
“Untuk sekarang, tidak. Aku perlu bertanya terlebih dahulu karena ada banyak kemnungkinan. Lucian Warren bukan satu-satunya orang yang memiliki ratusan anak dan tinggal di dalam istana. Ada banyak. Namun melihat wajah kamu, seharusnya kamu bukan hasil DNA nya. Karena semua keturunan Lucian Warren memiliki wajah dan fisik yang cantik, sempurna dan unik. Dia yang terbaik dari antara semua kandidat yang ada. Bahkan yang paling jelek dari kami tidak sebanding dengan kejelekan kamu…” Pernyataan itu agak merendahkan, tapi ya sudahlah. Aku sedikit lega. Ternyata ada kemungkinan bahwa ayahku adalah orang yang berbeda. Aku merespon pernyataannya dengan menyeringai.
“Bawa saja aku padanya sekarang. Jika harus melalui kamu lagi, itu terlalu lama. Hari ini juga. Bawa aku ke rumahmu. Aku yakin dia mendekam di sana…” Wajah itu berkata bahwa dia tidak punya pilihan. Meski tetap berjuang kelihatan tenang, namun ada gejolak di dalam kalbunya yang tidak bisa disembunyikan. Ku tunggu dia selesai memproses permintaanku.
“Aku perlu menginformasikan terlebih dahulu. Tidak bisa mendadak dilakukan. Mungkin besok atau lusa, setelah ada persetujuan darinya…”
“Tidak. Hari ini juga. Kita pulang bersama ke rumahmu. Aku tidak tau apa yang akan kalian rencanakan dalam kurun waktu 24 jam ini. Dan kau tau? Seandainya kau tidak setuju pun, aku tetap bisa menguntit dari belakang dan menemukan tempat tinggalmu. Apa kamu mau jika saya melakukannya dengan cara kekerasa? Misalnya melapor pada pihak yang berwajib? Karena menurut saya pihak DGSE bekerjasama dengan badan intelijen semua negara di dunia…” Mata itu masih menatap tajam, berkedut sebelah. Dia tau betapa serius perkataanku. Aku memang akan melakukannya, namun aku harus mendapatkan informasi detail dan benar tentang Jade terlebih dahulu.
…
Sudut Pandang Jade
__ADS_1
Penolakan adalah sebuah kata yang sangat menyakitkan. Dibuang adalah kata berikutnya. Kata itu lah menggelayut di kening mereka begitu melihat kami masuk ke dalam rumah besar dan megah itu. Aku tau selama ini bahwa Earnest adalah orang kaya. Tapi ternyata, orangtuanya jauh lebih berada. Semua keadaan itu langsung membantu untuk membuat nyaliku menciut. Seperti kismis, yang berasal dari buah anggur yang dikeringkan, aku benar-benar menciut. Apa yang ku pikirkan selama ini tentang keluarganya tampaknya akan benar-benar nyata sebentar lagi.
Ku genggam tangannya erat. Ingin aku berbisik agar kami pulang saja. Bagikut, pernikahan tidaklah penting. Bahkan jika dia harus ku lepaskan untuk menikahi wanita lain pun, aku sudah menyiapkan hati untuk rela. Namun digenggamnya jemariku lebih erat. Seolah berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Dia tidak bisa membaca firasatku, bahwa tak lama lagi, aku akan dibunuh untuk kedua kali, dengan perkataan, prasangka dan penghakiman. Iya, aku mencintai Earnest. Tapi cinta dengan keadaan ini sangat berbeda. Begitu menurutku. Bukan berarti karena aku mencintai dia, maka aku harus diperhadapkan pada sebuah sidang tidak beradab yang harus menghancurkan harga diriku –yang sudah dengan susah payah ku bangun, aku bahkan baru bangkit–.
Kedua pria dan wanita elegan itu masih dengan kening berkerut, mempersilahkan kami duduk. Semua ekspresi yang mereka tunjukkan adalah aura negatif. Aku bahkan berharap, kami diminta pulang saja, daripada harus menerima penolakan yang tajam. Kami duduk. Papa dan mama Kim duduk dan berusaha memberi tatapan yang mendukung ke arahku. Bukan hanya aku, mereka juga mencium suasana itu. Bahwa kami sedang memasuki medan perang, bukan pertemua keluarga yang penuh kasih. Tidak lama, pelayan hadir menyuguhkan teh dan kudapan khas mereka. Biskuit, yang aku tau, itu pun kalengan. Mungkin sengaja di-stock di rumah jika sewaktu-waktu akan kedatangan tamu.
“Earnest. Kedatangan ini tiba-tiba. Ada apa?” Wanita itu –ku sebut saja mama Lee– memulai pembicaraan.
“Aku datang membawa calon istriku pa, ma…” Ucap Earnest dengan penuh keyakinan. Ku tatap wajahnya. Tidak ada ragu di sana. Sesaat aku bertanya-tanya dalam hati, apa mungkin dia bodoh? Bisa-bisanya dia tidak menangkap atmosphere yang tidak menyenangkan itu. Jelas-jelas, mereka ada mama dan papanya, seharusnya dia lebih tau. Namun dengan pasti dia menatap papa dan mama Lee. Seolah-olah apa yang sedang dilakukannya tidak salah sama sekali. Papa dan mama Lee saling menatap dan ekspresi tidak senang langsung kelihatan dan wajah mereka.
“Ada papa dan juga mama Kim, papa dan mamanya Jade…” Kedua orang tua itu kembali saling memandang. Aku keheranan. Sangat heran. Bukankah seharusnya dengan sopan mereka menyambut –tidak peduli setidak suka apa mereka– karena itu adalah sifat manusia yang beradab?
__ADS_1
“Kami tidak menerima kunjungan ini Earnest. Apa kau pikir ini main-main? Kau datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Dengan seorang calon istri. Dan, kami tidak kenal sama sekali. Setidaknya, kami bisa mengenal dia karena pernah melihatnya di media. Ini? Hentikan omon kosong ini. Anggap pertemuan ini tidak pernah ada…” Ucap mama Lee ketus. Suasana menjadi tegang. Papa dan mama Kim saling menatap heran dan kebingungan. Tidak tau harus bagaimana. Mereka bahkan belum disambut.
“Ma…” Earnest dengan heran mencoba menggugah hati mama Lee. Aku juga heran. Kenapa kami bisa ada di sana sekarang? Bukankah harusnya dia tau bahwa akan begitu ujungnya? Jangan-jangan dia sama sekali tidak mengenal kedua orang tuanya? Ku lepaskan tanganku dari genggamannya. Dia menatapku tidak terima namun ku tundukkan kepalaku. Yang ada dalam benakku saat itu adalah, bagaimana caranya mundur dari pertemuan itu secepatnya dan pulang.
“Inilah kenapa kau harus mengenal latar belakang keluargamu Earnest. Belum pernah ada hal seperti ini terjadi sebelumnya. Kami harusnya mengenal calon istrimu dan kedua orang tuanya jauh-jauh hari, bahkan sebelum kalian pacaran. Agar kami bisa ikut menilai apakah dia pantas untukmu atau tidak. Ingat, nilai-nilai dalam keluarga ini sudah dipegang secara turun temurun. Dia harusnya seseorang yang memiliki nama besar agar bisa mengimbangi posisi dan kedudukanmu di masyarakat. Sebelum kau Earnest Lee, kau adalah putra kami satu-satunya. Cucu laki-laki satu-satunya di keluarga ini. Tidak sembarang perempuan bisa menjadi istrimu. Dan ini? Kau datang tiba-tiba dan…” Mama Lee mendesah tidak habis pikir. Dia kelihatan sangat marah.
“Tidak begini seharusnya. Ini memalukan. Pihak laki-laki yang harusnya datang untuk melamar. Perempuan murahan mana yang kau bawa ke sini Earnest? Ini sama sekali tidak beradab…”
“Ma…” Earnest memelas.
Maaf, dari sudut pandangku, mereka lah yang tidak beradab. Jika pernikahanku harus melibatkan orang-orang seperti ini, aku memilih tidak menikah. Aku memutuskan. Ku colek lengannya. Dia menoleh ke arahku.
__ADS_1
“Kita pulang saja. Tidak usah dilanjut lagi. Akan lebih menyakitkan lagi. Ada papa dan mama Kim di sini…” Aku berbisik. Dia menatapku dengan rasa bersalah yang sangat besar. Menjilat lidahnya berkali-kali. Ku yakinkan dia dengan tatapanku.
“Masih ada lain kali. Ayo pulang sekarang. Kita tidak disambut di tempat ini…” Ku lanjutkan membujuknya.