PURPLE LOVE

PURPLE LOVE
Chapter 62


__ADS_3

Pagi hari Gavin sudah siap dengan baju kerjanya, Lea memang terbiasa menyiapkan semua perlengkapan kerja Gavin dan membantu Gavin memakai dasi kerjanya


" Apa ada yang kamu sedang pikirkan sayang?"


Azalea menggeleng, " Tidak By, cuma badan aku berasa cape aja.."


Gavin memeluk tubuh Lea, " Aku kan minta kamu buat jangan banyak aktifitas sayang, janji hari ini hanya duduk manis aja..?"


" Siap bos.. Yaudah sekarang kamu turun ke bawah, aku mau ambil kamera pocket dulu."


" Sayang, kamu mau aku hukum..?"


" Aku mau mindahin file aja nanti sama Trisa By.." Ucap cepat Lea saat Gavin memberikan ancamannya.


" Papa bawel ya nak.." Gumam Lea yang masih bisa di dengar Gavin.


Lea hanya bisa terkekeh membalas respon suaminya itu.


" Ingat jangan ban-"


" Nggak boleh banyak aktifitas, aku harus duduk cantik sambil nunggu kamu pulang.."


Gavin menggigit pipi chubby Lea karena gemas dengan ibu hamil kesayangannya itu.


" Udah berani motong ucapan aku yaa.. Nanti pulang kerja aku hukum, liat aja."


" Uhh.. Mau dong di hukum, apalagi hukuman yang enak.


Gavin tergelak, " Itu pasti sayang.. Gak usah khawatir."


" Dasar..!! Udah sana jalan, kasihan Arik nungguin kamu."


" Sayang…!!" 


" Iya.. Iyaa…"


Lea melambaikan tangannya melihat kepergian Gavin bersama Arik. Trisa yang menunggu di samping Lea hanya bisa tersenyum.


" Nanti siang aku mau ke kantor Gavin.."


" Baik Nona.. Jadi kita pindahin file fotonya?"

__ADS_1


" Jadi dong, bilang maid buatin kue sama jus.."


Trisa mengangguk lalu menghampiri maid untuk membuatkan pesanan Lea.


Ana dan Faris sudah tiba di Jakarta sejak dua hari yang lalu, pagi ini Ana ada kuliah pagi dan Adam sudah menunggu di depan gang kosan Ana.


" Ponsel lo kenapa gak aktif rabit..?"


" Gue dua hari kemarin pulang, Bunda sakit.."


Adam menoleh, " Kenapa gak ngomong?"


" Anto kasih kabar dadakan, selama di sana gue nggak merhatiin ponsel kalau udah mati kehabisan batre."


" Lain kali tetep kabarin gue rabit, nggak besti lo sama gue.."


Ana terkekeh, " Maaf gembul.. Janji nggak gitu lagi.."


" Halo mas.. Kenapa?" 


" Kamu udah sampe kampus..?"


" Udah mas, ini baru aja kelar kelasnya.. Ana langsung ke kantor habis ini."


" Nggak usah mas, ini Ana udah di halte busway."


" Yaudah hati-hati.."


Faris meletakkan ponselnya kembali, sejak kepulangannya dari kampung Ana dia sudah memikirkan rencananya. Dia tidak akan mundur lagi, dia tidak akan diam saja dengan apa yang terjadi pada Ana. Dia juga sudah mendapatkan restu dari Bunda dan Anto.


Faris membuka laci lalu mengeluarkan kotak beludru berwarna navi lalu membuka isinya. Sebuah cincin permata yg cantik yang simple seperti pemiliknya nanti.


" Aku harap nanti kamu nggak ada alasan buat nolak lagi." Gumam Faris meletakkan kembali kotak itu di dalam laci.


Lea sudah rapi dengan kontak makan di atas meja, dia mengenakan dress berwarna maroon yang kontras dengan warna kulit putih Lea. Tidak lupa flatshoes model balerina dan mini pouch.


" Supir sudah siap nona.." Ucap Trisa membuat Lea bangun dari duduknya dan melangkah keluar.


" Kamu belum memberitahu Gavin kan?" 


" Belum nona.."

__ADS_1


Lea mengangguk senang, dia ingin memberikan kejutan buat suami posesifnya itu.


Suasana jalan yang tak terlalu ramai membuat Lea bisa sampai di kantor Gavin dengan cepat.


Trisa dan Lea melangkah masuk, Lea hanya membalas dengan senyuman kepada satpam dan beberapa karyawan yang mengenalnya.


Sementara di ruangan Gavin tengah terjadi perdebatan. " Lain kali kamu tolak permintaan dia, kita hanya punya kepentingan dengan ayahnya."


" Baik bos, maafkan saya.."


" Hai Gavin.. Lagi sibukkah?" Kedatangan seseorang mengalihkan atensi keduanya.


" Baru saja di omongin, orangnya sudah datang.." Ucap Zio dalam hati.


" Ada apa? Apa kita memiliki janji hari ini?"


" Tidak ada, aku hanya ingin bertemu denganmu.. Kenapa semua chat dan telepon dari ku tidak kau respon..?"


Gavin meletakkan pulpennya lalu menatap wanita di depannya itu.


" Kita tidak ada kepentingan apapun selain kerja sama dengan perusahaan ayahmu lagipula waktu ku sudah sibuk dengan kerjaan dan kehidupan pribadiku."


" Apa kau sibuk mengurusi istri udikmu.. Dia itu tak pantas menjadi pendampingmu Gavin."


" Kalau dia tak pantas buatku lalu siapa? Kamu..?"


Sinta mengangguk, dia tersenyum.. " Jelas wanita seperti aku lah, dari kalangan atas, lebih cantik bisa kamu banggakan kesemua relasi kamu."


Gavin berdecis, perempuan ular ini tidak bisa di biarkan.


" Percaya diri sekali kamu, aku pasti lebih memilih istri ku di banding kamu.. Dengarkan baik-baik karena aku tak suka membuang waktu untuk urusan yang tak penting.. Aku sangat mencintai istriku, dia wanita baik dan pastinya sangat pantas menjadi pendamping ku, dia wanita yang akan aku tunjukkan dengan bangga bahwa aku beruntung telah menjadi suaminya dan tidak ada kesempatan buat wanita siapapun yang bisa mengganti posisinya."


Sinta menggeram kesal sambil mengepalkan tangannya, dia paling anti namanya di tolak seperti ini.


" Aku tau selama ini nomor yang telah berulang kali menghubungi ku adalah milik mu, dan itu sudah membuat istri ku tidak tenang.. Aku minta kamu berhenti untuk mengusik kehidupan ku apalagi kenyamanan istri ku jika masih kau lakukan aku tak segan membatalkan kerjasama dengan perusahaan milik ayahmu tidak peduli harus membayar semua penaltinya."


Di depan ruangan Gavin, Lea sudah mendengar semuanya. Dia masih terdiam dan tidak bergerak untuk masuk ke dalam ruangan Gavin.


...❄❄❄...


TBC..!!

__ADS_1


Jangan lupa terus dukung cerita aku yaa dengan VOTE, LIKE dan KOMEN..


__ADS_2