
Ana baru saja selesai membersihkan diri, badannya sudah terasa lelah dan ingin segera beristirahat. Setelah memakai piyama tidurnya Ana langsung merebahkan tubuhnya.
Dia teringat pertemuannya dengan Faris tadi, lelaki yang datang secara tiba-tiba lalu memperkenalkan diri padanya dan Ana mengakui dia sempat terpesona dengan wajah tampan Faris.
Ana menggelengkan kepalanya, baginya saat ini memikirkan urusan percintaan bukan hal utama karena yang terpenting adalah memikirkan bagaimana dia bisa terus mengirimkan uang untuk Bunda dan adiknya.
Secara perlahan mata cantik itu akhirnya terpenjam.
Faris merenggangkan badannya, dia melihat kearah dinding sudah jam 7.30 malam. Tak terasa sudah hampir empat jam dia berkutat dengan laptopnya.
Ceklek..
Faris menoleh dan melihat Gavin datang. Di tangannya membawa paperbag.
" Sibuk..?"
" Udah mau kelar sih..? Mau teh atau kopi..?"
" Teh aja, oiya ini ada dimsum buat Lea." Gavin meletakkan paperbag di atas meja.
" Wih, mantap.. Tau aja gue lagi laper."
" Kalau bukan suruhan Lea, gue nggak mau bawain buat lo."
" Ish, dasar pelit.."
Faris meletakkan dua cangkir berisi kopi dan teh, lelaki itu membuka paperbag lalu langsung memakan dimsumnya tanpa peduli omongan Gavin.
" Lo bilang ada yang mau di omongin..?"
" Galeri lo masih butuh kru nggak? Kalau ada titip temannya Lea buat kerja di sini."
__ADS_1
" Sebenarnya kru udah cukup tapi kalau temannya mau kerja, kasih aja surat lamaran kerjanya."
" Nanti gue ngomong sama Lea biar dia kasih tau temannya."
Gavin mengernyit saat melihat Faris tersenyum tiba-tiba, " Dih.. Kesambet lo? Senyum-senyum gitu."
Faris terkekeh, " Iya, gue kesambet cewek cantik.."
" Beneran cewek atau cewek jadi-jadian..?"
" Beneran lah.. Cewek itu sebenarnya yang mau tawarin jadi kru di sini tapi gue kasih ketemannya Lea aja."
Gavin mengangguk lalu ikut tersenyum," Yaudah, gue mau balik.. Tadi gue izin ke sini nggak lama."
" Semenjak udah nikah jadi betah di rumah.." Cibir Faris.
" Pasti dong, rumahnya bikin nyaman soalnya." Jawab Gavin. Dia melangkah keluar meninggalkan Faris.
...🌸🌸🌸...
Gavin langsung bangun dari tidurnya setelah mendengar Lea mengalami morning sickness. Dia sebenarnya sudah senang beberapa hari kemarin istrinya sudah tidak mengalaminya tapi pagi ini Lea kembali muntah.
" Sayang.."
Gavin mengurut tengkuk Lea, sebelah tangannya lagi mengambil rambut Lea agar tidak kena muntahan.
" Udah..?" Lea mengangguk lalu mengulurkan tangannya.
Gavin langsung menggendong Lea keluar dari kamar mandi menuju ranjang mereka. Dia langsung menghubungi maid untuk membawakan teh herbal dan biskuit.
" Aku udah senang kamu nggak morning sickness beberapa hari kemarin.. Badan kamu agak hangat lagi."
__ADS_1
Lea tidak menjawab, dia lebih memilih memejamkan matanya sambil memeluk tubuh Gavin.
Tak lama maid datang membawakan pesanan Gavin, dia juga meminta sarapan di antar ke kamar agar dia bisa menyuapi Lea.
" Bangun dulu sayang.." Gavin membantu Lea untuk bersandar pada headboard kasur.
" Minum dulu teh herbalnya, mau makan biskuit dulu atau langsung sarapan?"
" Minum teh aja, nggak mau makan."
" Tadi kamu abis muntah sayang, baby kasian nggak ada asupan kalau kamu nggak makan."
" Nanti aku muntah lagi kalau makan sekarang, kamu nggak nggak ngerti." Rengek Lea, mata indah itu sudah berkaca-kaca.
" Iya sayang, maafin kamu.. Yaudah sekarang kamu bobo lagi."
" Temenin, jangan kemana-mana."
" Iya sayang iya.."
Gavin pasrah menuruti kemauan istrinya, dia sebenarnya ada rapat penting pagi ini tapi saat ini kesehatan istrinya jauh lebih penting dari pekerjaannya.
Tring..
Faris melihat notif email yang masuk, dia pun membuka email tersebut. Setelah mengetahui isi email itu, Faris langsung menghubungi Gavin untuk memastikannya.
" Ya Tuhan, skenario apa yang sedang Kau rencanakan dalam hidup ku.." Gumamnya setelah dia memutuskan sambungan telepon.
TBC…!!
🍑🍑🍑
__ADS_1
Jangan Lupa VOTE, KOMEN, LIKE..