
Sudut Pandang Earnest
Aku berangkat ke restoran tempat aku dan Gaia janjian, setelah nge-drop Jade di kantornya. Hari ini adalah hari terakhirnya kerja. Kami sudah sepakat bahwa dia akan berhenti dari sana. Jade akan menyerahkan surat resign dan pamit dari Gaia.
Meski aku tidak tenang karena tidak mungkin sesederhana itu. Aku kenal Gaia. Namun aku memilih percaya pada insting Jade. Dia bilang semua akan baik-baik saja. Lagipula, Gaia sudah setuju untuk bertemu denganku. Aku akan bicara baik-baik dengannya tentang hubungan kami. Aku berspekulasi. Ada ragu, tidak mungkin semudah itu untuk membuat Gaia melepaskan Jade. Namun aku bergantung pada kualitas persahabatan kami. Masak sih untuk sahabat sendiri dia se-egois itu? Dia sendiri sudah menemukan pria yang akan dinikahi. Harusnya dia berterima kasih karena ku sudah membantu Jade untuk melupakan kesedihannya. Kurang lebih begitu caraku berpikir untuk menghalau rasa raguku. Walau jujur, itu semua ngarang. Gaia tidak sebaik itu.
Aku memutuskan untuk keliling-keliling sekitar area restoran itu untuk menunggu sampai jam janjian kami. Aku ingat, ada sebuah toko buku di sekitar tempat itu. Semoga masih ada. Aku punya kenangan yang indah tentang tempat itu. Dulu, kami memakai tempat itu sebagai tempat pelarian dan persembunyian bersama anggota bandku di sela-sela jadwal latihan dan perform yang benar-benar menekan. Kami bersenang-senang dengan membaca buku dan komik. Kemudian pulang ke mess dan bersiap-siap menerima hukuman karena menghilang tanpa pemberitahuan. Yang tau tempat itu hanya kami. Dan menjadi tempat favorit untuk bersembunyi dan melepas diri penatnya suasana agensi tempat kami bernaung.
Aku berencana untuk mencari beberapa buku bagus untuk Jade. Jadi dia bisa mulai sibuk membaca dan menulis sesuka hatinya, di rumah. Aku sangat bahagia mebayangkannya. Aku akan selalu menemukan Jade di rumah. Aku sampai-sampai tidak bisa menguasai diri, emosi bahagia itu terpancar melalui wajahku, selalu tersenyum. Aku bahkan tidak peduli ketika beberapa orang mengenali aku dan akhirnya aku harus berhenti sesekali ketika mereka meminta untuk sekedar menyapa, berfoto, atau meminta tanda tangan. Untuk hari itu, aku membiarkan diriku hidup seperti apa adanya. Anggap saja latihan. Tidak lama lagi, aku bahkan berencana untuk mengumumkan hubunganku dengan Jade. Aku akan hidup dengan bebas, sesuai dengan yang ku mau.
__ADS_1
Aku senang mendapati toko buku itu masih ada. Tampilannya masih persis sama dalam versi yang lebih usang. Namun tetap bersih dan terawat dengan baik. Vibe yang diberikan adalah suasana hangat dan tenang. Mereka seolah sedang melestarikan semua kenangan yang menyenangkan yang pernah ku dapatkan di sana. Aku mulai menjelajah rak demi rak. Menghabiskan hampir satu jam di toko itu dan mendapatkan 5 buku yang menurutku bagus dan berguna untuk Jade. Setelah membayar, aku berjalan ke mobil. Sebentar lagi jadwal janjian dengan Gaia tiba. Aku mendapat telepon. Aku melihat layar handphone. Drey? Dia adalah salah satu orang kepercayaanku yang ku tugaskan mengawasi Jade sejak setahun lalu. Ada apa? Rasa kuatir menyergapku. Dia tidak akan menelpon tanpa ku minta kecuali hendak menyampaikan hal-hal urgent, biasanya hal yang tidak baik.
“Drey, bicaralah...”
"Halo boss. Keadaan darurat. Saya melihat Gaia dan pengawalnya berjalan keluar dari kantornya membawa seseorang. Tidak jelas siapa karena tertutup oleh kain. Tapi saya mengenali rambutnya yang panjang dan hitam, Apa mungkin Jade? Mereka membawanya ke rumah sakit Life, yang paling dekat dari area kantor. Saya sudah memeriksa ruang gawat darurat, itu benar Jade.” Ku tutup telpon itu dengan cepat dan menyalakan mobil. Tolong, bukan hal yang serius. Tuhan tolong. Dan aku mengutuk Gaia, memaki dengan sumpah serapah. Pasti ada kaitannya dengan anger issue yang dimilikinya. Apa yang dia lakukan pada Jade? Sampai dia harus masuk IGD. Apa karena Jade resign? Atau jangan-jangan Jade sudah memberitahu tentang kami? Astaga! Aku benar-benar berharap Jade masih hidup. Jika tidak, aku bisa membunuh Gaia. Dia belum berubah sama sekai. Masih bertingkah sesuka hatinya meskipun membahayakan nyawa orang lain. Dia masih berpikir bahwa dunia ada di bawah telapak kakinya.
Ku tinggalkan mobil di lobi, ku serahkan kunci pada Drey yang sudah menunggu di sana. Berlari-lari kecil menuju lift dan naik lantai paling atas, di ruang VIP. Aku mendapat informasi itu dari Drey.
“Gaia…” Aku memanggilnya dengan suara gemetar. Dia menoleh ke arahku dan terkejut melihat aku ada di sana.
__ADS_1
"Earnest, bagaimana kau tahu untuk datang ke sini?" Dia bertanya.
"Kau seharusnya menyerahkan diri ke polisi, atau ke rumah sakit jiwa. Kau sakit!" Aku mendesis marah. Dia memandangku, air mukanya berubah dari terkejut kemudian bingung mencoba memahami kata-kataku.
"Jangan bilang, kau pria yang dia sebutkan?" Dia berubah marah.
“Iya, Jade adalah milikku. Tapi apa urusanmu? Apa pun alasannya, kau tidak dapat membenarkan tindakan seperti ini. Jika kau membiarkan sifat iblismu itu melekat dalam dirimu, kau akan berakhir jadi pembunuh Gaia. Berani-beraninya kau menghancurkan hidup orang lain seperti ini!” Aku menahan tinju untuk tidak melayangkan itu ke wajahnya. Bagaimana pun, aku tidak seharusnya bertindak kasar pada seoarang wanita. Aku tau dia tidak akan mampu melawanku. Tapi dengan pongahnya, dia berwajah marah seolah-olah dia cukup perkasa untuk bisa meruntuhkan aku.
“Ah… Jadi kau yang sudah merebut dia dariku...” Dia bicara seolah-olah dia adalah korban dan perbuatannya sama sekali tidak salah.
__ADS_1
"Hentikan Gaia! Jade bukan barang. Bukan benda yang bisa direbut paksa. Dia adalah manusia yang punya perasaan. Dia berhak memutuskan apa pun yang ingin dia lakukan dengan hidupnya. Kamu harus sadar. Tidak semua yang ada di dunia ini bisa kau anggap sebagai mainanmu!” Dia tertawa histeris.
"Oh... Jadi begitu ceritanya. Tadinya aku penasaran, siapa laki-laki itu. Dia sampai berani mengundurkan diri dan berpisah denganku. Pasti karena dia sudah mendapat tangkapan besar di sini. Dia memang sampah. Kau tahu? Aku sudah menyelamatkan hidupnya berkali-kali. Jika bukan karena aku, dia sudah berada di tempat gembel dan sampah sekarang. Bahkan mungkin, bisa jadi, dia adalah pelacur paling laku. Dipakai oleh banyak lelaki brengsek di luar sana. Aku punya hak untuk melakukan apa pun yang aku mau tentang dia. Jangan berani-berani kau melewati batas. Kau sebaiknya menghilang dari tempat ini sekarang. Tidak ada yang mengundangmu datang ke sini!”