PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 70


__ADS_3

Hari ini tepat lima hari Umi di rawat, Gavin dan Lea memutuskan untuk membawa Umi tinggal bersama mereka di Jakarta. Gavin sudah mengurus administrasi dan meminta Asep untuk menyiapkan keperluan Umi.


" Umi tinggal di sini saja ya nak? Umi gak mau merepotkan kalian."


" Umi ngomong apa sih? Lea sama Gavin gak merasa di repotkan. Kalau Umi tinggal di rumah sama Lea jadi Lea bisa pantau kesehatan Umi."


Umi menghela nafas, " Nanti kalau Umi kangen rumah di sini gimana?"


" Gavin akan antar Umi, kita bisa sesekali berkunjung sebelum Lea melahirkan nanti."


" Umi malah cemas kalau Lea bepergian saat hamil besar. Umi pasrah aja ikut kemauan kalian."


" Nah gitu dong, Umi bisa duduk manis nemenin Lea di rumah."


" Nanti aku juga sering-sering main ke rumah Gavin biar kita bisa ngobrol." Mom datang menghampiri dengan kantong berisi jus untuk Lea.


" Di minum dulu dek, kamu duduk manis aja biar Abang sama Gavin yang beresin semua."


" Makasih Abang."


Lea duduk di bangku dengan di bantu Mom, perut yang sudah membesar menyulitkan pergerakannya namun Lea bersyukur bisa melewatinya sampai saat ini. Kehamilannya pun tidak terlalu rewel seperti awal kehamilan, Gavin juga full servis sebagai suami dan calon Papa yang baik membuat Lea menikmati kehamilannya.


Setelah semuanya selesai, mereka pun melangkah keluar meninggalkan rumah sakit. Sebelum pulang ke Jakarta, Umi meminta Lea untuk mampir kerumah mereka sebentar. Umi sepertinya masih belum rela untuk meninggalkan kampung halaman.


Mobil yang membawa mereka ke Jakarta sudah memasuki jalan tol. Gavin menghubungi kepala maid di rumah untuk merapikan kamar tamu agar saat tiba nanti Umi bisa langsung istirahat.


" Nanti ada yang mau kamu beli sayang?"


" Ehm apa ya? Kalau beli brownies dan croissant boleh By?"


" Boleh sayang."


Lea tersenyum senang, dia menoleh ke arah kanan dan melihat Umi sudah memejamkan matanya. Dia juga sepertinya lebih baik tidur agar tidak jenuh dengan lamanya perjalanan.


" Mom kalau mau tidur juga gapapa. Nanti Galen bangunin kalau sudah sampai."


" Iya, tapi Mom belum mengantuk. Lea kapan cek kandungan? Mom ikut ya, penasaran sama baby."

__ADS_1


" Lusa Mom, ketemu di rumah sakit aja ya biar Mom gak bolak-balik."


" Kamu mau ikut juga Len? Biar cepet nular punya baby juga."


" Mana ada kaya gitu Mom. Harus ada Mommy nya juga masa tiba-tiba punya baby." Kekeh Galen.


" Padahal Mom gak pernah nentuin kriteria khusus buat jadi menantu lho berarti emang kamunya aja yang pemilih."


" Ya..yaa, Galen terus yang salah."


Gavin terkekeh mendengar ucapan protes Galen, sahabat sekaligus iparnya itu memang beda. Entah ingin pasangan yang seperti apa.


Mobil mereka sempat berhenti di rest area karena Lea ingin ke toilet. Selama menunggu Lea, Gavin menyempatkan melihat email pekerjaan yang di kirimkan Zio.


Gavin menuntun Lea untuk duduk di salah satu meja, Mom dan Galen sedang membeli makanan dan minuman di mini market.


" Cobain neng tadi Umi di beliin Galen." Lea menerima kue cubit kekinian yang di beli Galen.


" Enak Mi, nanti di rumah bikin ya. Coba By."


" Iya enak, kamu mau sayang buat kamu makan di mobil?"


Setelah semua siap mereka pun melanjutkan perjalanan. Karena sudah tertidur, Lea jadi ikut menemani Gavin yang menyetir mobil bergantian dengan Galen yang sudah memejamkan matanya.


" By, Ana katanya mau ke tempatnya Adam sama Faris."


" Memangnya Adam kenapa?"


" Aku dengar dari Ana katanya Ayahnya Adam sakit, dia udah seminggu gak masuk kuliah."


Gavin mengangguk, " Memangnya kapan mereka pergi?" 


" Rencananya nunggu Faris pulang dari luar kota, sahabat kamu gak izinin Ana pergi sendiri."


" Aku juga pasti gitu ke kamu sayang, kamu harus selalu berada di dekat radar aku."


" Yaa.. Yaa.. Tuan posesif."

__ADS_1


" Tentu, aku bangga dengan julukan itu."


Lea hanya bisa memutar mata mendengar ucapan suaminya itu.


Di salah satu gedung pencakar langit, Devian tampak sedang fokus dengan berkas-berkas yang baru saja di berikan oleh sekretarisnya. Rasanya ingin di lenyapkan semuanya namun dari sana pula pundi-pundi terkumpul dan masuk ke rekeningnya.


Dia melihat lagi ponsel di samping tangan kanannya, belum ada balasan dari sang kekasih. Kekasihnya itu sedang ada acara dengan teman-teman modelnya ke Singapore, karena ada kesibukan Devian tidak bisa menemani. Ingin melarang pun tidak mungkin bisa, yang ada dia akan mendapat amukan dari pacar cantiknya itu. Jujur, gadisnya akan sangat menyeramkan jika sudah merajuk.


Tring..


Suara dari pesan yang masuk membuatnya tersenyum, dia sudah yakin itu dari gadisnya.


" Mas, aku lagi belanja. Jangan nyesel ya udah kasih blackcard ke aku."


Devian terkekeh, sebelum berangkat dia memang memberikan blackcard ke Clarisa agar gadisnya bisa belanja selama di sana. 


" Tunggu nanti hukuman dari Mas sayang, berani sekali dia menggoda saat posisi jauh seperti sekarang" Gumam Devian gemas saat gadisnya mengirimkan foto dirinya sedang mencoba lingerie berwarna merah terang.


" Apalagi Rosa? Aku sedang tidak ingin di ganggu saat ini."


" Kamu jangan coba buat lari dari tanggung jawab ya."


Adam berdecak, " Aku hanya minta waktu sebentar, urusan ku jauh lebih penting dari masalah itu."


" Tidak bisa! Aku tahu kamu menghindar, kenapa chat dan telepon aku tidak kamu respon?"


" Ini aku respon telepon kamu, sudah ya? Aku mau lanjut kerja lagi."


Adam memutuskan panggilan itu sepihak, otaknya terasa pecah. Masalah datang bertubi dari segala arah, dan masalah dengan gadis sialan itu cukup menambah beban di pundaknya.


" Arghhhh…" 


Adam merutuki kebodohan sebulan yang lalu, karena kebanyakan minum sampai hangover membuatnya terjebak hubungan satu malam dengan seorang gadis. 


Semua harus bisa dia selesaikan dalam waktu dua bulan, kekacauan di perusahaan sang Ayah dan skandal yang dia buat. Jangan sampai wanita kesayangan yang telah melahirkannya semakin terluka. 


Braakkkk..

__ADS_1


Adam melempar pulpen di tangannya dengan kesal. Fokusnya sudah hilang, dia akan berkunjung ke Butik sang Mama sebelum pulang ke apartemennya. Sudah seminggu ini dia memblokir telepon Lea dan Ana, dia tidak mau keduanya ikut pusing dan terlibat dengan masalah yang sedang dia alami.


TBC..!! 


__ADS_2