
Lea kembali merasakan mual, masih dengan mukena di badannya Lea langsung berlari ke kamar mandi,. Gavin yang mendengar suara muntahan langsung menghampiri.
“ Jangan mendekat Gavin..” larang Lea saat melihat Gavin ingin mendekatinya tapi Gavin tidak peduli.
“ Masih mual..?” tanyanya sambil mengusap tengkuk Lea.
“ Udah nggak..” Lea mengambil air lalu membasuh mulutnya.
Gavin membantu Lea kembali ke dalam kamarnya, “ Aku ambilin minum dulu..”
“ Ini minum dulu sayang..” Lea menerima minum itu.
“ Makasih..”
Gavin meletakkan gelas itu di nakas, dia menggenggam jemari Lea.
“ Maafin aku..”
“ Kenapa minta maaf..?”
“ Udah bikin kamu hamil dan mual-mual..”
Lea terkekeh, “ Aku gapapa Gavin, mual di masa kehamilan itu wajar, nggak semua ibu hamil mengalaminya jadi aku menikmati prosesnya”
“ Neng, kamu mau Umi buatin apa buat sarapan..?”
“ Lea mau nasi goreng bawang, nanti bikin lupis sama opak singkong Mi..”
“ Yaudah Umi buatin dulu..”
“ Lea bantuin ya..” Lea melepas mukenanya.
“ Sayang, kamu istirahat aja..” larang Gavin.
“ Aku hamil bukan sakit Gavin.. jangan terlalu khawatir.”
Lea melangkah menuju dapur, mengambil satu kantong berisi singkong dan baskom. Gavin duduk di samping Lea, melihat aktifitas Lea dan Umi di dapur.
“ Beli yang langsung jadi aja nggak ada sayang..?” tanya Gavin.
“ Yang jual pasti ada tapi aku maunya buatan Umi.” jawab Lea.
Ponsel Gavin bergetar, nama Arik tertera di sana. “ Tunggu sebentar..”
Gavin bergegas keluar untuk menghampiri Arik, asistennya itu membawakan beberapa baju dan barang-barang keperluannya.
“ Pagi bos..” ucap Arik saat melihat Gavin.
__ADS_1
“ Pagi Rik.. nanti kamu taruh koper saya di ruang tamu.”
“ Siapa yang datang Vin..?” Tanya Lea.
“ Arik sayang..”
Arik menundukkan kepalanya saat melihat Lea, kekasih bos nya itu selalu terlihat cantik.
“ Apa ada yang mencari ku di kantor..?”
“ Nona Clarissa sudah dua hari mencari anda, saya bilang anda sedang keluar kota.”
“ Dia tidak curiga Zio ada di sana..?”
“ Dia sempat tidak percaya tapi saya bilang kalau bos keluar kota karena urusan pribadi.”
“ Dia juga mengganggu ku dengan chat dan telepon, sepertinya aku harus ganti nomor.”
Arik mengangguk, “ Nona Lea mau ikut bos ke Jakarta..?”
“ Aku masih mengajaknya Rik, tapi dia belum mau..?”
“ Berarti bos masih lama di sini..?”
“ Yang pasti aku tidak akan pulang jika tidak bersama dengan Lea.”
Lea memanggil Gavin dan Arik masuk untuk sarapan, nasi goreng Umi sudah jadi. Meskipun Lea belum sepenuhnya menerima dia lagi, namun dia tetap melayani Gavin dengan baik.
“ Kamu sebaiknya pulang Vin..kamu kan punya tanggung jawab di Jakarta..”
“ Aku mau pulang kalau kamu juga ikut sayang, kita udah sering ngomong ini.”
“ Kalau aku ikut kamu pulang aku tinggal dimana? kamar kosan aku kemarin pasti udah ada yang isi.”
Gavin menoleh lalu terkekeh mendengar ucapan Lea, “ kamu ngapain mikirin mau tinggal dimana? kamu tinggal sama aku sayang..”
“ Emangnya orang tua kamu udah setuju sama aku..?”
“ Ayah udah tau kondisi kita, tapi kalau Bunda belum.. nanti setelah kita sampai Jakarta kita bertemu dengan Bunda..”
“ Nggak usah takut sayang, Bunda pasti terima kamu dengan baik..”
Lea masih terdiam sambil memandang wajah tampan Gavin, “ Nanti aku ngomong dulu sama Umi..”
“ Teteh.. “ panggil Asep.
“ Asep.. Umi masih di sana?”
__ADS_1
“ Masih, Asep cuma mau kasih titipan dari Umi..”
Asep menurunkan satu karung berisi singkong, jagung dan ubi.
“ Kamu mau balik ke lumbung lagi..?” tanya Lea
“ Asep mau mancing sama a Bian.. aa mau ikut nggak?” ucap Asep pada Gavin.
“ Aku di ajak sayang, tapi kamu nanti gimana aku tinggal mancing..?”
“ Aku ikut juga, kamu bangunin Arik gih..”
Gavin mengangguk lalu masuk ke dalam rumah, mereka bertiga mengikuti langkah Asep menuju pemancingan.
“ Kamu emangnya bisa mancing..?” tanya Lea pada Gavin
“ Nggak sih, tapi kayanya seru aja..” kekeh Gavin, dia terus menggenggam jemari Lea.
Setibanya di sana, Fabian sudah menunggu dengan beberapa warga. Lea duduk di bangku yang ada di sana, melihat interaksi Gavin dengan Asep dan Fabian. Kebiasaan dan pergaulan Gavin yang tidak jauh dari cafe, kelab, atau tempat mewah saat ini tampak senang bermain pancing dengan teman-teman Lea.
Gavin berhasil menangkap beberapa ekor ikan, Arik pun ikut mencoba, ajudan Gavin itu juga menikmati kegiatan barunya.
“ Ayo sayang kita pulang, nanti malam kita bakar ikannya.”
Lea meminta Asep untuk membawakan ikan hasil tangkapan mereka ke rumah agar bisa di bumbui oleh Umi.
“ Kalian habis dari mana?” tanya Umi setelah melihat kedatangan Lea dan Gavin.
“ Tadi nemenin Gavin mancing sama Asep.”
“ Liat Umi, kami dapat ikan banyak..” ucap Asep menaruh ember berisi ikan.
“ Ikannya mau di bakar nanti malam, kita siapin bumbunya ya Umi.”
Malam harinya semua sudah berkumpul di depan rumah Umi, Asep dan Bian sudah menyiapkan bakaran dari batu bata dan kayu bakar.
“ Kamu sama Umi tunggu aja di teras rumah, biar aku yang bakarin..” ucap Gavin pada Lea.
“ Okay..”
Bakaran sudah siap, Asep menata ikan-ikan itu di atas besi bakaran, ke empat lelaki itu sibuk membakar ikan hasil tangkapan mereka.
Ponsel di saku celana Gavin bergetar, dia menjauh lalu mengangkat telepon itu. Wajah datar itu tiba-tiba mengernyit, tampak ketegangan dan itu tertangkap netra Lea.
“ Arik, kamu rapihkan semua barang-barang.. ada urgent situation.”
“ Sayang, ikut aku ke dalam ada yang mau aku omongin.” Gavin menarik pelan tangan Lea untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Lea hanya bisa pasrah karena dia pun tidak tau apa yang ingin Gavin bicarakan, namun raut wajah yang Gavin tunjukan cukup membuatnya mengerti ada suatu yang penting.
TBC..!!