Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Valene Varon


__ADS_3

Tidak lama kemudian sebuah benda bergerak berbentuk kotak datang mendekat ke arah kami. Malaikat hitam mengisyaratkan agar aku masuk ke dalam kemudian dia menyusul. Dan kotak itu perlahan bergerak, sedangkan kami ada di dalamnya! Apa ini? Hal baru lainnya yang ku dapatkan saat ini dan rasanya sangat aneh. Perasaan takut perlahan merayap ke hati nuraniku. Aku tidak kuasa untuk tidak berpikir buruk. Rasanya aku sedang digiring pada suatu hal yang tidak ku inginkan. Atau begini kah proses yang harus dilalui oleh setiap putri pilihan? Kenapa tidak seindah yang ku bayangkan?


Aku merasakan keringat mengalir dari dahi dan pelipisku, mungkin di seluruh permukaan tubuhku. Aku menggigil kedinginan tapi aku merasa panas. Apakah aku tidak akan mendapatkan vitamin itu saat ini? Sepertinya itu akan meredakan rasa takutku yang semakin menjelaga. Tapi aku terlalu takut untuk bertanya. Bagaimana pun juga, aku tidak boleh merusak momen terakhirku. Ku pejamkan mata. Mencoba untuk membayangkan segala hal yang indah yang akan ku lalui. 


Kemudian segala sesuatu terjadi begitu saja. Yang ku tau, aku hanya mengikuti malaikat hitam itu dari belakangnya. Kadangkala, aku bahkan pasrah ketika aku harus digiring, tanganku dipegang, sesekali digendong dan aku kerapkali ada dalam pelukannya. Perjalanan yang kami lalui sangatlah panjang. Setelah kami keluar dari benda bergerak berbentuk kotak, kami memasuki sebuah benda raksasa yang mengapung di atas air yang sangat luas. Sejauh mataku memandang, hanya ada air. Tidak ada lagi daging segar, darah segar ataupun vitamin yang biasa ku minum. Namun aku pasrah ketika dia memasukkan berbagai benda asing ke dalam mulutku dan memaksaku untuk menelan. Mungkin begitu caranya agar aku bisa bertahan sampai kami tiba di meja persembahan.


Sisanya, aku tidak tau lagi apa yang terjadi. 


Aku terbangun karena dingin yang menusuk sampai ke tulang-tulangku. Aku menggigil, gigiku gemeletuk menahan sakitnya. Aku berada di atas sebuah tempat tidur, di dalam ruangan persegi. Tempat yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Segala sesuatu kelihatan sangat asing. Aku berpikir keras, mencoba menyambung kejadian yang terakhir ku ingat dengan keadaan sekarang. 


Oh, bukankah aku seharusnya berada di atas meja persembahan? Iya, harusnya ritual itu sedang diadakan pada saat ini kan? Tapi ruangan itu sama sekali bukan ciri khas istana. Tidak ada tempat seburuk itu di sana. Ruang persembahan sangatlah indah dan megah. Aku di mana?


Ku pandangi sekujur tubuhku, tidak memakai jubah lagi. Aku mengenakan pakaian yang aneh. Kain dengan bentuk asing dan pas melilit membentuk tubuhku. Apa karena ini maka aku menggigil kedinginan? Tapi keringat dingin terus mengalir di pelipis dan bagian lain kulitku.


Seorang wanita masuk. Dia berpakaian dengan cara yang sama anehnya denganku. Aku tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Gigiku masih gemeletuk menahan rasa dingin dan nyeri. Dia mendekat dengan membawa sesuatu dalam sebuah nampan, kemudian mencoba memasukkan sesuatu ke dalam mulutku. Air hangat, tapi  kemudian tumpah. Aku tidak bisa membuka mulutku. Dan aku hanya bisa menatapnya dengan seribu tanya yang tidak bisa ku ucapkan. Dia memandangi ku dengan wajah memelas. Ekspresinya masih sama dari yang kemarin, tidak menandakan sesuatu yang baik. Namun ku pikir, aku pun sudah tidak bisa menolongnya. Jangankan bergerak, bicara saja aku tidak mampu. Seharusnya, dia lah yang menolongku.

__ADS_1


Dia memelukku erat dan meraung-raung dengan keras. Mengatakan banyak hal namun aku tidak bisa memahami satu pun. Mungkin aku tau beberapa kata, namun tetap saja, aku tidak paham. Aku berpikir, apakah ini adalah kastil yang mereka sebutkan sebelumnya? Apakah aku sudah terbang dan mencapai langit yang biru itu? Apa mungkin ritual itu sudah berlangsung, hanya saja aku tidak menyadarinya? Aku mecoba mengingat-ingat, setiap kali menghadap meja persembahan, putri terpilih itu pasti sedang menutup mata seperti tertidur lelap.


Ah... Bisa jadi. Ritual itu telah selesai dan aku tidak menyadari. Tetapi mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk memilih kastilku sendiri? Wanita itu masih memelukku dengan suara raungan, ku edarkan pandanganku ke sekililing. Jika itu adalah kastil yang ku dapatkan, itu benar-benar jelek. Bukan seperti yang ku bayangkan. pasti ada yang salah. Apa karena aku ketiduran sehingga tidak punya kesempatan untuk memilih? 


Entahlah. Namun pelukan wanita itu, memberi sedikit rasa hangat di tubuhku. 


Ah... Jade... Aku menangis, memohon dalam hati,  biarlah ini hanya cerita belaka. Tolong, hanya sebuah cerita karangan. Bukan sesuatu yang nyata. Aku menggumamkan doa sambil menangis.


"Daddy… ?" Aku mendengar suara Jade dan langkah kakinya yang mendekat ke arahku. Ekspresi di wajahnya tidak dapat ku terjemahkan.


"Apakah kau menangis?" Dia semakin mendekat dan menatapku dengan seksama. Aku cepat-cepat menata wajahku, melap sisa air mata dan tersenyum menyambutnya.


"Daddy, apakah kamu menangis karena ceritanya? Apakah sebagus itu?" Akhirnya dapat ku terjemahkan ekspresi yang dia coba tunjukkan sedari tadi, dia sangat bersemangat. Dan itu semakin menghancurkan hatiku. Tapi ku coba mengalihkan topik pembicaraan kami.


"Iya, ini progress yang sangat bagus sayang." Aku berkata sambil bergerak mematikan Mac dan merapikan semua perlengkapannya di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa bangun?"


"Terbangun begitu saja. Kau tidak ada di sampingku, jadi aku mencari-cari. Apa karena kau tidak sabar menunggu sampai besok untuk membacanya?" Dia lanjut dengan agenda bangganya. Aku mencoba tersenyum sambil terus merapikan meja, dan menata gadget pada posisinya.


"Apakah menurutmu itu bagus daddy?" Dia tidak sabar. Ku raih tubuhnya agar duduk di atas pangkuanku dan ku peluk dengan erat. Masih mencoba menata emosiku. Aku harus bilang apa Jade? Aku ketakutan membacanya. Firasat yang ku miliki sangat jelek. Apakah kau adalah Valene Varon itu? Kalau iya, kenapa kisah hidupnya sangat mengerikan sayang? Aku sibuk bergumam dalam hati.


"Mmm... Kenapa berhenti di situ sayang? Mana lanjutannya?"


"Nah itu. Aku stuck sampai di situ. Apa kau punya? Bantu aku…" Dia memutar kepalanya menatap wajahku, menyeringai lebar dan matanya berbinar. Aku mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya dan kembali memeluknya erat.


"Untuk saat ini, aku tidak punya ide. Tapi tenang. Kita masih punya waktu. Tidak perlu terburu-buru. Oke?" Dia menganggukkan kepalanya di dadaku.


"Aku merindukanmu..." Aku berbisik melalui rambutnya yang wangi, aku sangat berharap bisa mengalihkan fokus pembicaraan itu ke hal lain.


"Aku juga merindukanmu..." Bisiknya di dadaku.

__ADS_1


"Haruskah kita melakukan sesuatu yang menyenangkan sebelum tidur?" Aku menggodanya dengan sepenuh hati. Dia terkikik, melepaskan diri dariku dan menatapku. Sorot matanya benar-benar menggoda dan menggemaskan. Dia benar-benar tidak cocok dengan konsep genit. Hanya diam saja, dia sudah mampu menjungkir balikkan duniaku. Kenapa harus genit-genit?


"Aku ikut maunya daddy..." Bisiknya.


__ADS_2