boleh pergi kesana sayang? Jujur aku khawatir."


Faris membelai wajah tunangannya itu,"Mas besok harus pergi ada kunjungan kerja keluar kota, tunggu Mas pulang baru pergi bisa kan?"


"No sayang, Mas gak akan izinin kamu pergi kesana sendiri. Tunggu sampai Mas balik baru kita pergi, ngerti sayang."


Ana mengangguk, "iya Mas.."


Faris dan Ana masuk kembali ke dalam mobil dan memutuskan untuk datang ke Galeri. Semenjak menjadi tunangan pria itu tugas Ana di kantor hanya menemani Faris di ruangannya, sesekali membantu untuk membalas undangan dari para klien.


"Mas cemburu sayang, kamu perhatian banget sama Adam." 


Ana terkekeh, " Adam udah kaya Abang buat aku Mas, dia kating pertama yang mau ngajak ngobrol saat Ana baru jadi maba. Dia juga ngenalin Ana sama Lea terus jadi sahabat sampai sekarang."


"Semenjak Lea mutusin cuti dari kuliah cuma Adam yang rajin antar jemput, dia juga rela ngabisin waktu buat nemenin aku ngerjain tugas."


Faris mendengarkan semua tanpa berkomentar apapun, dia ingin tau bagaimana kedekatan keduanya.


"Jadi Ana minta sama Mas, jangan cemburu lagi ya."


"Iya sayangggg." Ucapan pasrah dari Faris membuat Ana tertawa.


Perjalanan yang lumayan panjang membuat mereka tiba disaat hari sudah malam. Di depan gang sudah ada Asep berdiri dengan sepedanya, cowok itu tersenyum saat melihat Lea keluar dari dalam mobil."


"Teteh.."


"Gimana kondisi Umi sep?"


"Umi udah baik-baik saja sekarang, biarpun masih lemas badannya."

__ADS_1


"Besok kita ke rumah sakit, Umi kasih kamu kunci gak?"


" Kasih Teh, selama Umi di rawat sudah ada yang di tugaskan untuk membersihkan rumah."


Asep membuka pintu rumah, Lea menatap sekeliling dan menghirup aroma yang sangat dia rindukan.


Sama seperti Lea, Mom dan Galen juga melihat sekeliling rumah. Sederhana namun terasa hangat meski sekarang penghuninya sedang di rumah sakit. Bangku dan meja dari kayu juga pajangan serta foto keluarga yang terpanjang, di belakang ada tungku masak dengan kayu-kayu yang sudah tersusun rapi di samping meja.


"Mom suka dengan rumah ini Nak."


"Iya Mom, Lea juga betah tinggal di sini."


"Sayang, nanti kamu tidur sama Mom ya, biar aku sama Galen di kamar tamu."


"Iya By, di kamar belakang kayanya udah di rapihin nanti buat Arik sama yang lain."


Di dalam kamar..


"Besok kamu udah bisa ketemu sama Umi, jadi sekarang kita tidur ya."


Lea menyandarkan kepalanya di dada Gavin, niat hati ingin langsung ke rumah sakit namun karena kondisi sudah malam, Lea juga baru saja sehat. Gavin memutuskan untuk datang ke rumah sakit besok paginya.


Gavin membantu Lea merebahkan tubuhnya, dia juga mengusap perut buncit menggemaskan itu. "sayangnya Papa sekarang bobo ya, besok kan mau ketemu nenek."


Dugh


Gavin tersenyum karena gerakan kecil dari bayi mereka, sepulangnya mereka nanti Lea akan kontrol bulanan. Dia juga tidak sabar memastikan jenis kelamin bayi yang di kandung Lea. Prediksi dari dokter sebulan yang lalu, kalau mereka akan mendapatkan jagoan namun bulan ini mereka akan coba USG kembali.


"Ini siapa ya yang gerak-gerak? Prince atau princess Papa?"


Dugh.. Dugh


Lea meringis saat gerakan kembali terasa, dan saat ini sedikit kencang. Gavin langsung menghentikan usapan tangannya.


"Sakit ya sayang.." Lea hanya mengangguk sambil tersenyum


"Sekarang bobo ya, kasian Mama udah ngantuk."


Lea mulai memejamkan matanya saat usapan tangan Gavin semakin membuatnya nyaman, bayi mereka juga mulai tenang.


"Good night sayang." Gavin menarik selimut untuk menutupi kaki dan perut Lea. Setelah di rasa Lea mulai pulas dengan tidurnya, Gavin melangkah keluar menuju ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Disana ada Galen dan Mom yang tampak sedang serius berbicara.


"Kenapa belum tidur Mom? Udah sudah sangat larut."


Gavin duduk di samping Galen lalu mengambil kue yang ada di atas meja.


"Mom sudah ngantuk tapi saat mendengar cerita Asep jadi hilang ngantuknya."


Gavin menghela nafas, mereka bertiga bingung harus mengatakan apa pada Lea, dia berhak tau kondisi kesehatan Umi tapi mereka juga mencemaskan keadaan Lea yang sedang hamil besar. 


"Mau gak mau Lea memang harus tau Vin, dia bisa marah kalau kita menyembunyikan kondisi Umi."


"Gue juga paham maksud lo tapi lo juga pasti gak bakal lupa kecemasan gue sekarang."


Gavin hanya tidak ingin Lea kembali drop, dia ingin Lea dan bayi mereka sehat sampai lahiran nanti. Sungguh kondisi yang serba salah buat Gavin, entah bagaimana besok pagi saat Lea tau kebenaran kondisi kesehatan Umi.

__ADS_1


TBC..!!


__ADS_2