
Faris masih diam dengan rasa kesal, niat awal ingin memastikan posisi gadis itu malah berakhir melihat pemandangan yang menyesakkan hatinya. Perasaan tak rela melihat Ana di peluk oleh lelaki lain, rasa cemburu yang tak seharusnya ada dan dia tidak berhak karena tidak adanya hubungan resmi dia dengan gadis itu.
Dia tertunduk sambil memeluk setir, bukan ini yang dia harapkan. Bukan perasaan sakit seperti ini, benar kata Devian dia akhirnya merasakan saat hatinya sudah yakin namun kenyataan tak seperti harapannya.
Tok..tok..
Lamunan Faris terhenti saat mendengar suara ketukan di jendela mobilnya. Dia menoleh dan melihat Ana sudah berdiri menunggu respon darinya.
" Pagi Mas.. Kenapa belum masuk ke dalam?"
Faris terdiam, dia menatap wajah gadis itu terlihat pucat namun tak mengurangi kecantikkannya.
" Saya duluan ya mas.." Ucap Ana menuju pintu masuk karena tidak ada respon dari Faris.
Faris terkesiap lalu melepas seatbelt dan menyusul langkah kaki Ana.
" Pagi Mas Faris.. Pagi Ana.." Sapa crew yang melihat kedatangan keduanya.
" Pagi.."
" Kalian datang bersama..?"
Ana menggelengkan kepalanya, " Tadi ketemu di depan.."
Faris tidak merespon ucapan Ana, dia pamit untuk masuk ke dalam ruangannya.
Lea meletakkan ponselnya karena pegal sejak tadi fokus dengan bacaannya. Dia melihat Gavin sedang sibuk dengan laptopnya. Raut wajah serius terlihat dari balik kacamata yang dia kenakan. Merasa di perhatikan Gavin menoleh dan mendapati istrinya itu tengah memandangi dirinya.
" Sayang, udah selesai bacanya..?" Lea mengangguk.
" Kamu lagi sibuk ya?" Gavin menutup laptopnya lalu beranjak menghampiri istrinya itu.
__ADS_1
" Kenapa? Ada yang kamu inginkan?"
" Aku mau salad buah buatan Bunda.."
Gavin terdiam, dia belum memberitahukan kondisi Lea pada kedua orang tuanya. Mendengar permintaan Lea membuatnya mau tidak mau harus menghubungi Bunda.
" Aku sudah meminta Bunda untuk membuatkan salad pesanan kamu.."
" Makasih sayang.." Ucap Lea senang sambil memeluk Gavin.
Tak berselang lama, pintu kamar rawat Lea terbuka dan kedua orang tua Gavin muncul.
" Sayang, gimana keadaan kamu..?"
" Lea sama baby keadaannya baik Bunda, Bunda tidak perlu cemas.." Lea mengerti kekhawatiran dari mertuanya itu.
Bunda tersenyum mendengar ucapan menantunya itu. " Ini salad buah pesana kamu.. Mau di makan sekarang?" Lea mengangguk senang. Bunda memberikan satu kotak berisi salad buatanya dan langsung di nikmati oleh Lea.
" Jelasin sekarang sama Bunda kenapa Lea bisa masuk rumah sakit.." Ucap Bunda kesal, dia langsung menjewer telinga Gavin.
" Aduuh.. Duuu, sakit Bunda." Rengek Gavin melepaskan tangan Bunda dari telinganya
Ayah dan Lea hanya terkekeh melihat keributan Ibu dan anak itu. Gavin masih terdiam, dia bingung untuk menceritakan penyebab pingsannya Lea kemarin malam.
" Lea kemarin malam tiba-tiba merasa pusing Bunda, jadi karena panik Gavin langsung bawa Lea ke rumah sakit." Lea akhirnya buka suara karena dia yakin Gavin tidak akan mau menceritakan kejadian sebenarnya.
" Alhamdulillah, Bunda bisa bernafas lega dengarnya.. Yang penting kalian baik-baik saja."
Lea mengangguk, dia raih jemari Bunda lalu mengusap punggung tangan wanita paruh baya di depannya itu. Lea bersyukur memiliki mertua yang baik seperti Bunda, Lea merasa di sayangi seperti sayang Umi padanya.
Tak terasa sudah masuk jam makan siang, beberapa crew sudah mulai keluar untuk mencari makan atau beranjak ke arah ruang istirahat untuk memakan bekal mereka.
__ADS_1
Ana merapihkan berkas laporan yang dia kerjakan tadi, gadis itu mengambil kantong bekalnya dan mulai melangkah menuju ruang istirahat. Dia sepertinya butuh minuman hangat, kepalanya sedikit pusing saat dia fokus dengan pekerjaannya.
Satu per satu crew meninggalkan ruangan istirahat. Dia ruangan itu hanya tinggal Ana sendiri, sambil makan dia sesekali membalas chat dari sang adik.
" Boleh saya duduk di sini..?" Ana menoleh melihat Faris berdiri tak jauh dari posisinya.
" Silahkan Mas.."
Dalam hati Faris tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Dia akan terus berjuang untuk meluluhkan hati Ana.
" Mas bawa bekal juga..?"
" Iyaa, tadi pagi sebelumnya berangkat di buatin Mama."
Tak ada percakapan yang terjadi setelah itu, keduanya fokus dengan makanannya masing-masing. Sampai akhirnya Faris memekik kaget kearah Ana lalu beranjak untuk mengambil sesuatu.
Tes..
Ana merasakan sesuatu jatuh mengenai tangannya dan matanya terbelalak kaget itu tetesan darah.
Faris datang lalu menempelkan tisu di hidung Ana, sepertinya kondisi Ana kurang sehat terlihat wajahnya yang semakin pucat.
" Kamu baik- baik saja..?" Tanya Faris dengan wajah khawatirnya.
" Ana baik-baik aja Mas.. Makasih ya buat tisunya." Jawab gadis itu tapi Faris tidak percaya karena tetesan darah yang mengalir dari hidung Ana belum juga berhenti.
" Kita ke rumah sakit sekarang.." Dalam sekali gerakan Faris menggendong Ana keluar dari ruang istirahat menuju mobilnya, para crew yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka hanya bisa saling pandang dan menghendikkan bahu tanda tidak mengetahui kondisi yang terjadi antara Ana dan bos mereka.
TBC…!!
Terus dukung cerita aku yaa.. jangan lupa buat VOTE, LIKE dan KOMEN..
__ADS_1