PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 8


__ADS_3

Pagi harinya Arik sudah tiba di kediaman Addison, seperti permintaan Gavin, dia datang lebih awal. Di meja makan sudah berkumpul Gavin dan kedua orang tuanya.


“ Pagi bos, Tuan besar, Nyonya..” sapa Arik.


“ Pagi Arik, sini duduk kita sarapan dulu.” ajak Bunda meminta Arik duduk di samping Gavin.


Arik sangat suka jika di ajak makan bersama dalam satu meja, Nyonya dan Tuannya tidak pernah membedakan perlakuannya meskipun dia hanya seorang ajudan.


Setibanya di kantor, Gavin mulai fokus dengan pekerjaannya. Dia ingin semua cepat selesai agar bisa segera menjemput Lea. Rapat di mulai setelah semua perwakilan divisi kumpul, tidak ada yang luput dari mata Gavin, semua dia jabarkan dengan rinci. Masing-masing perwakilan divisi memberikan laporan dengan data yang sesuai, tidak ada yang berani untuk bermain curang dengan bos nya itu, salah langkah sedikit saja maka Gavin akan terus mencecarnya.


“ Zio, kumpulkan semua hasil rapat.. terima kasih untuk kerjasamanya, kalian sudah berusaha yang terbaik, sekarang kalian boleh kembali bekerja.”


“ Baik bos, terima kasih..” saut mereka lalu satu per satu meninggalkan ruang rapat.


“ Jam berapa kita bisa bertemu dengan Tuan Shawn..?”


“ After lunch bos, Tuan Shawn bisa kita temui..”


Gavin mengangguk, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Lea. Baru satu hari tidak bertemu sudah membuatnya kangen, hari ini dia akan selesaikan semua urusannya agar bisa langsung menjemput Lea.


Lea sudah rapi dengan dress hitam bertali spaghetti di balut cardigan berwarna peach, rambut ikalnya dia gerai tanpa riasan make up, wajah Lea tetap terlihat cantik. Kemarin Gavin bilang akan menjemputnya hari ini jadi sebelum cowok itu datang, Lea menemani Umi untuk membeli keperluan dapur, dia juga ingin membeli oleh-oleh khas kampungnya untuk orang tua Gavin. Menaiki kendaraan umum, Lea dan Umi berangkat ke pasar.


Suasana pasar tradisional pagi ini ramai dengan para pembeli, Umi membeli beberapa bahan masakan dapur kecuali sayur mayur dan buah karena di lumbung Umi sudah tersedia. Lea membeli oleh-oleh khas dan beberapa cemilan serta kue kering.


Saat turun di depan gapura, Lea melihat Asep berdiri seperti menunggu seseorang.


“ Kamu lagi nunggu siapa Sep..?” tanya Lea.


“ Eh, teteh.. dari pasar ya..? sini Asep bawain..” Asep mengambil alih belanjaan dari tangan Lea.


“ Aa Gavin katanya mau jemput teteh ya hari ini..”


“ Kamu tau..?” Asep mengangguk.


Asep menaruh satu per satu belanjaan Umi di teras rumah, setelah semua berhasil di angkut dari depan gapura, Asep izin untuk pergi ke lumbung.

__ADS_1


“ Barang-barang kamu sudah di rapihin semua neng…?”


“ Udah Umi, Lea nggak bawa semua karena Gavin bilang nanti Lea beli aja di Jakarta nanti.”


“ Umi mau masak dulu biar nanti Gavin datang, dia bisa langsung makan.”


“ Iya Umi, Lea juga mau rapihin oleh-oleh tadi biar nggak ketinggalan.”


Sebelum jam makan siang Gavin tiba rumah Lea, Umi mengajak Gavin untuk makan siang bersama sekaligus memanfaatkan waktunya bersama Lea.


“ Umi, Gavin izin ajak Lea ke Jakarta ya..”


“ Iya nak, Umi titip Lea..”


“ Umi, Lea pamit.. Lea janji bakal sering nengok Umi.”


“ Jangan khawatirin Umi neng, Umi banyak yang jaga di sini.”


Arik dan Asep berjalan terlebih dulu di ikuti oleh Gavin dan Lea. Sepanjang jalan menuju mobil, Gavin tidak melepaskan genggamannya. Dalam genggamannya, Gavin dapat merasakan jemari Lea yang dingin.


“ Ayah sama Bunda sudah menunggu di rumah, aku udah ngomong sama Bunda semalam.”


“ Ehh.. jangan dong sayang, masa nggak jadi, kamu tenang aja ada aku.” bujuk Gavin.


“ Asep, Lea titip Umi ya.. kabarin kalau ada apa-apa.”


“ Siap Teteh.. Asep sama aa Bian akan jagain Umi seperti biasa.”


Mobil yang di kemudikan Arik melaju meninggalkan kampung halaman Lea, suasana yang akan Lea rindukan karena tidak akan di temukan di Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, mereka tiba di kediaman Addison. Lea menatap kagum rumah yang lebih mirip mini kingdom itu.


“ Ayo sayang.. kita sudah sampai..” Ajak Gavin mengulurkan tangannya.


“ Ini rumah kamu Vin..?”

__ADS_1


“ Rumah keluarga Addison.. rumah kita nanti aku tunjukkin.”


Gavin menggandeng Lea masuk ke dalam menuju ruang keluarga. Di sana sudah menunggu Ayah dan Bunda Gavin.


“ Ayah, Bunda..” panggil Gavin.


“ Hai sayang.. ini yang namanya Lea..?” tanya Bunda. Dia menatap Lea yang sedang tertunduk malu.


“ Angkat wajah kamu cantik, kenalin Bunda Agatha, ini Ayah Greg..”


“ Azalea tante, om..” ucap Lea mencium punggung tangan keduanya.


“ Bunda boleh tanya sama kamu..?” Lea mengangguk.


“ Kamu kenal sama Gavin dimana..?”


“ Di cafe.. pas Lea lagi kerja di sana.”


“ Kamu sayang sama Gavin..?” Lea mengangguk.


“ Apa sebelumnya kamu tau latar belakang keluarga Gavin?”


“ Lea nggak tau tante, Lea baru tau saat ini..”


Bunda mengangguk, “ Gavin, Bunda mau ajak Lea ke ruang kerja Bunda..”


“ Eh, jangan Bunda..” Larang Gavin.


“ Bunda nggak terima penolakan.. ayo sayang, ikut Bunda ke dalam.”


Lea menatap Gavin lalu mengikuti langkah Bunda.


“ Bundaaa.. Lea nya jangan di bawa pergi..” teriak Gavin namun Bunda tidak menghiraukan.


“ Ayahhh, itu Lea mau di apain..?”

__ADS_1


Ayah hanya bisa terkekeh, istrinya itu punya cara sendiri untuk mengenal gadis yang di bawa ke rumah oleh putranya. Gavin berharap Lea bisa meluluhkan hati Bunda nya itu.


TBC..!!


__ADS_2