Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Berharap


__ADS_3

“Earnest…” Papa dan mama saling memandang penuh arti. Entah apa maksudnya. Aku tidak menyukai pemandangan itu. Menyiratkan sesuatu yang sangat tidak ku suka. Aku berusaha menghalau semua perasaan negatif yang sedang menyerang benakku. Pikiranku langsung tertuju pada Jade. Apa yang akan terjadi pada hubungan kami jika semua praduga ini benar? Dan itu adalah hal yang paling tidak ku inginkan terjadi. Berbagai macam doa terselip dalam sanubariku. Agar bagaiamana pun kisah hidup kami, tidak peduli se-sama apa, kami bukanlah saudara sedarah. Kami adalah hasil bayi titipan dan produk massal? Tidak masalah. Justru itu membuat aku ingin melindungi Jade lebih lagi. Aku beruntung karena bisa keluar dari istana itu begitu dilahirkan. Tapi dia sudah mengalami banyak hal menakutkan. Iya, aku harusnya menolong. Bukan meninggalkan dia begitu saja.


“Hentikan pencarian itu Earnest. Tidak akan ada gunanya. Dan yang paling penting, keluarga kita terikat sebuah perjanjian yang legal bahwa kita tidak seharusnya melakukan apa pun untuk mengusik organisasi itu. Kita diminta untuk hidup di masa depan tanpa mengingat kejadian itu lagi, tidak mengungkit-ungkit lagi bahkan mencari-cari. Itu melanggar perjanjian. Lagipula, untuk apa mencari pria itu? Mau diapakan? Apakah dengan menghukum dia, segala sesuatu bisa berubah menjadi baik? Yang ada malah semakin runyam. Kita bisa mengambil tindakan yang sederhana saja. Kau tau apa yang seharusnya kau lakukan sekarang tentang Jade…” Mama berkata dengan gamblang dan aku sangat tidak suka. Mengakhiri segala sesuatu dengan Jade? Itu omong kosong dan tidak akan pernah ku lakukan sampai aku menemukan sebuah alasan yang legit untuk melakukannya.


“Tidak ma. Aku tidak bisa mengakhirir hubunganku dengan Jade begitu saja. Aku akan tetap mencari pria itu bagaimana pun caranya. Aku mau bertanya tentang banyak hal sampai aku menemukan jawaban yang ku inginkan kemudian menyerahkan dia pada pihak yang berwajib untuk mendapatkan hukuman yang setimpal. Bagaimana jika ternyata dia masih melakukan praktik itu selama berkeliaran? Itu sangat berbahaya…”

__ADS_1


“Earnest… Hentikan logikamu. Hal-hal di luar sana tidak selalu bisa terjadi sesuai kehendakmu. Apa yang sedang terjadi ini adalah sesuatu yang sangat besar, di luar kendlai kita. Fakta bahwa kau menemukan tempat itu dalam keadaan kosong adalah suara bahwa, bahkan pihak berwajib pun tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu. Jika mereka bisa berbuat sesuatu, pria itu sudah lama mendekam di penjara. Kita tidak tau siapa saja yang terlibat di dalam praktik busuk itu. Apa yang mereka lakukan itu bukan sesuatu yang bisa diterima oleh akal manusia. Sangat di luar nalar. Tapi kenapa mereka bisa bertahan selama bertahun-tahun? Pasti ada yang memback-up. Mereka punya caranya, cara yang tidak bisa kita duga. Dan ketika kasus itu lenyap begitu saja pun, pasti ada campur tangan orang yang kita tidak tau sebesar apa kuasanya di negeri itu. Lupakan niat itu. Di manapun dia berada, biarkan. Bukan urusanmu. Papa mama malah mengkuatirkan keselamatanmu dan anak-anak lainnya yang bisa lepas dari tempat itu dan tersebar di mana-mana…” Aku menarik nafas panjang dan menghempas dengan kesal. Dari sudut pandang manapun, aku tidak bisa terima pendapat itu.


“Lagipula, jumlah anak itu ratusan. Semua mirip-mirip. Apa kau berharap dia akan mengingat semua anak yang sudah dihasilkannya? Jangan-jangan dia bahkan tidak ingat ada berapa anak dan siapa saja mereka. Tidak mungkin kan dia bertemu dengan mereka satu persatu. Jadi usahamu itu, selain sangat beresiko pada kita semua, belum tentu menghasilkan apa pun. Sementara, mungkin akan ada kekacauan yang sangat merugikan. Pikirkan lagi matang-matang. Jangan gegabah dan hanya ingin mengikuti nafsumu belaka.” Papa menambahkan. Benar juga. Bagaimana mungkin dia bisa bertemu dan mengingat wajah anak-anak itu satu persatu?


“Jadi apa yang harus ku lakukan ma? Masak aku harus bersembunyi seumur hidup tanpa mengetahui kebenaran yang seharusnya ku ketahui? Itu bodoh namanya. Dan karena kebodohan ini, aku harus melepaskan Jade. Aku tidak bisa. Aku sangat mencintai Jade. Jika aku tidak menemukan satu bukti pun tentang kemungkinan bahwa hubungan kami tidak bisa, aku akan terus mempertahankannya.”

__ADS_1


“Untuk sementara, kau tinggal di rumah ini. Jangan ke mana-mana. Tunda kepergian ke Seoul. Minta pemimpin di sana untuk menangani semua urusan yang ada soal pekerjaan. Kau berada di bawah pengawasan papa dan mama. Tindakan bodohmu ini bisa mencelakakan dirimu sendiri dan mungkin juga orang lain. Kau sudah bertindak sesuka hatimu sedari kecil, tapi tidak untuk yang satu ini. Kau tidak tau betapa besar perjuangan kami untuk mendapatkan dan membesarkanmu. Jangan kau hancurkan hanya karena masalah cinta yang tidak bisa kau kontrol.” Papa menghardik dengan tegas.


Aku bisa saja melawan dan tetap pergi. Fisik papa tidak lebih kuat dari aku. Tapi aku menuruti apa kata mereka. Yang sedang mereka kuatirkan bukan perkara Jade seorang terkenal atau tidak. Mereka sedang mengkuatirkan aku.


Lembaran dokumen itu masih ada di tanganku. Beberapa lembar perjanjian jual beli yang sudah sedikit usang namun masih kelihatan rapi karena disimpan dengan baik. Lengkap dengan butir-butir klausa yang mengikat perjanjian itu. Sangat lengkap dan detail. Di sana tertulis bahwa pemeriksaan tentang siapa aku di masa yang akan datang adalah sebuah bentuk pelanggaran besar. Latar belakang hidupku benar-benar harus dihapuskan dari sejarah bumi dan peradaban manusia. Bahkan nama yang tertera di sana pun adalah nama yang diberikan oleh papa dan mama. Aku berharap akan menemukan nama asli sebelum aku dipindah tangankan. Atau mungkin karena aku baru lahir dan belum punya nama? Ah… bisa jadi. Jade punya asli dari sana karena dia masih menghabiskan 9 bulan dengan mama Kim. Sementara aku? Benar-benar bayi yang masih merah, baru dilahirkan dalam hitungan jam.

__ADS_1


Benar kata papa dan mama, aku tidak seharusnya menyelediki kasus itu lebih jauh karena itu menyangkut keselamatanku. Jika mereka sampai menemukan DNA ku di database negara manapun, mereka bisa menuntut papa dan mama karena telah melanggar perjanjian.


Ku telusuri satu per satu klausa itu. Kami dilarang untuk mencari asa-usul pihak pertama, yang menjual aku pada papa mama. Bahkan tanda tangan dan cap yang tertera adalah sebuah stempel organisasi tanpa nama dan tanda tangan. Dan iya, organisasi itu adalah organisasi yang sama dengan yang ku temukan ketika aku ke Paris untuk bertemu dengan Lucian Warren. Hatiku semakin gundah. Pembuktian itu kelihatan semakin dekat. Namun ada secercah harapan, Lucian Warren bukan satu-satunya kandidat yang mereka miliki untuk memproduksi anak. Iya, aku ingat. Mereka ada banyak. Aku selipkan doa-doa itu dalam kalbuku, itu satu-satunya harapan, kami bukan berasal dari ****** pria yang sama.


__ADS_2