
Sudut Pandang Jade
Aku berpikir sesederhana itu. Begitu aku percaya bahwa aku bisa mengandalkan Earnest dalam menjalani hidup di dunia yang sulit ini, aku memutuskan menerima lamarannya untuk jadi pacarnya. Soal pernikahan? Urusan belakangan. Yang penting aku bisa survive untuk hari ini. Kegalauan yang diakibatkan oleh Gaia bisa ku hempas dengan segera. Tidak ada gunanya berlarut-larut dalam ketidakberdayaan lebih lama. Earnest tampaknya tidak peduli tentang alasan di balik pasrahku menerima dia. Percayalah, aku bukan orang jahat yang semata ingin memanfaatkan dia. Tidak ada niat untuk melukai dia sama sekali.
Earnest sangat menjanjikan. Aku sangat yakin dia bisa membantuku. Dan dia pasti tahu bagaimana caranya melacak kembali ke 14 tahun lalu dan menemukan asal-usulku. Itu yang paling penting. Bantuan yang sangat ku butuhkan, yang tidak akan pernah bisa ku dapatkan dari Gaia. Karena aku tidak bisa seterbuka itu padanya. Hubungan kami tidak pernah soal hati.
Akhirnya aku melangkah lebih jauh. Entah dari mana keberanian itu datang --mungkin Earnest yang memberikan rasa aman-- aku menjadi seseorang yang bisa melakukan apa saja untuk hidupku. Sama sekali bukan Jade yang kemarin. Yang tertekan dan meringkuk dalam ketakutannya. Dan berusaha menciptakan dunia kecil di mana dia merasa aman dan tidak terlantar atau terluka. Ku nikmati ekspresi di wajahnya, aku sedang memanfaatkannya, tetapi dia kelihatan bangga menjadi seseorang yang bisa berguna untukku. Ku peluk dia lebih erat. Melepas harap di dadanya, bahwa aku akan memiliki rumah itu untuk waktu yang sangat lama. Ku putuskan, dia adalah rumahku.
PR berikutnya, aku harus mempersiapkan hati dan mentalku untuk menerima berita apa pun dibalik peristiwa dibuangnya aku. Menemukan asal usulku bisa jadi hal yang baik atau buruk. Mungkin saja, aku sedang berjalan ke jurang kelam, mungkin ada kisah menyakitkan mirip neraka yang menungguku di sana. Tapi tidak apa-apa, aku punya Earnest. Dia berjanji akan selalu ada untukku. Soal dia menepati janji atau tidak, urusan belakangan. Pilihanku satu-satunya adalah menggantungkan hidupku padanya.
__ADS_1
Kami meninggalkan Singapura pada hari Minggu menuju Seoul. Rumahnya ada di salah satu kompleks apartemen mewah di distrik Gangnam. Setelah mengedarkan pandanganku untuk menilai seluruh penampakan rumah itu, aku memutuskan bahwa aku memang harus tinggal di sana. Untuk apa dia bayarkan uang sebanyak itu hanya untuk membiarkan rumah itu kosong? Sementara aku dengan bangga menempati apartemen tipe studio milikku yang ukurannya sangat kecil karena merasa sudah mati-matian membayarkan sejumlah uang yang menurutku tidak ada apa-apanya dengan harga rumah itu.
Dia berencana untuk bertemu Gaia pada hari Senin pagi untuk membicarakan soal hubungan kami padanya. Dia menelpon Gaian untuk bikin janji. Tapi aku berpikir bukan begitu caranya. Yang memiliki hubungan adalah aku dan Gaia, kenapa pihak ketiga harus melakukan sesuatu yang harusnya ku lakukan. Aku tidak mengerti cara berpikir Earnest, tapi keputusan itu tidak tepat. Mungkin dia punya alasan sendiri, namun menurutku sikap itu agak berlebihan dan aku tidak mau Gaia akan mendapatkan kesan jelek tentangku. Aku ingin kami tetap memiliki pandangan yang baik tentang satu sama lain meskipun tidak lagi bersama --memiliki hubungan gelap--. Lagipula, aku merasa cukup dewasa untuk melakukan sesuatu yang benar untuk diriku sendiri.
Senin pagi, aku menghabiskan waktu cukup lama untuk bicara pada Gaia. Entah ke mana larinya keberanian menggebu-gebu yang ku miliki semalam. Begitu melihat wajah Gaia saat briefing pagi hari, semua buyar. Aku kembali pada Jade yang pengecut. Aku memperkirakan bahwa dia pasti sangat marah mendengarkan ceritaku. Dia bisa saja melakukan hal-hal tidak masuk akal untuk melukai aku karena tidak bisa membendung amarahnya. Tapi apa iya? Nilai diriku tidak se-signifikan itu kan? Apalagi dia akan menikah sebentar lagi dengan calon suaminya. Artinya nilai diriku memang tidak begitu berarti baginya. Lagipula, jika itu benar terjadi, aku punya Earnest. Apa yang harus ku takutkan?
Aku mulai mengetik surat pengunduran diri dan mengeprint. Sambil merapikannya dan memasukkan ke amplop aku tidak henti-henti memberi penguatan pada diriku. Bahwa aku sudah memutuskan untuk melakukan suatu tindakan yang tepat. Aku seharusnya tidak bersembunyi di balik punggung Earnest dan menciptakan perang antara kedua sahabat itu. Aku ingin, selain hubunganku dan Gaia tetap baik, hubungan mereka berdua tetap abadi, sebagai sahabat. Dengan bersikap sportif berhadapan langsung dengan gaia, aku berharap hubungan mereka tetap baik.
Dengan hati berdebar-debar, aku masuk ke ruang kantor Gaia, memegang amplop di tanganku. Begitu menghadap mejanya, ku taruh amplop itu di atas mejanya, dengan sopan. Aku masih kelu. Tidak menemukan kata yang tepat untuk ku ucapkan. Ku putuskan, aku akan menjawab pertanyaan saja. Dia melihat amplop itu dengan huruf besar tertulis di atasnya 'surat pengunduran diri'. Dia mengerutkan dahinya, menatap wajahku dengan ekspresi marah. Aku mendesah. Bahkan untuk resign pun aku harus menerima ekspresi itu. Padahal aku punya hak untuk itu. Secepat kilat aku membentuk sebuah mekanisme pertahanan, bersiap menjawab pertanyaan apa pun yang akan dia lontarkan, bahkan jika itu adalah makian.
__ADS_1
"Jade apa-apaan ini?"
"Seperti yang Anda lihat boss. Saya mengundurkan diri. Saya berencana untuk mewujudkan impian lama saya. Mari kembali ke kehidupan kita masing-masing. Anda akan segera memiliki keluarga dan saya harus melanjutkan hidup saya...” Dia tertegun. Mungkin tidak pernah menyangka bahwa aku bisa bicara seberani itu. Meliihat ekspresinya, sebuah dugaan muncul dalam benakku. Apakah dia bermaksud untuk tetap menyimpan aku sebagai kekasih meski sudah menikah? Jika iya, aku akan sangat marah.
“Apakah kamu sedang merajuk Jade? Karena aku akan menikah? Lihat, tidak ada yang akan berubah di antara kita. Kita akan tetap seperti siapa kita sebelumnya. Tidak ada yang berubah. Mengapa melakukan hal-hal yang tidak penting seperti ini? Lagipula, kau kan butuh pekerjaan ini. Kau butuh uang. Tetaplah di sini, seperti sebelumnya.” Dugaanku benar. Aku menghempaskan nafas. Mendengus tawa. Ternyata aku sudah menjual hidupku semurah itu selama ini. Dan dia bermaksud akan melakukan itu selamanya. Sampai kapan?
“Aku telah memutuskan untuk berhenti ms.Kim. Saya berharap Anda hidup dengan baik sebagai seorang istri. Jika kita terus begini, itu adalah sebuah pengkhianatan besar bagi keluarga anda.” Matanya melotot tajam, amarahnya menyala. Aku sedang menyiram bensin di atas api. Aku lupa bahwa dia adalah Gaia yang punya segalanya dan tidak seorang pun boleh mendikte apa yang harus dilakukan dengan hidupnya. Dia tampak tidak terima dengan pernyataan yang ku berikan padanya. Dia bangkit dari duduknya dan menghampiriku yang berdiri menghadap mejanya.
“Jade, jangan mencoba mengajari aku. Aku tahu apa yang harus ku lakukan dengan hidupku. Sama sekali tidak butuh saran dari siapa pun termasuk kamu. Aku sudah mendapatkan cukup dari para tetua di keluargaku dan itu sangat menyebalkan. Lebih baik kau tutup mulutmu!”
__ADS_1
Dia mengangkat daguku dengan telunjuknya, agar wajahku tegak. Sejak masuk ke dalam ruangan itu, kepalaku menunduk karena ketakutan. Aku sudah menduga apa yang akan terjadi, ketika amarah mengambil alih akal sehatnya, dia akan berubah menjadi monster. Aku yakin dia tahu bahwa gadis penakut yang selama ini ada di bawah ketiaknya sedang berjuang melawan takut namun tetap kelihatan, tubuhku gemetaran. Kalau sudah begitu, tidak ada kata berhenti, apa pun ceritanya, dia akan terus melanjutkan sampai nafsu amarahnya terpuaskan.