PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 51


__ADS_3

Ceklek.. 


Faris muncul di ikuti dengan Gavin dan Lea, termasuk Galen dan wanita paruh baya yang tidak Ana kenal.


" Lea.. Kamu kenapa ke sini?"


" Aku udah baik-baik aja An, ini aku udah di bolehin pulang tapi tadi ketemu Faris di depan bilang kamu di rawat."


" Iya, ini di paksa sama mas Faris.."


" Kamu juga yang bandel.. Suka nggak peduli sama kesehatan diri sendiri."


Ana hanya bisa merengut kesal, dia melirik Faris yang sedang menahan senyum.


" Kamu udah sarapan belum? Jangan lupa di minum juga obatnya."


Ana mengangguk," Gue udah sarapan tadi, obat juga udah di minum." 


" Sayang.. Kamu duduk dulu nanti kakinya pegal.."


Gavin meminta Lea duduk di bangku samping ranjang Ana.


" Sayang, aku mau jus alpukat."


" Yaudah tunggu sebentar, aku pergi ke kantin dulu."


Gavin mengajak Faris keluar untuk ikut ke kantin, sedangkan Galen dan Mom memutuskan untuk pulang.


" Kata Dokter gimana An?"


" Dokter bilang gue harus jaga pola makan dan istirahat, gue juga di bilang hindari stress."


" Tuh kan bener kata Dokter.. Kamu kan bilang mau ada terus buat Bunda sama Anto tapi kamu sendiri gak bisa jaga kesehatan."


" Iya Le.."


" Kamu nggak sendiri An, ada aku sama Adam.. Kita kenal udah lama, kamu nggak usah sungkan."


Ana mengangguk, " Makasih Le, udah jadi sahabat aku."


Di kantin rumah sakit..


Gavin sudah memesan jus untuk Lea, dia juga membeli beberapa kue jika nanti istrinya itu lapar bisa langsung memakannya.


" Muka lo kenapa kusut banget? Lagi ada masalah?"


" Gue lagi pusing masalah kerjaan, lo tau sendiri fokus gue sekarang terbagi."


" Gue yakin bukan cuma kerjaan doang.."


" Sok tau banget lo.." Kekeh Faris, dia memang tidak bisa mengelak jika berhadapan dengan Gavin.


" Kalau gue bisa tebak, berani kasih gue apa?" Tantang Gavin.


" Coba tebak, gue kasih apapun yang lo mau.."

__ADS_1


" Deal.."


" Lo pasti lagi mikirin sahabatnya Lea.." Tebak Gavin benar.


Faris menghembuskan nafasnya, " Lo bener Vin, gue bingung harus deketin dia gimana lagi.. Gue ngerasa dia menjaga jarak sama gue, seperti ada sekat kasat mata yang nggak bisa gue tembus."


" Dia pasti ada alasannya Ris, kenapa nggak lo coba tanya langsung sama dia atau lo bisa tanya sama Lea."


" Gue masih belum berani buat ikut campur lebih jauh kalau dia sendiri nggak izinin."


" Yaudah lo coba minta bantuan Lea, gue yakin Ana pasti cerita masalahnya tapi gue minta apapun itu nggak akan merubah niat lo."


" Gue serius sama perasaan gue Vin, gue nggak mungkin melangkah sejauh ini kalau nggak yakin."


" Lo tenang aja, gue sama Lea pasti dukung lo kalau emang niat lo nggak main-main."


" Thank Bro.."


Gavin dan Faris kembali keruangan Ana, dari depan pintu kedua lelaki itu dapat melihat Ana bisa tertawa lepas saat bercerita dengan Lea, Faris tersenyum sepertinya ide Gavin untuk bertanya langsung dengan Lea harus segera dia lakukan.


" Sayang, ini jus alpukatnya.."


Lea memekik senang, ibu hamil itu langsung mengambil dan meminum jus itu. Gavin juga memesan jus yang sama untuk Ana.


" Habis ini kita pulang yaa.." Lea mengangguk.


Mobil yang di kendarai oleh supir sudah berhenti di halaman rumah, di depan teras sudah ada Trisa dan Bunda.


" Trisaaa.." Pekik Lea saat melihat bodyguard nya itu.


" Iya sayang, maaf.. Hehe." Kekeh Lea.


" Aku kangen banget Tris, kamu utang cerita sama aku lho."


Trisa mengangguk, dia tersenyum senang bisa bertemu dengan Nonanya itu.


" Bunda dari tadi sampainya?"


" Bunda baru aja sampai sayang, kita masuk dulu yuk.."


Mereka pun melangkah masuk kedalam, Lea dan Gavin pamit untuk naik ke kamar mereka.


" Kamu duluan aja kalau mau bersih-bersih.."


Gavin melangkah menuju kamar mandi sedangkan Lea masuk ke dalam walk in closet.


" By, tolongin dong.. Rambut aku nyangkut di resleting nih."


Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri bukan karena teriakan sang istri saja tapi juga panggilan yang tampak asing di telinganya.


" Kamu tadi manggil aku apa?"


" Hubby.. Kenapa kamu nggak suka di panggil itu?"


Gavin tersenyum, " Suka banget…" Dia membantu melepaskan rambut dari dress Lea.

__ADS_1


" Baby kita kan belum lahir jadi sementara aku panggil kamu itu yaa.." 


" Iya sayang.."


Setelah berganti dengan daster rumahan, Lea dan Gavin turun ke bawah untuk menghampiri Bunda dan Trisa di ruang keluarga.


Ibu hamil itu juga meminta maid menyiapkan makan siang agar saat makan siang tiba mereka bisa makan bersama.2


Di ruangan Ana..


Adam akhirnya mengetahui kalau Ana masuk rumah sakit, cowok itu sejak tiba di ruangan Ana tidak berhenti berbicara tepatnya dia mengomeli Ana. 


" Rabit..!!" Teriak Adam melihat Ana bersembunyi di balik selimut.


" Gue nggak mau keluar kalau lo masih marah-marah."


Adam berdecak, sepertinya dia harus banyak bersabar menghadapi tingkah sahabatnya itu. Jika Lea lebih mudah untuk di beritahu sedangkan Ana lebih banyak protes bahkan berani melanggarnya.


Tak lama suster datang membawakan makan siang. Adam menarik selimut yang menutupi tubuh Ana.


" Makan An.. Biar lo bisa cepet pulang.


" Suapin.."


" Ck, biasanya sok kuat.. sekarang makan aja minta di suapin." Adam bergerak mengambil piring dari nakas.


" Tenaga lo lebih berguna buat nyuapin gue, daripada marah-marah gak jelas."


Adam mendengus mendengar ucapan sahabatnya itu, dengan telaten dia menyuapi Ana sampai makanannya habis. Adam juga menyiapkan obat yang harus Ana minum.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Faris melihat interaksi keduanya. Niat awal dia ingin mengajak Ana untuk makan siang bareng namun gadis itu sudah makan di temani oleh Adam.


" Selamat siang.." Dokter dan suster datang untuk jam kunjungan.


" Siang Dok.."


" Saya periksa dulu yaa.." Dokter langsung melakukan pemeriksaan.


" Kondisi Nona sudah lebih baik, nanti setelah infusan habis Nona sudah bisa pulang.."


Ana tersenyum senang, akhirnya dia di perbolehkan pulang.


" Tadi di depan saya bertemu dengan Tuan Faris, dia meminta izin kepada saya agar Nona bisa segera pulang jika kondisinya sudah membaik."


" Baik Dokter, terima kasih sudah merawat saya dengan baik."


Dokter mengangguk lalu keluar dari kamar rawat Ana. Ana masih memikirkan ucapan Dokter tadi. Faris datang tapi kenapa dia tidak masuk ke dalam? Biasanya lelaki itu suka datang tiba-tiba dengan membawa makanan dan sibuk bertanya banyak hal padanya.


" Dam, gue mau tanya.. Boleh?"


Adam mengernyit, tumben sahabatnya itu harus izin dulu kalau ingin bertanya.


" Mau tanya apa rabit?"


TBC..!!

__ADS_1


Jangan lupa VOTE, KOMEN dan LIKE...


__ADS_2