Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Plot Baru?


__ADS_3

Aku melangkah pelan-pelan menuju sofa dan duduk di atas meja menghadap ke arahnya. Aku tidak menyentuh sama sekali, takut akan membangunkannya. Ku nikmati saja pemandangan indah yang ada di depanku. Wajah cantik dan polos yang telah membuat aku tergila-gila sejak pertama kali melihatnya. Setelah melalui setahun lebih dalam keadaan yang putus asa karena kehilangan ide untuk mendapatkannya, akhirnya dia masuk dalam hidupku. Bisa bayangkan betapa bahagainya aku? Dia hanya hidup dan bernafas di dekatku, aku sudah bahagia minta ampun. Aku tidak inginkan lebih. Aku membisikkan harap dalam hati berkali-kali, begini saja Tuhan, melihat dia tidur dengan damai setiap malam, sudah cukup. Boleh kan? Tidak usah ada cerita aneh-aneh. Iya, melihat dia tertidur saja sudah cukup membuatku bahagia.


Tidak terasa air mataku menetes. Membayangkan dan merasakan semua yang sudah terjadi dalam hidupnya. Dibuang, kemudian berjuang hidup sendirian di usia yang sangat muda. Sekarang, misteri itu perlahan terkuak. Sanggupkah hati yang lembut ini menerima kebenarannya? Jade, aku sangat berharap pencarian kita akan asal usulmu bisa berhenti pada titik menemukan ibumu saja. Andai Denise Kim adalah benar ibu yang sudah menelantarkannya, sudah cukup untuk menghancurkan dunianya. Tolong jangan nambah lagi. Jangan ada cerita lain. Bagaimana tidak? Dia ada di sana selama ini menyaksikan gadis kecil itu hidup, sendirian, berjuang dan mencari-cari. Sementara dia hidup dengan baik, menjadi istri seorang kaya raya bak di negeri dongeng. Ibu macam apa itu?


Aku mengingat betapa ingin dia menghentikan pencarian ini dan kami pergi saja jauh. Prediksinya, perasaan menakutkan yang muncul di benaknya, bisa jadi adalah kebenaran. Dan itu menghancurkan hatiku. Jika pun iya, aku akan melakukan apa pun untuk membantu menghadapi ketakutan itu. Bahkan jika benar bahwa dia tidak diinginkan oleh keluarganya, aku akan membawanya pergi jauh dari tempat ini. Aku bisa memakai sisa hidup kami untuk mengatakan padanya bahwa aku menginginkannya. Bahwa ada satu orang di dunia ini yang tidak bisa hidup tanpa dia. Mungkin dengan begitu, luka-luka di hatinya bisa sembuh. Jika pun tidak, setidaknya tertutup oleh kenangan-kenangan indah yang akan kami ciptakan bersama dan akhirnya terlupakan.


Tapi bagaimana jika semua adegan yang ditulis dalam ceritanya itu benar? Bagaimana jika gadis kecil itu adalah dirinya waktu kecil? Ku tarik nafas dalam-dalam. Bahkan aku, tidak tahu bagaimana cara menerima fakta itu dan mengatasinya. Aku, orang luar, yang tidak mengalami sedikitpun hal-hal seperti itu, tidak sanggup. Apalagi dia?


Jade sudah benar sejak awal untuk tidak melangkah lebih jauh. Tapi aku berada di tengah jalan dan demi ambisi, dengan percaya diri aku harus meneruskan sampai tuntas. Aku seharusnya berhenti saat itu. Kami harusnya sudah hidup di Singapura melanjutkan hidup kami dengan bahagia... Dengan bahagia? Entahlah. Bisa jadi kisah ini masih akan tetap menghantuinya. Semua pikirian-pikirian itu sangat berisik memenuhi kepalaku. Aku serba salah. Padahal aku hanya ingin hidup bersama dia, se-sederhana itu. Kenapa jadi rumit begini?


Ku sentuh pipinya, membelai dengan lembut, kulitnya halus terasa di telapak tanganku. Dan itu membangunkannya. Dia membuka mata dan langsung tersenyum ketika menangkap wajahku. Aku tersenyum.


"Daddy…" Suaranya masih parau.


“Hai… Tidurlah lagi.” Tapi dia bangkit dan melihat ke arahku. Dia mengambil tangan kananku dan mengamatinya selama beberapa detik. Lupa bahwa seharusnya aku menyembunyikan tangan itu.


"Apa yang terjadi dengan tanganmu?" Dia kuatir. Dan bisa ku pastikan dia sudah terbangun sempurna. Aku sedikit ngomel dalam hati, menyalahkan diri sendiri.


"Tidak ada apa-apa. Drey melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, aku marah dan meninju meja dengan refleks.”


"Berdarah?"

__ADS_1


“Tidak, hanya memar.” Dia memicingkan matanya dan menatapku lama. Aku tersenyum memandanginya. Tingkahnya kalau sedang tidak percaya dengan apa yang ku katakan menggemaskan. Dia tidak tau bahwa dengan begitu, dia membuat versi lain dari indah matanya terkuak. Aku suka. Aku suka semua ekspresi yang dia perlihatkan. Aku suka segala sesuatu tentang dia.


“Kesalahan apa yang dilakukan oleh Drey hingga membuatmu semarah ini?”


“Tidak ada masalah besar. Soal pekerjaan sayang. Dan sudah selesai.”


“Aku akan bertanya pada Drey nanti. Jangan bilang bahwa kau melakukan ini di wajahnya?" Dia menyipitkan matanya lagi, aku tergelak makin kencang. Dia kelihatan sangat lucu.


“Tidak sayang, tidak sejauh itu. Hanya satu pukulan di meja. Mungkin karena mejanya terbuat dari kayu yang bagus dan mahal. Jadi hasilnya begini...”


"Beneran?"


“Tidak perlu, aku percaya padamu. Lapar nggak?"


“Tadi ngemil buah dan minum sambil rapat. Bagaimana dengan kekasihku ini? Lapar?”


"Iya." Dia jawab dengan cepat sambil cekikikan. Aku ikut tertawa.


"Benar? Perlu aku siapkan makanan?” Dia cekikikan sambil geleng-geleng kepala.


"Nggak perlu. Sebentar lagi sudah pagi. Nanti saja sarapan besar.”

__ADS_1


"Oke deh. Kita tidur lagi yuk. Aku melihatmu tertidur lelap, harusnya ku biarkan sampai pagi. Maaf jadi membangunkanmu...”


“Nggak apa-apa daddy. Aku senang melihatmu pulang. Ayo, siapa tau kalau dipeluk bisa lebih nyenyak."


Aku mengambil waktu sebentar untuk bersih-bersih dan kami berbaring. Ku peluk tubuhnya erat. Dengan begitu, aku bisa dengan bebas menghujaninya dengan ciuman. Di kepala dan wajahnya. Aku suka mendengar dia tertawa kegelian, sampai dia capek sendiri. Kemudian kesal dan memintaku berhenti.


"Bagaimana hari ini sayang? Ada kemajuan dengan cerita-ceritanya?"


“Iya, makanya aku sangat senang. Aku membuat cerita yang baru. Akhirnya bisa menemukan sebuah plot cerita yang baru. Mau lihat?" Ah, akhirnya ku temukan alasan kenapa dia sesenang itu, sampai bisa ketiduran di sofa. Sebaiknya ku pakai kesempatan itu untuk membuatnya tidur lebih banyak.


“Wah, bagus dong. Tapi aku akan baca besok pagi, Sekarang waktunya tidur. Wajah cantik ini harus terawat baik dengan tidur yang cukup..." Dia mendengus tawa di dadaku.


"Selamat malam sayang...” Ku cium keningnya.


"Selamat malam daddy..." Dia bergerak mencapai wajahku, dan aku mendapatkan satu ciuman di bibirku.


Seperti yang ku harapkan, dia tidur dengan cepat. Ku rasakan ritme jantungnya yang teratur dan suara nafasnya yang lembut dan teratur. Itu berarti dia benar-benar berada dalam mood yang bagus. Aku jadi penasaran. Plot  cerita macam apa yang dia sudah dapatkan kali ini sehingga membuatnya merasa sangat senang?


Aku menunggu sampai dia tidur nyenyak. Kemudian ku lepas tubuhnya dari pelukanku, meletakkan kepalanya di atas bantal pelang-pelan, dan memperbaiki selimut menutupi tubuhnya sampai ke dada. Dengan pelan-pelan aku keluar kamar menuju ruang kerja. Mac masih terbuka dan menyala. Aku menduga, dia pasti sedang menugguku untuk memamerkan hasil kerjanya hari ini. Ku buka folder kumpulan cerita dan menghitung, ada beberapa cerita bertambah hari ini. Sudah ada total 19 cerita sejauh ini. Setelah memeriksa tanggal dan jam file, ku klik file yang paling terakhir disimpan.


Oh, dia bahkan punya judul baru. Bukan tentang raja, tuan atau dewa lagi. Memang belum semua cerita diberi judul, dan jika iya, pasti ada kaitannya dengan kata raja. Yang satu ini, tentang malaikat hitam.

__ADS_1


__ADS_2