
Lea mengerjapkan matanya, dia melihat ke atas nakas jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, belum terlalu siang namun sang surya sudah menampakkan cahayanya.
" By.. Hubby.. Bangun.." Lea menepuk pelan tangan Gavin yang melingkar di perut buncitnya.
" Ehmm, bentar lagi sayang.." Calon papa itu bukan bangun malah semakin memeluk pinggang Lea.
" Aku mau ke kamar mandi By, kebelet pipis inih.."
Gavin mengangkat wajahnya masih dengan mata setengah terpejam, " Sekarang jam berapa sayang..?"
" Jam 7.. Sekarang bangun terus mandi.."
" Ahh, sial.. Kalau gak ada meeting penting, aku lebih baik di rumah saja."
" Nggak boleh males gitu, katanya mau nyenengin istri jadi harus semangat kerjanya.."
" Kamu mau beli apa aja tanpa aku kerja ke kantor juga bisa sayang, suami kamu udah kaya raya dari lahir."
Lea menggelengkan kepalanya, " Iya tuan kaya raya, bangun sekarang atau gak ada jatah buat seminggu."
Gavin langsung bangun dari tidur lalu turun dari ranjang mereka, " Siap Ratu ku.. Hamba segera bergegas untuk kerja bagai kuda untuk mu."
Lea terkekeh, dia melangkah ke kamar mandi karena kantong kemihnya sudah penuh lalu mendorong tubuh besar suaminya untuk bergantian masuk.
__ADS_1
Setelah Gavin masuk dan mendengar suara gemericik air, Lea masuk ke dalam walk in closet untuk menyiapkan baju kerja untuk suaminya itu.
" Inget kamu gak boleh ngerjain apapun, cukup duduk cantik sambil kamu liat-liat online shop.. Aku udah isi saldo buat kamu belanja."
Lea mengangkat tangannya membentuk hormat, " Siap Hubby.. Jangan nakal di kantor, nanti siang aku kirim makan siang ya.."
" Aku seharian ini ada meeting di luar sayang, jadi nanti sekalian makan siang." Lea mengangguk.
Lea menunggu sampai mobil suaminya itu hilang dari pandangan matanya. Dia menoleh ke arah Trisa, " Kita mau ngapain yaa Tris..?"
" Nona lagi pengen apa? Tuan udah sediain semua kesenangan Nona.. Kita lanjut rajut baju buat baby aja gimana? Kemarin kan ada yang belum selesai.."
Lea mengangguk senang, " Kamu bener.. Siapin semuanya Tris, aku mau ambil ponsel dulu."
" Nona duluan aja ke Galeri, biar saya ambilin semuanya."
Asep dan Bian sudah membujuk Umi untuk menghubungi Lea mengenai kondisinya namun Umi menolak dengan alasan tidak ingin membuat Lea khawatir apalagi putrinya itu sedang hamil besar.
Ceklek..
Asep menoleh melihat dokter keluar dari ruang rawat Umi, " Gimana kondisi Umi dokter?"
" Kami sudah memberikan suntikan untuk meringankan rasa sakit.. Sore nanti kami akan ambil sample darah untuk pemeriksaan lebih lanjut, biarkan ibu anda tertidur mungkin efek obatnya sudah bekerja sekarang."
__ADS_1
" Baik dokter, terimakasih sudah menolong Umi."
Dokter hanya tersenyum lalu pergi menuju ruangannya, sedangkan Asep langsung beranjak masuk ke dalam. Umi tampak memejamkan matanya, wajah pucat itu masih terlihat. Wanita paruh baya yang dia sayangi setelah Ambu nya itu memang paling pandai menyimpan rasa sakitnya, dia tidak ingin membuat anak dan keluarga khawatir.
" Teteh Lea harus tau, nanti Asep pasti kena marah kalau gak bilang kondisi Umi.. Aduh Gusti, Asep teh pusing jadinya."
Dia mengambil ponsel di saku celana lalu mencari kontak Lea.. Sepertinya Lea memang harus tau.
Drrrrtttt… drrtttt
Lea melihat layar ponselnya yang menyala, nama Asep tertera di sana. Dia bangun dari duduknya untuk pindah ke sofa dekat jendela.
" Halo Asep.."
" Teh.. Teh Lea, Asep mau kasih tau soal Umi."
" Umi..? Umi kenapa Sep?" Hati Lea sudah tidak tenang.
" Maafin Asep kalau baru kasih tau teteh.."
Lea mengernyit, " Kenapa minta maaf Sep, Umi kenapa? Jangan bikin teteh takut."
Ceklek… " Baby bunny.. Abang datang.."
__ADS_1
" Azaleeeaaa…!!!" Galen berlari menghampiri Lea yang sudah lemas dengan ponsel yang sudah terjatuh ke bawah.
TBC..!!!