PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 64


__ADS_3

Lea masih memandang sekeliling, usaha yang Faris lakukan untuk hari ini sangat memuaskan. Sahabat suaminya itu dua minggu yang lalu datang membawa kabar mengejutkan, dia juga memaksa Gavin agar menemaninya mengurus semua tapi Gavin menolak, dia mana mau memiliki kesibukan lain selain bekerja, yang ada waktunya untuk Lea akan habis.


Cup…


Lea tersentak kaget karena ada yang mencium pipinya. 


" Serius banget sih sampe aku di cuekin.." Kekeh Gavin sambil mengusap pipi chubby Lea.


Lea terkekeh, " Aku lagi liat hasil perjuangan sahabat kamu.. Tau kan gimana hebohnya dia gangguin kamu dua minggu lalu."


Gavin mengangguk, " Gitu kalau panik padahal sahabatnya sendiri punya EO yang bisa bantu dia."


" Eh iya, Devian udah lama gak main sama kamu ya By..?" 


" Dia lagi sibuk sama kerjaan dia sampai bikin Clarissa ngamuk."


" Aku jadi ngebayangin, sahabat kamu itu kalau lagi berdua sama Clarissa gimana?" Gavin tertawa.


" Dia kalem cuma sama orang gak deket aja, kalau lagi ngumpul sama kita, dia konyol juga kaya Faris."


" Leaaaa…" Ana menghampiri Lea dengan berlari membuat Faris berdecak.


" Selamat ya An.. Akhirnya jadi juga sama Faris, selangkah lagi nih semoga di lancarin sampai hari H."


" Aamiin, makasih bumil.." Ana memeluk Lea dengan rasa bahagia.


" Lain kali nggak usah lari sayang, nanti kalau kamu jatuh gimana?" Ana terkekeh lalu merangkul lengan Faris.


" Inget ya, jangan panik lagi.. Sekarang udah tau kan harus gangguin siapa?"


Faris mengusap tengkuknya menahan malu, " Iya bumil tenang aja.."


" Wey bro, congrats…" Suara dari belakang Faris membuat lelaki itu memutar badan. Devian dan Clarissa datang dengan buket bunga cantik.


" Kirain gak jadi datang lo.. Gue blacklist jadi sahabat gue."


Devian berdecak, " Gue lagi kerja keras, nona cantik ini udah nodong buat gue nikahin."


Clarissa langsung memukul lengan pacarnya itu, " Sembarangan punya mulut.."

__ADS_1


" Becanda, jangan marah ya beib, aku kok yang ngebet buat nikahin kamu.."


" Cihh, sok romantis lo.." Cibir dua G di depan mereka.


" Ehh, siapa ya anda.. Kita kenal..?" Ledek Devian kearah Galen.


" Cla, lo mikir lagi deh buat pacaran apalagi nikah sama dia.. Udah jelek juga lupa ingatan lagi." Balas Galen.


" Sialannn.." 


Lea dan yang lain tertawa melihat interaksi Gavin dan ketiga sabahatnya. Mereka yang mulai sibuk dengan kesibukannya masing-masing seakan sejenak melepas rasa rindu karena sudah lama tidak berkumpul.


" Sayang mau kemana?" Tanya Gavin saat melihat Lea bangun dari duduknya.


" Aku mau ketoilet By.. Tapi aku di anter sama Trisa aja."


Gavin mengangguk namun tetap melihat Lea yang berjalan bersama Trisa.


" Vin, Lea lagi mau apa?" Tanya Galen, dia akan terus berusaha agar adiknya itu tidak mendiamkan dia.


" Sejauh ini sih belum ada yang aneh-aneh sama permintaan Lea, jangan coba-coba buat ngerayu bini gue.. Biar tau rasa lo..!!


" Dia bikin Lea marah, lo tau dari awal datang sampai sekarang Lea diemin dia.." Kekeh Gavin."


" Ck, pelit banget lo sama kakak ipar.. Ayolah, bantu gue kali ini." 


Faris terkekeh, Gavin memang diam saja tapi raut wajahnya menekankan rasa tak sudi punya kakak ipar kaya Galen.


" Kagak.. Usaha sendiri lo, lo udah bikin gue kesel terus panik pas Lea nangis lo batalin lagi buat pulang, Lea kelamaan nangis sampai nyesek belum lagi perutnya kram."


" Wah..wah parah tuh, gue mah gak akan izinin Lea buat maafin dia." Ucapan Clarissa membuat Galen semakin nelangsa.


" Mampus lo Len.." Umpat Faris.


" Mas…" Ucapan Faris membuat Faris terkekeh, Ana paling tidak suka jika dia mengumpat dengan kata-kata kasar.


" By, tadi aku liat ada yang bawa pisang coklat.. Aku mau juga."


Gavin bangun dari duduknya lalu melangkah menuju meja prasmanan.

__ADS_1


" Kita samperin Bunda sama Anto yuk mas, biasanya jam segini Bunda udah waktunya tidur dia gak bisa tidur malam."


" Gue tinggal dulu, kalian ambil makanan gih nanti kita ngumpul lagi."


Mereka pun berpencar ke tujuan masing- masing.


Lea masih memilih kue-kue yang menarik di matanya, dengan Gavin yang tetap setia di samping ibu hamil itu.


" Trisa, tolong pegangin piringnya.. Saya mau angkat telepon.. Sayang, aku angkat telepon dulu ya." Lea menjawab dengan anggukan.


" Tris, kayanya gak cukup satu piring.." Lea melihat tumpukan kue di piring yang Trisa pegang."


" Saya ambilin piring lagi Nona, tunggu sebentar.." 


" Eh, nggak usah Tris.. Segini dulu, rasanya pengen bawa semua kue-kue ini ke rumah." 


" Beneran gak jadi ambil yang lain?" Lea mengangguk dengan tidak rela, kue-kue itu sangat menggoda tapi dia juga ingat Gavin melarangnya untuk terlalu banyak makan makanan manis.


" Kayanya gue tau gimana caranya biar Lea nggak diemin gue lagi.." Gumam Galen sambil menatap kepergian Lea.


Lea sudah hampir menghabiskan kuenya namun Gavin belum juga kembali padahal dia hanya pamit untuk mengangkat teleponnya dan Lea belum melihat keberadaan suaminya itu.


" Gavin kemana ya Tris? Kenapa belum balik..?"


" Saya coba cari di depan Nona.." 


" Aku ikut Tris, sekalian mau ke meja Bunda dan Mom."


Trisa mengangguk lalu membantu Lea berdiri, mereka melihat sekeliling. Ballroom masih nampak ramai dengan para tamu, ada sebagian yang terlihat berdansa di depan panggung.


Lea melihat Gavin yang di tarik oleh seorang wanita. " Itu Gavin sama siapa Tris..?" Trisa mengikuti arah pandang Lea, sepertinya dia mengenali wanita itu.


" Ayok Tris, kita susul Gavin.." Lea berjalan cepat tidak sadar kalau perutnya sedikit terguncang.


Lea berhenti dengan tatapan nanar, di sana dia melihat Gavin sedang di cium pipinya oleh wanita itu.


" Hubby…" Lirih Lea sudah dengan mata berkaca-kaca, dia juga merasakan perutnya sakit karena kram.


TBC..!!!

__ADS_1


__ADS_2