PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 12


__ADS_3

Gavin dan ketiga sahabatnya masih berkumpul di ruang santai, Lea masih menjadi pendengar keseruan ke empat cowok tampan di depannya. Dia sesekali ikut menimpali jika dia masuk dalam guyonan Galen dan Faris.


Mata indah Lea sebenarnya sudah mulai redup, jika sebelumnya saat di minta untuk istirahat dia menolak karena sudah mendekati magrib dan matanya juga belum mengantuk namun mendengar cerita Gavin dan teman-temannya seperti dongeng nina bobo buat Lea.


“  Vin, Lea tidur..” ucap Galen menepuk pundak Gavin.


Gavin menoleh dan bangun dari duduknya, dia melihat Lea sudah tertidur sambil memeluk bantal sofa.


“ Gue pindahin dia dulu ke kamar..” ucap Gavin, dia menggendong Lea ala bridal style.


“ Dia nggak bangun bro kalau lo gendong..?” tanya Faris.


Gavin menggeleng, “ Dia kalau udah pules nggak bakal bangun..” jawab Gavin.


Gavin melangkah keluar dari ruang keluarga menuju kamar Lea, sepanjang jalan menuju kamar, Gavin tidak berhenti menciumi puncak kepala Lea.


“ Gavin kelihatan sayang banget sama Lea..” ucap Devian.


“ Iya, Lea memang berhasil jinakin Gavin..” sambung Faris membuat semua tertawa.


“ Gue udah bisa tenang saat Lea udah maafin kita.” ucap Galen sambil meminum vanilla lattenya.


“ Iya, untung aja ceweknya Lea.. kalau sama cewek lain bisa ribet.”


“ Gue janji mulai hari ini, Lea jadi salah satu orang yang masuk dalam perlindungan gue.” ucap Galen.


“ Gue juga..” lanjut Devian dan Faris.


“ Ikut-ikutan aja deh..” cibir Galen.

__ADS_1


“ Gue jadi khawatir kalau Clarissa nggak akan terima Gavin nikah sama Lea.” ucap Devian.


“ Bener juga, kita tau gimana tergilanya Clarissa pada Gavin.” Faris menambahkan.


“ Tapi gue percaya Gavin bisa lindungin Lea, ada kita juga kan.” ucap Galen.


Gavin meletakkan tubuh Lea di atas tempat tidur, lalu menaikkan selimut sampai perut Lea. Gavin terus memandangi wajah Lea yang tampak pulas dalam tidurnya, cowok itu mengakui wajah cantik Lea waktu itu membuatnya bersedia menjalankan taruhan dari teman-temannya, setidaknya Gavin tidak malu mengajaknya pergi dan sekarang dia kena tulahnya sendiri.  Gavin takut kehilangan Lea dan saat ini melihat Lea tertidur dengan mulut sedikit terbuka membuatnya semakin gemas.


Cup..cup..


“ Kamu gemesin banget sih sayang..”


Setelah puas menciumi pipi dan bibir Lea, Gavin keluar dari kamar untuk menghampiri teman-temannya. Untungnya gadis itu tidak terbangun saat Gavin menciuminya tadi, tapi Gavin malah berharap sebaliknya karena Gavin senang melihat wajah merajuk Lea.


“ Lama banget lo.. abis isengin Lea ya?” tanya Galen saat melihat Gavin masuk.


“ Gue kayanya harus majuin tanggal nikahan gue.. gue nggak mau Lea berubah pikiran lagi.”


“ Gas lah.. sultan mah bebas mau kapan aja.. besok juga bisa kalau lo mau.” ucap Faris.


“ Lo ajak aja Lea ke butik nyokap gue, tapi gue yakin Bunda udah hubungin duluan.” ucap Devian


“ Iya, besok gue ajak Lea ke sana..”


“ Makasih udah bantu yakinin Lea, setidaknya dia jadi bisa pertimbangin buat kembali percaya sama gue.”


“ Lea masih sayang kan sama lo..?” tanya Devian.


“ Dia ngaku sama Bunda kalau dia sayang sama gue..”

__ADS_1


“ Itu yang penting bro.. nanti pelan-pelan dia juga bakal percaya dengan keseriusan lo.” ucap Faris membuat Gavin senang.


“ Yaudah kami pamit ya, besok ketemu lagi di kantor lo..”


Gavin mengangguk lalu melakukan tos dengan ketiga sahabatnya.


Paginya Lea di ajak Bunda ke butik milik orang tua Devian. Setelah sarapan pagi dan Gavin berangkat ke kantor, Lea dan Bunda berangkat dengan mobil berbeda.


“ Kata Gavin kamu tiap pagi suka mual dan muntah..”


“ Iya Bun, biasanya setelah Lea subuhan..”


Bunda menatap sedih ke arah Lea, “ Bunda tenang aja, Lea menikmati prosesnya karena nggak semua ibu hamil mengalaminya..”


“ Makasih sayang, Gavin memang tidak salah milih kamu.”


Mobil yang di kendarai sopir sudah terparkir, Bunda dan Lea masuk ke dalam. Mama Devian langsung membantu Lea memilih gaun untuk pernikahannya. Bunda memberikan tiga model untuk Lea coba.


“ Saya masih nggak percaya Gavin mau menikah jeng..” ucap Mama Devian.


“ Iya, dia sudah ketemu pawangnya jadi saya harus cepat resmikan.” kekeh Bunda.


Lea keluar dari kamar ganti, “ Nah ini bagus sayang.. Bunda yakin Gavin nggak akan protes lagi..”


Lea terkekeh, tadi saat mencoba dua gaun pertama, Gavin protes karena bagian pundak Lea sedikit terbuka, dan bagian depannya rendah jadi Gavin langsung meminta Bunda mencarikan gaun lain.


Saat sarapan tadi pagi Gavin sempat mengumpat kesal karena ada rapat mendadak yang harus dia hadiri, niat ingin menemani Lea memilih gaun jadi harus di gantikan oleh Bunda. Tapi sekali lagi Gavin hanya bisa pasrah saat Lea sudah mengeluarkan titahnya.


TBC..!!

__ADS_1


__ADS_2