
Mobil yang di kendarai oleh Gavin sudah terparkir di parkiran khusus direksi. Dia melangkah masuk ke dalam. Tidak dia hiraukan atensi yang di berikan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Raut wajah yang tegas dan terkesan dingin sudah menjadi ciri khasnya.
Setiba di depan ruang kerjanya, Zio sudah menunggu dan mengikuti langkahnya ke dalam ruangan.
" Ini berkas untuk rapat nanti Bos, kondisi Nona Lea gimana?"
" Dia sudah lebih baik, besok dia udah bisa pulang.. Setelah ini ada jadwal lain?"
" Nggak ada Bos.."
" Ya sudah kamu bisa teruskan pekerjaanmu.. Nanti panggil jika waktu rapat sudah tiba."
Zio mengangguk lalu keluar dari ruang kerja Gavin. Gavin langsung menghubungi Lea dan bersiap untuk memulai rapat dengan rekan bisnisnya.
Sementara di negara tetangga, Devian baru saja tiba di bandara untuk menemui Clarissa. Lelaki tampan itu menarik kopernya, sudah beberapa hari ini dia sibuk dengan pekerjaannya dan saat ini dia datang karena permintaan gadis itu. Entah sampai kapan dia akan terus seperti ini, membuatnya berulang kali sakit karena sikap gadis itu namun tak juga membuatnya pergi menjauh.
Mobil yang menjemputnya sudah tiba di lobby hotel. Dia menghampiri resepsionis untuk mengambil kartu akses sesuai informasi dari gadis itu.
Klik..
Devian menaruh kartu akses dan lampu kamar langsung menyala. Dia merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya namun belum juga terlelap suara dering ponsel membuatnya terbangun.
" Iya Cla.. Ini gue baru aja sampe.." Devian melangkah menuju pintu dan membukanya, Clarissa masuk setelah pintu terbuka.
" Lo bukannya lagi pemotretan Cla..?"
" Udah kelar, tadi cuma satu vendor doang.. Jadi gue bisa balik cepat." Gadis itu dengan santainya berbaring dengan mini dress yang dia kenakan. Tak sadarkah dia, Devian lelaki normal.
" Yaudah sono lo balik ke kamar lo sendiri.. Gue mau tidur." Usir Devian sambil menarik tangan Clarissa namun gadis itu masih bergeming.
Devian memekik saat tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Clarissa, Devian spontan menahan tubuhnya agar tidak meniban tubuh gadis itu namun tetap posisi keduanya sangat dekat.
" Cla, apa yang lo lakuin?"
" Gue tuh mau istirahat di sini kenapa juga harus lo usir..?"
" Lo bisa istirahat di kamar lo sendiri Cla.."
Clarissa terkekeh menatap wajah tampan di hadapannya.
" Lo sadar nggak? Gue itu masih lelaki normal, sikap lo kaya gini lo nggak takut terjadi apa-apa?"
" Lo nggak mungkin berani ngelakuin itu sama gue Dev.."
" Gue yakin selama ini lo tau bagaimana sikap gue sama lo Cla.. Tapi lo buta buat sadar hal itu, dimata lo cuma ada Gavin sedangkan dia udah bahagia sama Lea."
__ADS_1
Clarissa mendengus, dia memang sadar dan semua ucapan Devian benar adanya namun hatinya menolak mengakui itu.
" Cinta itu nggak bisa di paksa Dev, gue tau semua perhatian yang lo kasih ke gue karena rasa sayang lo."
" Lo bisa ngomong gitu ke gue, kenapa nggak lo balik posisinya ke diri lo sendiri Cla..?!"
Clarissa terdiam, dia seperti tertampar dengan ucapannya sendiri.
" Apa yang lo harapin dengan perasaan lo saat ini Cla, lo bukan cuma nyakitin diri sendiri tapi juga orang lain."
Devian berdiri dan melangkah ke arah balkon meninggalkan Clarissa yang masih diam dengan posisinya saat ini.
Gavin dan Zio keluar dari ruang rapat, sesuai harapannya rapat dapat berjalan dengan baik, dia juga berhasil mendapatkan kerjasama dengan rekan bisnisnya itu.
" Zi, kamu bisa kirim hasil rapat tadi ke email seperti biasa.. Saya mau langsung ke rumah sakit."
" Baik Bos.."
Gavin melangkah menuju parkiran mobil, dia ingin segera menghampiri Lea. Padahal baru beberapa jam tidak bertemu sudah membuatnya rindu. Sebelum ke rumah sakit, dia akan mampir ke toko kue untuk membelikan pesanan Lea.
Ceklek..
Galen membuka pintu ruang rawat Lea, dia menyapa dan memberikan kantong berisi makanan untuk Lea.
" Kerjaan Galen udah selesai Mom lagipula Galen masih bisa memantaunya dari rumah."
" Ck..biasanya juga betah di kantor sampai buat nyari pasangan aja tidak sempat."
" Mom.. Gak usah bahas itu deh."
" Gapapa Mom, ingetin terus biar dia gak jadi bujang lapuk.." Ketiganya langsung melihat kearah pintu masuk, di sana Gavin baru saja datang.
" Sayang.." Pekik Lea senang melihat kedatangan Gavin.
Lelaki itu terkekeh lalu memeluk tubuh Lea, dia juga tidak malu menciumi Lea di depan Mom dan Galen.
" Kamu gak mau kaya gitu juga Len?" Sindir Mom.
" Mau, nanti kalau udah punya istri." Jawab Galen asal.
" Gimana mau punya istri, kamu aja gak gerak buat nyari..?!" Omel Mom.
" Mom kadang suka mikir, kamu itu normal atau nggak?" Lanjut Mom lagi.
" Astaga Mom, tega banget nuduh begitu.. Galen masih normal Mom, nggak suka makan pisang."
__ADS_1
" Ish, padahal pisang enak lho Bang.. Lea aja suka banget, ya kan sayang?"
Gavin mengangguk, dia terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.
" Kalau kamu nggak bisa dapat pacar dalam waktu dekat, Mom akan jodohin kamu sama anak teman Mom."
" Ya Tuhan, Lea tolongin abang.. Di kira nyari pacar kaya beli permen."
" Mom nggak mau tau.. Cepat dapetin pacar atau Mom jodohin."
Lea tidak lagi berkomentar, dia tengah fokus dengan makanan yang di bawakan oleh Gavin.
" Sayang, aku nggak bisa pulang sekarang..?"
" Besok aja ya.. Hari ini kamu masih istirahat di sini."
" Aku gak betah sayang, enakkan tidur di kamar kita daripada di sini.."
" Nanti aku ngomong sama Dokter dulu, kalau di izinin kita pulang sekarang."
" Bener yaa..?" Gavin mengangguk.
Akhirnya setelah berhasil merengek pada Gavin agar segera berbicara dengan Dokter, Lea di izinkan pulang hari ini.
Mom membantu Gavin membereskan semua barang Lea, Galen juga sudah menyiapkan kursi roda untuk Lea agar ibu hamil itu tidak berjalan menuju parkiran mobil namun Lea menolak, dia ingin berjalan dengan Gavin.
Setelah semua administrasi dan barang-barang selesai di kemas, Gavin dan Lea berjalan keluar dari ruang rawat dengan Mon dan Galen mengikuti di belakang.
Gavin ikut senang melihat wajah bahagia Lea bisa pulang hari ini, memang senyamannya rumah sakit masih lebih nyaman di rumah sendiri.
" Itu bukannya Faris Yang..?" Ucap Lea saat melihat Faris di lorong rumah sakit.
" Lo lagi ngapain disini?" Tanya Gavin Faris menghampiri mereka.
" Ana lagi di rawat di rumah sakit ini.. Gue habis nebus obat." Jawab Faris sambil mengangkat kantong plastik berisi obat.
" Ana drop lagi ya? Dia itu terlalu memaksakan badannya jadi kadang suka tiba-tiba mimisan bahkan waktu itu pernah pingsan saat di parkiran.
Faris terbelalak kaget, ucapan Lea sama seperti yang di ucapankan Ana tapi kalau sampai pingsan, Faris bisa menebak kondisi Ana tidak sedang baik-baik saja dan gadis itu masih menolah bantuannya.
" Kita ke ruang rawat Ana dulu yaa.." Gavin mengangguk dan mengikuti langkah Faris yang berjalan di depan mereka.
TBC..!!
Jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMEN yaa..
__ADS_1