
Lea baru saja selesai memakai dasternya, ibu hamil itu menatap kesal ke arah Gavin. Dia di perlakukan layaknya seorang pesakitan sampai mandi harus di mandikan oleh suaminya itu.
" Sayang, aku mau pulang.." Rengek Lea setelah duduk di ranjangnya.
" Besok kita pulang, hari ini kamu masih istirahat di sini.." Tolak Gavin. Calon Papa itu menghampiri Lea dengan piring di tangannya.
" Tapi kata dokter, aku udah boleh pulang.." Ucap Lea di sela suapan yang di berikan Gavin.
" Biarpun dokter bilang kamu boleh pulang tapi tetap aja aku yg kasih izin kamu pulang hari ini atau nggak?"
Lea mendengus, " Ayah sama Bunda tau aku masuk rumah sakit?"
" Aku nggak kasih tau sayang, nanti kalau kamu udah di rumah baru aku kabarin.."
" Kapan kamu mau ajak aku ketemu Umi..?" Tanya Lea.
" Kapan-kapan.." Jawab Gavin asal.
" Ish, kamu mah.."
" Dengar aku sayang, untuk masalah itu nggak usah kamu pikirin.. Kamu fokus saja sama kehamilan kamu, lagipula Umi belum tentu mau cerita kalau kamu tanya langsung sama dia.. Itu sama aja membuka luka lama Umi, kamu mau Umi sedih?"
Lea menggeleng, dia tidak mau Umi sedih mengingat kisah rumah tangganya bersama Abah.. Tapi dia penasaran ingin dengar cerita dari sisi Umi.
" Aduh, sayang sakit..!!" Pekik Lea saat Gavin mencubit hidungnya karena keasikan melamun.
" Kamu lagi mikirin apa sampai aku panggil nggak nyaut?"
" Nggak mikirin apa-apa.."
Gavin tau Lea sedang memikirkan Umi.. Cepat lambat semua yang di rahasiakan oleh Umi pasti akan Lea ketahui meskipun Galen tidak menceritakannya.
" Pagi adek abang yang cantik.." Teriakan Galen membuat Gavin dan Lea menoleh pada pintu masuk.
" Berisik.." Omel Gavin.
" Lihat abang bawa apa nih buat Lea..?" Galen tidak menanggapi ucapan Gavin membuat Gavin mendengus.
" Wah, makasih banyak.. Tau aja Lea lagi mau ini." Lea terlihat semringah membuka paperbag yang Galen bawa.
" Sayang, suapin aku.." Rengek Lea saat melihat Gavin dan Galen saling melempar tatapan tajam.
__ADS_1
Gavin mengambil tempat makan dari tangan Lea lalu menyuapkan waffle ke mulut Lea.
" Lo ngapain pagi - pagi datang ke sini?" Tanya Gavin. Dia tau sahabatnya itu paling tidak bisa bangun pagi sama seperti Devian.
" Jenguk adek gue lah, bawain sarapan kali aja suaminya lupa kasih makan." Jawab Galen membuat Gavin langsung memukul pundak sahabatnya itu.
" Sembarangan.."
Lea hanya bisa terkekeh melihat interaksi keduanya, dia tidak tau tepatnya Gavin jadi sensi setiap melihat Galen apalagi kalau mulai caper dengannya.
" Devian sama Faris nggak di ajak?" Tanya Lea.
" Mereka mah belum bangun jam segini Le.. Kalau bukan karena ada kerjaan pasti bangun siang." Jawab Galen
" Lo juga gitu yaa.." Sambung Gavin.
" Oh, kalau sekarang gue udah terbiasa bangun pagi.."
" Cih..! Udah sana lo pergi ke kantor." Usir Gavin.
" Sayang, nggak boleh gitu ih.."
" Nggak usah..!!"
Lea memutar bola matanya malas, lalu tersenyum melihat lelaki tampan di depannya. Lelaki yang sekarang dia panggil abang.
" Iya, hati-hati.. Makasih buat sarapannya."
Galen mengangguk lalu melangkah keluar dari kamar Lea.
" Aku nggak suka kamu sering senyum sama Galen.." Protes Gavin, lelaki itu duduk di samping ranjang sambil memeluk tubuh istrinya.
" Masa aku nggak boleh senyum, senyum kan ibadah sayang.. Emang kamu mau aku di bilang sombong atau angkuh karena nggak senyum?"
" Kalau senyum buat cewek boleh, tapi kalau buat cowok nggak boleh sayang.. Senyum kamu cuma buat aku."
" Haish.."
" Oh iya, aku belum siap buat ketemu Mommy nya abang.. Gimana yaa?"
" Dia cuma ingin ketemu sayang.. Mommy nya Galen baik kok.."
__ADS_1
Tadi sebelum Galen pergi, lelaki itu sempat bilang kalau sang Mommy ingin bertemu dengannya. Bukan Lea tak mau hanya saja dia bingung harus bersikap bagaimana saat bertemu nanti.
" Aku mau baca novel online dulu.. Kamu habisin waffle nya."
Gavin melepaskan pelukannya lalu beranjak mengambil tempat makan yang tadi di bawa oleh Galen. Waffle buatan Mommy Galen memang terenak dan menjadi favorit dia dan ketiga sahabatnya.
Dia menoleh ke arah Lea, ibu hamil itu sedang serius melihat ponselnya. Kebiasaan baru yang Lea sukai saat senggang melihat novel online di ponselnya. Dia pun membiarkannya selama istrinya senang Gavin tidak akan melarangnya.
Faris sudah rapi dengan baju kerjanya, dia akan ke kantor terlebih dahulu sebelum datang ke Galeri nya.
" Den, ini titipan Nyonya buat Aden.." Bibi menyerahkan paperbag ke tangan Faris.
" Mama udah pergi Bi..?"
" Udah, baru aja.. Nanti mau di masakin apa Den?"
" Aku mau di masakin soup jamur sama buatin pudding coklat juga."
" Baik Den.."
Faris keluar rumah menuju mobil sport yang sudah terparkir di depan. Dia memasang earphone lalu menghubungi crew, dia juga sempat menanyakan keberadaan Ana namun gadis itu katanya belum tiba di Galeri.
" Apa aku ke Galeri dulu yaa?" Gumamnya sambil tetap fokus ke jalan.
" Gue udah bilang nggak usah masuk dulu.. Lo nggak ngaca tuh muka pucet banget..?!" Omel Adam sambil terus melajukan motornya.
" Gue gapapa Dam.. Nggak usah berlebihan."
" Gapapa gigi lo..!! Dasar keras kepala.."
Ana tersenyum menampilkan gigi putihnya, " Makasih lho udah perhatian sama gue.."
Adam mendengus kesal, " Nggak usah senyum-senyum lo.. Bikin gue makin kesel aja."
Ana memeluk tubuh Adam dengan gemas dan Adam membalas dengan usapan di puncak kepala Ana.
Mereka tidak sadar interaksi keduanya di lihat oleh Faris dan mencengkram setir dengan kencang.
TBC..!!
Jangan lupa buat VOTE, KOMEN dan LIKE ya bestie...
__ADS_1