
“Bagaimana dengan ayahnya? Apakah masih hidup?”
“Tidak ditemukan jejak ayahnya semenjak kematian ibunya. Dia menghilang begitu saja. Tidak ada informasi tentang kematian atau keberadaannya...”
“Lanjutkan pencarian tentang ayahnya. Harus sampai dapat. Bagaimana dengan perjalanan kembali ke Korea 14 tahun yang lalu? Ada informasi yang harus diketahui?”
“Ada boss. Yang ini agak aneh. Tidak ditemukan jejak Denise Kim sama sekali dalam penerbangan apa pun perihal masuknya ke Korea. Saya justru menemukan namanya terdaftar melalui pelabuhan Busan. Nama yang sesuai dengan akte kelahirannya, Denise Varon..."
"Bisa jadi. Biaya perjalanan melalui pesawat memang lebih mahal dibanding lewat laut. Faktor biaya. Meskipun jadi lebih lama sampainya. Tidak masalah. Tidak ada yang aneh di sana..."
"Saya lanjut boss. Dari daftar penumpang kapal pada jadwal yang sama, ada satu nama lain yang memiliki nama belakang yang sama dengan Varon, Valene Varon, seorang anak perempuan berusia 7 tahun. Tapi letak nama mereka tidak sejajar, kelas yang mereka tumpangi berbeda. Saya temukan karena kebetulan. Karena nama belakang mereka sama, Varon.”
“Menarik. Tapi ada banyak kemungkinan. Orang yang bernama belakang Varon tidak hanya satu atau dua orang kan? Dan usia itu jauh dari Jade. Saat itu harusnya Jade berusia 10 tahun..." Aku berhenti dan mendapat kemungkinan lain.
"Coba periksa lagi, apakah yang bernama Varon hanya mereka berdua? Mungkin ayah anak itu atau ibunya juga Varon?"
"Hanya dua nama itu boss. Tidak ada yang lain..."
"Tapi tetap saja. Bisa jadi ibunya atau neneknya atau saudaranya yang mendampingi dia memiliki nama belakang yang berbeda. Tapi bagaimana pun juga, cari lagi. Siapa tau kita bisa temukan sesuatu yang baru. Apakah dia datang ke sini setelah kematian ibunya atau sebelumnya? Makamnya?”
"Setelahnya boss. Belum dipastikan, tapi Denise Kim secara rutin berkunjung ke Busan. Sedang diselidiki tujuannya ke mana dan untuk apa."
__ADS_1
"Bagaimana dengan DNA yang kita kirim Drey? Ada kabar?"
"Belum boss."
"Ada cara cepat untuk menjawab semua pertanyaan kita Drey. Dapatkan sesuatu mengenai Denise Kim, ajukan dua-duanya. Ada ide bagaimana caranya?" Drey kelihatan agak ragu.
“Akan saya pikirkan caranya. Tapi, bertemu dengan Gaia akan menjadi solusi tercepat bukan Boss?” Aku mendelik dan menatapnya tajam. Dia berdehem dan kemudian melengos, dia tampak kecewa dengan ide yang dia ajukan sendiri.
"Apa kamu lupa apa yang terjadi antara saya dan Gaia?"
“Maaf Boss. Saya akan menemukan sebuah cara secepatnya.”
“Jawaban yang bagus. Cerita lainnya Drey. Bagaimana Denise dan Min Jun Kim bertemu?”
"Nah, yang begini Drey, baru namanya penemuan yang jitu." Dia tersipu menerima pujianku.
Tapi aku merinding. Semua ketidakmungkinan yang ada seolah-olah disengaja. Sehingga, aku tidak bisa tidak menyimpulkan, mereka berdua --mungkin-- punya hubungan. Namun jika ditarik benang merahnya, otakku dengan cepat bisa menduga, kisah ini adalah tentang mereka berdua.
Jika benar. Denise Kim ternyata tidak punya hati. Tega membuang seorang anak kecil yang tidak punya ingatan apa-apa tentang dirinya sendiri. Dia bahkan tinggal di tempat yang sama! Apalagi kalau bukan untuk memantau? Apa dia tega melihat dari jauh betapa hancur hati anak itu, mencari-cari dan bertanya-tanya, kenapa dia ditelantarkan? Tunggu dulu Earnest, siapa tau dia bukan mamanya. Mungkin orang lain meminta dia untuk melakukannya. Setelah itu tugasnya selesai. Tapi kenapa terlalu aneh? Semua alur yang ada seolah-olah meninggalkan kesan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada Jade ada hubungannya dengan dia.
Gila! Bagaimana bisa dia melakukan itu pada anaknya sendiri? Wah, dunia ini memang menakutkan. Jade, dunia ini sangat menakutkan sayang. Wajah yang kelihatan cantik dan anggun itu ternyata seorang penjahat. Haruskah kita berhenti di sini saja? Apa reaksi Jade jika tau bahwa ternyata orang yang dia cari-cari selama ini berada tidak jauh darinya, bahkan dengan leluasa memantau dari jauh. Dia membiarkan anak itu mencari-cari orang yang tidak dikenalnya dan dia di sana. Dia tau. Tapi dia membiarkan!
__ADS_1
Amarah menguasai ku beberapa saat. Ku pukulkan tinjuku ke atas meja. Bagaimana bisa? Aku mengumpat dan berteriak yang membuat Drey was-was. Dan dalam sekejap, dia datang dengan kotak medis untuk mengoles salep di kepalan tanganku yang memar dan lecet, untungnya tidak sampai berdarah.
“Drey, ini rahasia. Jangan pernah mengucapkan sepatah kata pun tentang ini pada Jade. Seperti waktu lalu ketika orang-orang Gaia menyerang kita. Paham?" Dia melengos. Sadar bahwa dia sudah berbuat salah.
"Siap Boss."
"Tidak semua hal yang terjadi padaku harus sampai kepada Jade. Disaring Drey. Pastikan bertanya dulu..."
"Siap boss."
“Dan, secepat mungkin, temukan cara untuk mendapatkan DNA Denise Kim. Dan semua informasi yang masih jadi tanda tanya. Satu lagi, cari informasi, bagaimana Jade bisa masuk ke Gaia Wear?. Benarkah Gaia yang menemukan dan mengawasi dia sampai meminta dia menjadi asisten pribadinya? Siapatau kita bisa dapat sesuatu dari informasi itu. Secepat mungkin."
“Siap boss!”
Aku pulang ketika sudah larut malam. Tidak yakin apakah kami masih sempat menikmati tea time seperti yang dia mau. Kemarin sudah batal, sepertinya malam ini juga begitu. Tea set yang ku beli dan dengan senang diterimanya entah kapan akan bisa dipakai.
Aku tidak menyadari, waktu berlalu begitu cepat. Namun pencarian yang kami lakukan belum membuahkan hasil yang signifikan. Ada perasaan aneh, tidak dapat ku jelaskan dengan kata-kata, menjelaga di hatiku. Firasat yang ku punya sangat buruk. Tujuanku untuk menikahi Jade secepatnya agar bisa hidup dengan tenang sampai tua sepertinya masih jauh. Entahlah. Jangan-jangan, kami bahkan tidak akan sampai di sana. Aku membuang pandang ke luar jendela mobil. Ke arah jalan raya yang masih ramai dengan kendaraan. Ku tepis pikiran jelek itu jauh-jauh.
Aku tiba di rumah. Biasanya aku masih bisa mendapatkan pelukan hangat begitu membuka pintu. Dengan sumringah dia menyambutku. Dan sekuat tenaga ku rengkuh dia dalam pelukanku. Kemudian dia tertawa renyah, tanda bahwa dia suka ku peluk dengan cara begitu.
Tapi tidak kali ini. Tidak ada yang menyambutku di balik pintu. Aku berjalan ke ruang tamu. Kemudian senyumku melebar. Semua resah dan gundahku luruh, lenyap entah ke mana. Dia memang menunggu, tapi ketiduran di sofa. Sudah seharusnya, sudah lewat tengah malam. Tapi aku justru senang melihat dia tertidur. Suatu hal berharga yang langka terjadi padanya akhir-akhir ini. Dia seringkali tidak bisa tidur. Kami bahkan memeriksakan dirinya ke dokter dan mendapatkan obat tidur untuk dikomsumsi saat kondisinya sudah di luar kendali.
__ADS_1
Kami sering naik ke tempat tidur pada saat yang bersamaan, namun ketika aku terbangun, dia sudah tidak ada di sampingku. Kemudian ku temukan dia berada di ruang kerjaku melotot ke layar Macnya dan mengetik, melanjutkan cerita-cerita yang ditulisnya.