PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 52


__ADS_3

Lea sedang memakaikan dasi di leher Gavin, wajah cantiknya tampak memberenggut kesal. Semalam Gavin memberitahukan bahwa hari ini dia harus ke Surabaya selama tiga hari. Kabar yang membuat Lea kesal bukan hanya karena Gavin yang baru bicara padanya juga karena hari ini bertepatan dengan jadwal kontrol kehamilannya.


" Kalau bisa di tunda pasti aku batalin sayang.. Jangan gitu mukanya." Ucap Gavin sambil menciumi pipi chubby Lea.


" Aku cuma sedih, kamu nggak bisa temani aku cek baby.. Apa aku undur ya biar kamu bisa temani aku..?"


" Tapi kalau di tunda sampai aku pulang, kasian Umi nggak bisa ikut lihat cucunya." 


Lea menghembuskan nafasnya, dia jadi galau kalau dia tunda Umi belum tentu bisa ada waktu buat datang dalam waktu dekat tapi kalau sekarang Gavin tidak bisa menemani.


" Aku janji, kontrol bulan depan aku pastiin aku libur.. Jadi nanti sama Umi dulu yaa, Bunda juga katanya mau ikut."


Gavin memeluk tubuh Lea memberikan usapan dan kecupan di kening istrinya itu.


Lea turun bersama Gavin menuju ruang makan, di sana sudah ada Umi dan Trisa.


Dua hari yang lalu, Umi di jemput oleh supir karena ingin ikut Lea saat memeriksa kehamilannya. Sepertinya waktu berkunjung saat ini di perpanjang karena Gavin yang akan keluar kota.


" Jangan sedih neng, suami kamu kan lagi mencari nafkah.."


Lea mengangguk, " Dulu Umi malah harus sabar nunggu abah pulang sejak memutuskan kerja di kota."


" Sekarang kamu siap-siap sana.. Umi juga mau ganti baju sekalian tunggu mertua kamu datang."


Raut bahagia terpancar dari wajah kedua wanita paruh baya itu, mereka berempat baru saja keluar dari apotik setelah menebus vitamin. Saat di ruang dokter, Trisa menghubungi Gavin untuk melakukan videocall agar bos nya itu bisa melihat Lea saat di periksa oleh dokter.


" Dengar tadi dokter bilang apa? Kamu harus hindari stres, nggak boleh sedih berlebihan karena itu juga ngaruh ke anak kamu."


" Iya Umi, Lea cuma sedih kalau jauh dari Gavin."


" Keduanya memang sama-sama bucin, kalau nggak ingat tanggung jawab pasti nempel terus kaya lem sama kertas." Ledek Bunda.

__ADS_1


Lea dan Trisa tersenyum mendengar ucapan Bunda, mertuanya itu juga mengingatkan untuk menjaga pola makan dan istirahat.


" Bun, Lea mau makan bakso yang di dekat komplek." Ucap Lea.


" Yasudah kita ke sana langsung.." Jawab Bunda sambil masuk ke dalam mobil.


Ana sedang membereskan baju dari dalam tasnya, kemarin dia keluar dari rumah sakit setelah dokter datang memberikan resep obat dan vitamin untuk Ana, dia juga di temani oleh seorang ajudan yang di perintahkan oleh Faris. Lelaki itu tidak menampakkan wajahnya sampai Ana keluar dari rumah sakit, info yang dia terima lelaki itu sedang di luar kota. Jauh di lubuk hatinya, dia menanti spam chat yang sering lelaki itu kirimkan namun bukannya ini seperti kemauannya?


Adam juga sedang sibuk dengan tugas kampusnya, terakhir bertemu saat cowok itu datang menjenguknya dan berakhir dengan segala wejangan yang cowok itu berikan. 


Dia teringat ucapan Adam sewaktu dia menanyakkan sesuatu.


Flashback..


" Dam, gue boleh tanya sesuatu..?"


" Mau tanya apa rabit..?"


" Kenapa emangnya dia?"


" Dia bilang suka dan minta gue jadi pacarnya."


" Yaudah tinggal di jawab.."


" Ish, gembul.."


" Lah, salahnya dimana? Dia kan minta lo jadi pacarnya.. Ya lo jawab mau atau kagak."


" Nggak segampang itu.."


" Apa yang buat gak gampang? Tinggal ngomong doang."

__ADS_1


" Gue takut.."


" Lo nggak bisa menyamaratakan semua cowok seperti ayah lo An.. Kalau lo mikir gitu sama artinya lo bilang kalau gue sama kaya dia."


" Lo beda Dam, lo baik.. Nggak pernah kasar dan main tangan cuma bawel aja sih ngalahin Bunda."


" Itu muji apa ngehina?"


" Gue harus gimana?" 


Adam terdiam lalu memandang wajah sahabatnya itu. " Lo tanya hati lo An dan berusaha buat jujur sama diri sendiri.."


" Gue akan dukung apapun keputusan lo.."


Tok.. Tok..


Ana membuka pintu kamarnya, wajah Anis terlihat. Teman satu kosannya membawa plastik makanan yang dia ambil di depan.


Dia menaruh bungkusan itu di atas meja, dua makanan dari dua orang berbeda.


Dia menyunggingkan senyumnya, sepertinya dia tau apa yang harus dia lakukan saat bertemu dengan lelaki itu.


Faris baru saja keluar dari ruang meeting, setelah satu hari tiba disana waktunya seakan menipis bahkan untuk menghubungi Ana serasa sulit. Tapi kecemasan yang dia rasakan bisa terobati setelah mendapat laporan dari ajudan yang dia perintahkan untuk mengawasi Ana.


" Aku kangen banget An.. Tapi kerjaan seakan mengunci pergerakan aku buat ketemu sama kamu, kalau bukan karena kontrak milyaran udah aku tinggal pulang." Gumam Faris sambil melihat foto Ana di layar ponselnya.


Tring..


" Jangan lupa di makan makanannya.. Tunggu aku pulang yaa.. See u calon pacar."


Pesan singkat yang di kirim Faris tanpa sadar membuat Ana menyunggingkan senyuman. Ada perasaan berdebar saat membayangkan pertemuan mereka nanti.

__ADS_1


TBC…!!


__ADS_2