
Setelah mobil berhenti di halaman rumah, Kanaya langsung masuk ke dalam dan meminta Ivander untuk menyusulnya.
" Akhirnya kamu pulang juga.."
" Papi, Kanaya mau ngomong.."
" Kamu mau ngomong apa?"
" Kalau Naya punya calon sendiri, Papi nggak akan paksa Naya nikah sama lelaki itu kan?"
Pria paruh baya itu mengernyit menatap wajah putrinya itu, " Kamu sudah ada calon..?"
Kanaya mengangguk, " Naya punya, Ivan orangnya.."
" Nona.. Tuan.. Maaf say.." Ucapan Ivander terpotong karena ucapan Kanaya.
" Naya mau menikah sama Ivander.."
Kanaya dapat melihat perubahan mimik wajah Papinya itu, ucapannya pasti membuatnya kaget tapi daripada dia menikah dengan lelaki mesum pilihan Papi lebih baik dengan supirnya.
" Apa alasan kamu mau menikah dengan Ivan selain karena Papi jodohkan?"
" Dia lelaki yang baik, selama menjadi supir pribadi Naya tidak pernah bersikap kurang ajar dia selalu menjaga Naya dengan baik.."
" Apa kamu mencintainya?"
Kanaya terdiam, " Naya.. Ehm, Naya memang belum mencintainya tapi cinta bisa hadir karena terbiasa.. Tak sulit bagi Naya untuk sayang dengan Ivan."
Papi menganggukkan kepalanya, " Apa Ivander mau menikah denganmu..? Coba kamu tanyakan..?"
Kanaya menoleh ke arah lelaki itu, " Kamu mau kan menikah denganku?"
__ADS_1
Ivander terdiam, apa yang harus dia jawab. Dia dapat melihat tatapan tajam Tuannya yang menunggu jawaban darinya.
" Bagaimana Ivan? Kamu mau menikahi putri ku?"
" Tuan.. Ehm Nona Kanaya bisa menikah tapi tidak harus dengan saya Tuan." Jawab Ivander sambil tertunduk.
" Itu artinya kamu menolak permintaan Kanaya?"
" Ivan..!!" Teriak Kanaya.
" Sa.. Saya.." Ivander tidak tau lagi harus menjawab apa, lelaki itu terdiam masih dengan posisi menunduk tidak berani menatap wajah Tuan dan Nonanya.
Flashback Off
Azalea menghembusnya nafasnya, dia meringis saat merasakan perutnya terasa kencang.
" Sayang, kamu kenapa?" Ucap Gavin panik mendengar ringisan Lea.
Lea hanya menjawab dengan gelengan membuat Gavin berdecak kesal.
" Gavin…" Pekik Lea menatap tajam suaminya itu.
" Lanjutin Len ceritanya.." Gavin hanya bisa pasrah, istrinya itu tetap memaksa Galen untuk terus cerita.
" Intinya, pernikahan Mom sama Abah akhirnya terjadi.. Dan dua hari kemudian Abah cerita kalau dia sebenarnya juga baru saja menikah dengan Umi, Mom langsung meminta agar Abah menceraikannya karena dia nggak mau jadi orang ketiga di pernikahan Abah dan Umi tapi Abah menolak karena baginya pernikahan bukan permainan yang bisa seenaknya meminta untuk berpisah."
" Aku nggak bisa bayangin gimana perasaan Umi saat tau Abah punya istri lagi.."
" Mom cerita, saat Abah memberitahukan pernikahan keduanya respon yang Umi berikan terbilang tenang, dia tidak histeris dan bertindak kasar baik ke Mom atau Abah namun air mata tetap mengalir di wajah cantiknya seakan menjelaskan luka terdalam yang telah Mom dan Abah berikan."
" Aku sebenarnya nggak cerita sekarang Le, tapi karena permintaan Opa.. Dia ingin semua bisa selesai sebelum dia meninggal."
__ADS_1
Gavin dan Lea tidak mengeluarkan suaranya, cerita Galen cukup membuatnya kaget. Ternyata di balik keharmonisan rumah tangga Umi dan Abah, ada luka yang mungin tak akan sembuh meski sekarang Abah sudah pergi.
Sementara di tempat lain, Ana baru saja selesai membersihkan diri. Dia merebahkan tubuhnya di kasur sambil memeluk guling, kejadian beberapa jam yang lalu membuatnya sulit memejamkan mata.
" Maaf aku mas Faris.."
Ana masih ingat saat lelaki itu menyatakan rasa sayangnya dan memintanya untuk menjadi kekasihnya namun dengan berat hati harus Ana tolak. Mereka belum ada sebulan kenal jadi Ana sangsi dengan perasaan yang lelaki itu ucapkan lagi pula, percintaan bukan prioritasnya saat ini jadi Ana tegas untuk tidak memberikan harapan untuk lelaki itu.
Brakk..
Faris melempar kunci mobilnya di atas nakas, tubuhnya terasa lelah terlebih hatinya. Cintanya bertepuk sebelah tangan, gadis yang dia suka ternyata tidak membalas rasa sayangnya. Entah apa yang ada di hati dan pikiran gadis itu sampai menolak permintaan untuk menjadi kekasihnya.
" Apa gue terlalu cepat buat nyatain perasaan?" Gumamnya sambil melihat foto wallpaper di layar ponselnya. Fotonya dengan gadis yang telah mematahkan hatinya itu.
" Sayang, aku mau ketemu Umi.." Ucap Lea saat Gavin memberikan usapan di punggung istrinya itu, sejak tersadar dari pingsannya Ibu hamil itu tidak mau di suruh tidur oleh Gavin.
" Iya, tapi tidak dalam waktu dekat ini.. Kamu harus lebih banyak istirahat, nggak usah mikir yang berat.. Kamu harus terus happy biar baby kita juga happy sayang."
" Kamu bisa minta Umi buat datang ke Jakarta.."
" No sayang.. Sementara urusan masa lalu Umi dan Abah kita bicarain nanti lagi.. Galen juga aku larang buat ketemu kamu sementara waktu."
" Eh kenapa kamu larang..?" Tanya Lea.
" Kesel aja ngeliat muka dia.." Jawab Gavin asal.
" Ck.. Aneh banget alasan kamu." Cibir Lea membuat Gavin terkekeh.
Lelaki itu memberikan ciuman bertubi di wajah Lea membuat ibu hamil itu memekik sambil menjauhkan wajah Gavin.
" Males banget gue harus jadi ade iparnya Galen, bisa makin ngelunjak tuh bocah.." Gumam Gavin dalam hati sambil terus menggangu Lea.
__ADS_1
TBC..!!
Jangan lupa VOTE, KOMEN dan LIKE..!!