Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Tidur Denganku


__ADS_3

Untuk sementara, kami menghentikan percakapan bodoh itu. Saatnya makan siang. Dia mungkin kehilangan kata-kata. Dan memutuskan untuk kembali ke meja makan. Aku pun setuju, aku harus makan. Itu sangat penting. Untuk apa bekerja mati-matian jika masalah makan 3 kali sehari pun tidak bisa ku tangani dengan baik? Lagipula, kejadian itu sangat melelahkan bagi kondisi mental. Menguras energi. Aku perlu asupan.


Kami mulai menikmati hidangan Chinese food yang sedari tadi sudah ada di atas meja. Menunya beragam. Dan untuk itu aku senang. Ditambah lagi, rasanya lezat. Seorang Jade tidak akan pernah menghianati yang namanya makanan dan memperlakukannya dengan buruk. Tidak ku pedulikan ekspresi wajahnya yang keheranan melihat aku asik makan dan bersikap seolah-olah barusan tidak terjadi apa-apa di antara kami. Dia dengan aktif meminta ku untuk makan dengan lahap. Sesekali menaruh beberapa potong sayuran, ayam atau tumis sapi di piringku.


"Jade, maafkan aku..." Dia berkata di tengah-tengah suasana khidmat itu. Tidak ku pedulikan.


"Jangan khawatir, setelah jam 5 sore nanti aku akan melupakan semua yang terjadi di sini."


"Dan beri aku kesempatan."


"Termasuk itu..." Jawabku cepat. Dia menjadi tidak tenang tapi sambil tetap mengisi piringku dengan makanan. Mungkin untuk menebus rasa bersalahnya. Dia bersikap sangat baik. Entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang hangat merayap masuk ke dalam hatiku. Sikap itu adalah suatu hal yang sederhana. Namun belum pernah ada yang pernah melakukan itu padaku selain Clara. Itu adalah hal baru. Setelah sekian lama, setelah Clara pergi meninggalkan aku. Hal-hal yang menghangatkan hati sangat jarang terjadi. Lagipula, siapa yang akan memberi perhatian khusus untukku? Aku tidak punya siapa-siapa.


"Ceritakan tentang dirimu..."


"Untuk apa? Kamu masih akan mencoba untuk mendapatkan informasi tentang aku meski tidak ku jawab. Iya kan?" Jawabku, sambil tidak berhenti mengunyah. Dia tertawa. Aku belajar banyak setelah menjadi personal assistant Gaia selama setahun. Orang-orang seperti mereka, entah bagaimana caranya, sangat mudah mendapatkan informasi tentang seseorang atau sesuatu jika mereka mau.


"Apakah kau tahu berapa umurku?"


"Aku tahu."


"Tidakkah menurutmu, kau perlu... Maksudku... Setidaknya mencoba bersikap sopan, seperti menjawab pertanyaanku dengan baik?"

__ADS_1


"Kamu yang memulai bersikap tidak sopan. Ku pikir, sebagai orang yang lebih tua, kau perlu memberi contoh yang baik dan aku akan mengikuti." Dia tertawa lagi, kemudian geleng-geleng kepala, menunjukkan ekspresi tidak percaya. Kemudian kami menghabiskan waktu makan itu dengan diam. Sepertinya dia pun sudah tidak punya ide lagi untuk ngobrol apa.


Setelah makan, aku mengambil alih area itu sampai ke dapur untuk merapikan dan membersihkan semua alat makan yang kami gunakan. Tanganku bekerja, otakku juga bekerja, bahkan lebih sibuk. Memikirkan apa yang mungkin terjadi setelah itu. Aku sangat berharap dia akan mengusirku secepat mungkin. Ku lirik jam tanganku, jam 1 siang, masih ada 3 jam menuju jam 4 sore. Ah... sangat lama. Setelah memastikan semua beres dan bersih, aku kembali ke tempat dudukku menghadap dia.


"Aku siap untuk tugas selanjutnya. Atau bolehkah kita bicara tentang proposal kerjasama itu sekarang? Akan ku ambilkan dokumennya." Aku bertanya, mataku memohon. Dia menatapku lama tanpa menjawab. Aduh, dia benar-benar orang yang sulit. Aku tidak bisa memprediksi apa maksudnya.


"Kau sebegitu ingin cepat-cepat pergi dari sini dan menghilang dari pandanganku?" Dia bertanya. Tentu saja iya, itu adalah pertanyaan yang bodoh. Dia seharusnya tahu, mengapa bertanya?


"Baiklah, apa yang harus ku lakukan selanjutnya?" Tapi aku harus bersikap baik dan sopan.


"Kau akan lakukan apa pun yang ku minta?" Dia sepertinya memikirkan sesuatu hal yang gila. Hatiku berdebar mengantisipasi jika itu benar.


"Sesuai kesepakatan kita tadi, aku akan lakukan apa pun untuk membuatmu merasa baik." Jawabku hati-hati. Sebaikanya bukan hal yang aneh-aneh.


"Kau keterlaluan..." Aku mendesis marah.


"Tapi itu akan membuatku merasa baik. Kau bilang akan lakukan apa pun untuk membuatku merasa baik..." Dia berkata masih dengan serius. Ya sudah Jade. Ayo berpikir sederhana. Lakukan saja. Agar masalah cepat selesai. Sepertinya memang itu yang dia inginkan dari awal. Aku tawar menawar dalam hati.


"Baiklah. Ayo kita lakukan. Tapi ini yang pertama bagiku. Tolong pastikan kau menanganiku dengan hati-hati." Jawabku lugas. Ekspresiku datar. Dia harus tau bahwa aku hanya sedang melaksanakan tugas. Namun sesuatu berbisik dalam hatiku, kamu juga menginginkan ini kan Jade? Aku tersentak. Apa iya? Nggak lah. Aku hanya menjalankan tugas mengikuti instruksinya. Diamlah! Benakku bergemuruh.


Dia pun kaget. Menatapku tidak percaya.

__ADS_1


"Jade… Ini adalah sesuatu yang baru. Aku mengoceh omong kosong barusan. Tapi iya... Aku memang sangat menginginkanmu. Apa aku tidak salah dengar?"


"Sesuai yang kau inginkan. Aku tidak punya pilihan kan? Jika aku bisa memilih, aku ingin pergi dari sini secepat mungkin, sekarang juga. Tapi apa daya, aku hanya seorang budak sampai 3 jam berikutnya."


"Hei, kau membuatku terlihat seperti bajingan sungguhan..."


"Memang iya. Aku sudah bilang kan?" Ku jawab dengan cepat. Dia tidak bisa berkata-kata.


"Aku sudah minta maaf..." Dia berkata dengan nada tidak terima.


"Itu adalah sikap paling bodoh yang dilakukan manusia. Jika maaf bisa memperbaiki keadaan yang sudah berantakan, betapa damainya hidup di dunia ini..."


Dia sontak bangkit dari tempat duduknya dan mendekatiku. Dengan gerak cepat dia mengangkat tubuhku ke gendongannya dan membawaku pergi. Kami masuk ke sebuah ruangan. Kamar tidurnya. Menempatkan aku dengan hati-hati di atas tempat tidur.


"Kau terus memprovokasi aku Jade. Apakah kau sengaja melakukannya? Apakah ini konsep baru yang dilakukan oleh wanita untuk menggoda orang seperti aku?" Sifat narsisnya tidak ketinggalan. Dia masih mencoba mengkonfirmasi. Aku menyeringai sinis.


"Kenapa aku harus butuh sebuah konsep untuk laki-laki brengsek sepertimu?" Wajahnya memerah. Dia memulai  gerakannya dengan mencium bibirku, kasar. Lalu dia berhenti.


"Jangan bilang bahwa kau juga menginginkan aku?" Matanya menatapku nanar mencari jawaban. Sepertinya mencoba mencari celah untuk meringankan rasa berdosanya. Tetapi aku memutuskan untuk tetap membuatnya merasa jadi bajingan dan menikmati rasa bersalahnya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan dia merasa baik dan damai setelah bersikap semena-mena terhadapku.


"Tolong, Jangan tinggalkan tanda apa pun di tubuhku." Aku berpesan. Dia terkejut. Tapi nafsunya jauh lebih besar. Aku yakin, dia tidak bisa berhenti lagi.

__ADS_1


Itu sangat menyakitkan meski dia berusaha untuk membuat aku merasa nyaman pada akhirnya. Earnest Lee berhasil menjelajahi setiap inci tubuhku dan memuaskan nafsunya. Pria pertama yang akhirnya mendapatkan kesempatan emas untuk melakukannya. Dia seperti orang gila, melakukannya berulang-ulang, sampai dia merasa puas. Dia bahkan tidak peduli apakah aku merasa senang atau tidak.


__ADS_2