
"Gavin.. aku ingin bicara." teriak Clarissa namun tetap di abaikan oleh Gavin.
Clarissa hanya bisa pasrah meninggalkan kantor Gavin karena gagal berbicara dengan lelaki itu. Dia semakin kesal karena Gavin semakin sulit untuk di dekati.
Clarissa masuk ke dalam ruang agensi, dia duduk di samping asistennya yang sedang membuat jadwal kegiatannya.
“ Itu muka kusut banget kaya baju belum di setrika..?” ucap asistennya sambil terkekeh.
“ Nggak usah ngeledek, gue lagi kesel..” keluh Clarissa.
“ Bukannya tadi habis ketemu sama Gavin..?”
“ Emang ketemu tapi dia nggak mau ngomong sama gue..”
“ Gue harus gimana lagi buat deketin dia..?” ucap Clarissa putus asa.
“ Kau aja yang bego.. Udah ku bilang cari lelaki lain.. Masih aja ngejar-ngejar dia, di tambah sekarang dia udah punya bini.” ucap asistennya telak.
“ Lo kan tau gue udah suka sama dia dari dulu, bininya aja yang rebut dia dari gue..”
Asisten Clarissa menggeleng, “ Bener-bener bego.. Mana ada dia ngerebut, kalian kan nggak ada ikatan hubungan, kau saja yang baper..”
“ Ish nyebelin banget lo.. Bukan bantuin malah ngomelin gue..”
“ Kau kira foto waktu itu siapa yang ambil? Aku minta stop Cla.. stop!! Jangan sampai karir kau jadi taruhannya.”
Clarissa mendengus lalu berdiri dari duduknya, “ Gue mau pulang.. Kepala gue pusing."
Meri hanya bisa menghembuskan nafasnya, sudah beberapa tahun menjadi asisten gadis itu cukup membuatnya kenal luar dalam karakter bosnya itu. Clarissa yang keras kepala, susah untuk di berikan masukan dan cinta butanya yang semakin membuatnya ‘buta’.
Gavin tengah fokus dengan berkas-berkas yang baru saja di berikan Zio, pekerjaannya seakan tidak ada habisnya membuatnya tidak bebas bergerak bahkan untuk sekedar menghubungi istrinya itu.
Tingkah Lea belakangan ini membuat Gavin tidak ingin berjauhan dengan istrinya namun tugasnya di perusahaan tidak bisa di abaikan, selain tanggung jawab dengan para karyawan, dia juga harus memikirkan kesejahteraan istri dan anaknya kelak.
Tring..!
__ADS_1
Bunyi chat masuk di ponselnya membuat atensi Gavin teralih, dia melihat nama istrinya dan itu sukses membuat senyum Gavin mengembang.
Mylove..
Aku mau ke mall sama Trisa ya..
Gavin tidak membalasnya namun langsung menghubungi nomor Lea.
“ Halo sayang…” ucap Gavin saat teleponnya di angkat oleh Lea.
Gavin mendengarkan ucapan Lea dengan senyum tertahan, baru kali ini istrinya itu banyak bicara dan itu membuat Gavin gemas.
“ Iya sayang, belanja sepuasnya.. Nanti aku minta Ostin juga buat nemenin kamu sama Trisa, bye sayang.”
Setelah menutup telepon, Gavin meminta ajudannya untuk menemani Lea ke mall. Jika tidak ingat kertas di mejanya bernilai milyaran, ingin rasanya Gavin melenyapkan berkas-berkas itu membayangkan Lea pergi tanpa dia temani.
Gavin akhirnya bisa bernafas lega, semua berkas yang sudah mengalihkan dunianya akhirnya bisa di selesaikan. Dia baru hendak keluar dari ruangannya namun terhenti karena ada seseorang yang masuk, ternyata ketiga sehabatnya.
" Hai dude.. udah mau balik?" tanya Devian.
" Cek coba hape lo bro.. kita udah coba telepon tapi nggak aktif nomor lo." ucapan Galen membuat Gavin mengambil ponselnya di laci meja.
Gavin menunjukkan ponselnya yang mati, dia pun keluar dari ruangan di ikuti dengan teman-temannya. Gavin meminta mereka untuk mengikutinya pulang dan mengobrol di rumahnya saja.
" Lea gimana kabarnya..?" tanya Galen.
" Ngapain lo nanyain istri gue.." jawab Gavin.
" Astaga, emangnya kita nggak boleh nanya kabar Lea..?" cibir Faris.
Gavin hanya mendengus, dia masuk ke dalam mobil setelah Arik membukakan pintunya. Sempat terhambat kemacetan di beberapa ruas jalan, akhirnya mobil Gavin dan ketiga sahabatnya sudah terparkir di carport.
" Agusta, dimana istri ku..?" tanya Gavin.
" Nona Lea sedang berenang Tuan.." jawab Agusta.
__ADS_1
" Dari jam berapa..?" tanyanya lagi.
" Setelah makan siang.."
Gavin melangkah menuju taman belakang, dia melihat sekeliling dan mengernyit. Ada banyak hiasan di depan pintu penghubung menuju taman belakang.
" Selamat sore bos.." ucap Trisa saat melihat Gavin datang.
Gavin hanya mengangguk lalu melihat Lea sedang bersandar pada matras balon berbentuk angsa dengan bikini yang melekat di tubuh ramping Lea.
Gavin langsung berbalik badan dan meminta ketiga sahabatnya untuk memutar badan, dia juga meminta Trisa untuk membangunkan Lea dan menyuruhnya untuk memakai bathrobe.
" Gavin.." ucap Lea saat melihat punggung Gavin.
" Sayang, cepat pakai bathrobe.. ada teman-teman aku." ucap Gavin.
Trisa membantu Lea turun dari matras dan memakai bathrobe nya. Gavin pun langsung menghampiri Lea dan memeluk tubuh istrinya.
" Gavin pelit banget nggak boleh lihat Lea pakai bikini.." cibir Faris.
" Iya, ibu hamil itu makin seksi kalau pakai bikini.." ucap Devian menambahi.
Gavin melepas pelukannya lalu menatap tajam wajah kedua sahabatnya.
" Nggak gue izinin.. enak aja." dumel Gavin.
" Cih, sok posesif.. Lea kan punya kami juga." ucap Galen.
" Nggak ada..!!" teriak Gavin membuat ke empatnya tertawa.
Lea senang bisa melihat kebersamaan mereka, sudah sering ikut berkumpul bersama membuat Lea tau karakter ke empat lelaki itu.
TBC..!!
***
__ADS_1
Jangan lupa VOTE, KOMEN, dan LIKE..