PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 30


__ADS_3

Gavin dan Lea baru saja selesai membersihkan diri, keduanya berjalan menuju ruang keluarga dimana ketiga sahabat mereka berada.


" Cewek kalau udah jadi bini orang kenapa tambah cantik ya..?" celetuk Faris saat melihat kedatangan Lea dan Gavin.


Ibu hamil itu terlihat cantik dengan dress motif flower yang pas di tubuh mungilnya.


" Nggak usah ngeliatin istri gue kaya gitu, bro.." dumel Gavin tidak suka.


" Dulu kita sering ya liatin Lea.. kenapa baru sekarang di larang?" ucap Devian.


" Yang jelas sekarang udah nggak boleh.." jawaban Gavin membuat ketiganya mendengus.


" Duduk sini sayang.." Gavin menarik pelan tangn Lea dan mendudukkannya di pangkuan lelaki itu.


Lea duduk di pangkuan Gavin sambil memakan buah yang sudah di siapkan oleh Agusta.


" Le, kamu nggak ada rencana pulang buat ketemu Umi dalam waktu dekat?" tanya Galen.


" Eh, Lea belum ada rencana ke sana.. kenapa emangnya?" jawab Lea.


" Gapapa.." ucapan Galen membuat Gavin mengernyit, Gavin merasa aneh dengan pertanyaan sahabatnya itu.


" Tadi dalam rangka apa buat hiasan di taman belakang?" tanya Devian.


" Nggak dalam rangka apa-apa sih cuma ingin kelihatan cantik aja.. gapapa kan sayang?" ucap Lea sambil menoleh pada Gavin.


" Kamu bebas melakukan apapun di rumah ini nyonya.." kekeh Gavin.


Lea tersenyum mendengar ucapan Gavin, ibu hamil itu udah selesai menghabiskan buahnya.


" Aku mau eskrim sama martabak.." celetuk Lea membuat ke empat lelaki itu tersenyum.


" Gue pesenin yaa.. mau apa lagi?" ucap Galen membuka aplikasi untuk memesan makanan keinginan Lea.


" Pesen pizza 1 meter dua sabi lah.." ucap Faris membuat Galen mendelik tajam.


" Ini khusus buat ibu hamil ya, bukan buat perut karung doyan makan kaya lo jadi nggak usah ambil kesempatan." jawab Galen.

__ADS_1


" Pelit banget lo..sekalin elah." protes Faris.


Gavin melihat mata Lea berkaca-kaca sambil memandangnya.


" Kenapa sayang? kamu mau apa lagi biar di pesanin." ucap Gavin.


Lea menggeleng, " Aku nggak mau eskrim sama martabak.."


" Terus maunya apa?"


" Nggak mau yang lain juga, kata Galen kalau doyan makan nanti perut aku kaya karung." ucapan Lea membuat mereka terkekeh.


" Perut kamu ini lagi ada malaikat kecil jadi kalau kamu makan banyak semakin sehat juga dia."


" Lagi pula badan kamu mau gimana pun nanti bentuknya tetap terlihat cantik dan tetap aku sayang."


" Hei, kamu nggak percaya sama omongan aku?" ucap Gavin saat Lea menatapnya curiga.


" Gue kalau jadi Lea juga nggak akan percaya." celetuk Faris.


Lea memeluk leher Gavin lalu terisak. Dia jadi takut Gavin tidak akan mencintainya lagi saat badannya mengalami perubahan.


" Kamu tenang aja Lea, Gavin bisa di percaya kok.." ucapan Galen membuat Gavin tersenyum.


" Nggak usah ge er lo.. gue cuma nggak mau Lea nangis." Gavin langsung mendengus kesal.


Lea hanya memakan beberapa potong martabak dan eskrimnya masih tersisa, bumil itu tengah terlelap sambil memeluk leher Gavin.


" Lea pindahin dulu bro.. udah pules itu." ucap Galen.


Gavin langsung bangun dari duduknya lalu melangkah keluar menuju kamar mereka.


" Biarpun nanti badan kamu membesar, aku tetap kuat buat gendong kamu.." gumam Gavin sambil membuka pintu kamar.


cup..cup..


Setelah memberikan kecupan, Gavin keluar kembali untuk menghampiri teman-temannya.

__ADS_1


" Lo udah ketemu sama Clarissa?" tanya Faris.


" Udah, tadi pagi di lobby kantor tapi nggak gue samperin." jawab Gavin.


" Pantes, dia telepon gue sambil marah-marah."


" Gara-gara dia, gue sampai ribut sama Lea.. gue harus mulai jaga jarak kayanya buat kebaikan dia juga."


" Dia udah biasa kumpul sama kita, susah kalau kita tiba-tiba menjauh." ujar Devian sambil meminum kopinya.


" Kalian ngumpul aja kaya biasa, gue juga masih bisa ikutan tapi mungkin nggak bisa sering dan lama kaya sebelumnya."


Ketiganya mengangguk..


" Udah ahh, gue tinggal yaa.. kalau mau nginep langsung ke kamar tamu aja."


" Buru-buru banget lo udah mau molor.." ucap Faris.


" Udah punya bini sayang kalau di anggurin.." ucapan Gavin membuat Devian dan Faris mendengus.


" Wei, sombong amat yang udah punya istri.. Nikah gue besok.." dumel Devian.


" Emangnya udah ada calonnya..?" ledek Galen.


" Nggak ada.." ucapan Devian membuat ketiganya tertawa.


" Cari calonnya aja dulu baru mikirin nikah.." kekeh Galen.


Galen baru saja tiba di rumah, dia memutuskan untuk pulang. Lelaki itu melihat berkas yang di kirimkan oleh ajudannya beberapa hari yang lalu. Dia buka lagi untuk meyakinkan semuanya, semakin di lihat semakin membuatnya pusing. Takdir seakan mempermainkannya. Entah dia harus bersikap senang atau sebaliknya tapi setidaknya semua keraguannya terjawab sudah.


" Apa gue harus bertemu dengan wanita itu biar semakin yakin?" gumamnya sambil meletakkan berkas itu.


Galen beranjak keluar dari ruang kerjanya, dia akan memikirkannya nanti jika harus menjalankan rencananya itu, saat ini kepalanya terasa berat, dan tidur sepertinya pilihan tepat saat ini.


TBC..!!


Jangan lupa VOTE, KOMEN dan LIKE ya bestie..

__ADS_1


__ADS_2