
Lea masih menangis sambil memeluk lengan Umi, setibanya di ruang rawat dan melihat kondisi Umi pijakan kakinya seakan melemah. Gavin dengan sigap menahan tubuh ibu hamil itu agar tidak terjatuh.
"Sayang, udah ya nangisnya.. Aku pastiin Umi dapat perawatan terbaik, kalau perlu kita bawa Umi ke Jakarta agar bisa di rawat di sana."
Lea menoleh kearah Gavin dengan wajah penuh air mata, mata dan hidungnya memerah namun tetap menggemaskan di mata Gavin.
" Umi, ikut Lea ya biar Lea bisa jaga Umi."
" Umi baik-baik saja Nak, kamu harusnya yang jaga kondisi dengan baik. Perut kamu udah besar, baby sehat kan?"
" Baby sehat Umi, dia udah mulai aktif di perut Lea."
Umi tersenyum senang, dia membelai wajah putrinya itu. Pipi Lea terlihat chubby, tubuhnya juga lebih berisi.
" Kamu harus terus bahagia ya, Umi jadi tenang jika harus pergi."
Gavin, Galen dan Mom hanya terdiam melihat interaksi keduanya.
" Kamu harus optimis buat sembuh Nis, cucu kita sebentar lagi akan lahir. Jadi gak sabar lihat gimana wajah dia pas lahir nanti."
" Kalau cewek cantik kaya Lea, kalau tampan pasti kaya aku."
Gavin menimpuk Galen dengan bantal leher milik Lea, " Gimana ceritanya kalau tampan jadi mirip sama lo? Gue yang kerja keras pasti mirip gue lah."
" Makanya cepet nikah biar gak ngaku-ngaku anak orang."
" Hubby, Abang.. Udah deh jangan mulai."
Umi tersenyum, Lea telah menemukan bahagianya. Gavin terlihat sangat mencintai putrinya, setiap tindakan yang Gavin lakukan tak luput dari pandangan Umi. Dia bersyukur, Lea bisa menjadi istri Gavin.
__ADS_1
" Umi sekarang bobo ya, Lea temenin di sini."
" Umi sudah banyak tidur Nak, sekarang Umi mau dengar cerita kamu."
" Cerita apa?"
" Ceritakan semuanya, Umi mau dengar."
Umi sangat senang jika Lea mulai bercerita, Lea akan menceritakan apapun yang dia alami dan rasakan. Semua mengalir keluar dari mulut mungil Lea, Gavin dan yang lain ikut mendengarkan, cara Lea bercerita membuat semuanya terhibur. Rasanya seperti di berikan dongeng sebelum tertidur.
Gavin masih memandangi wajah tenang Lea yang sedang tertidur, setelah makan tadi istrinya mengeluh mengantuk. Gavin dengan sabar mengusap punggung Lea sesekali dia juga mengusap perut bulat yang membuatnya gemas.
" Pulang dari sini kita ketemu Bu Dokter ya Nak, tunggu Nenek kondisinya membaik baru kita pulang."
Senyuman terbit di wajah tampan calon Papa itu saat dia merasakan tendangan kecil dari perut Lea.
Di sebuah rumah yang terlihat asri dan nyaman, wanita paruh baya menatap wajah yang sedang terlelap setelah meminum obat. Wajah yang masih terlihat tampan di usia yang tidak muda lagi, lelaki yang gagah dan berkuasa saat ini tergolek lemah karena penyakitnya.
Masih terasa sakit jika harus mengingat perbuatan lelaki itu di masa lalu, namun rasa sayang yang masih ada membuatnya tetap bertahan.
" Adam memintaku untuk tidak peduli lagi dengan keadaan mu saat ini Mas, tapi apakah aku tega melihatmu sudah tak berdaya seperti ini. Jangankan untuk mengurus dirimu sendiri, bangun dengan posisi benar saja kau tak sanggup."
" Apa ini semua karma yang harus kamu terima atas semua sakit yang aku rasakan?"
" Jawab Mas, aku harus apa? Apa aku terlihat bodoh dengan mudahnya luluh karena melihat kondisimu saat ini?"
Ratih tertawa miris, dia pandangi foto pernikahan beberapa tahun yang lalu. Raut bahagia terpancar dari wajah keduanya, semua terasa manis dan indah. Tapi semua itu berubah setelah wanita ular itu datang dan menghancurkan semuanya.
Dia mengusap foto itu dengan perasaan perih, semua tidak akan utuh lagi. Putranya juga sudah besar, dia tak perlu khawatir dengan nasib rumah tangga yang berada di ujung jurang.
__ADS_1
Melangkah keluar kamar, dia menghampiri perawat yang menjaga suaminya selama dia sibuk dengan bisnis salon kecantikannya.
" Saya titip bapak, dia sedang tidur. Pastikan makan dan obatnya di minum setelah dia bangun nanti."
Perawat lelaki itu mengangguk, " Baik Nyonya."
Ratih mengambil tas di kamar yang ada di sebelah ruang rawat suaminya. Dia ada acara pertemuan dengan para reseller skincare buatannya, sepertinya menyibukkan diri cara ampuh buat melupakan masalah yang sedang terjadi.
Mobil berwarna hitam itu keluar dan berbaur dengan para pengguna jalan yang lain. Jam belum terlalu siang namun matahari terasa terik. Jalanan terlihat silau dan hawa panas dapat terasa bercampur dengan hawa dingin dari AC mobil.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya Ratih tiba di salon miliknya, sudah terparkir mobil-mobil di halaman luas itu. Melangkah dengan anggun dia menyapa satpam yang berjaga, Ayu sang asisten menghampiri saat melihat dia datang.
" Semua sudah berkumpul?"
" Sudah Bu, mereka sudah berada di dalam menunggu Ibu."
Ratih mengangguk, dia melangkah keruang pertemuan di ikuti dengan Ayu. Pertemuan yang berlangsung selama satu jam itu berjalan dengan lancar. Satu per satu mereka keluar dari ruang pertemuan, ada yang langsung pulang ada juga yang memilih untuk melakukan perawatan.
" Gue gak bisa bayangin kalau di posisi Bu Ratih, dia memang wanita hebat. Sudah di khianati masih sanggup bertahan."
" Dia juga yang terlalu percaya suami bisa main perempuan, mana perempuan itu temannya sendiri."
" Semoga kita gak ngalamin juga ya jeng."
" Iya jeng, jangan sampai deh."
Ratih terdiam, kabar perselingkuhan suaminya sudah tersebar. Apa sekarang dia jadi perempuan sukses yang bernasib miris. Dunianya berubah dan dia tak menyangka kalau rumah tangganya bisa jadi pergunjingan teman-temannya.
TBC..!!
__ADS_1