Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Hanya Sebentar


__ADS_3

Toh setelah aku menyelesaikan misiku berada di sana, aku akan kembali lagi. Dan pasti dalam keadaan baik-baik saja. Aku tidak bodoh. Semua klausa tertera dengan jelas di surat kontrak. Aku tidak akan mengalami kerusakan secara fisik. Dan mental? Aku berharap juga akan baik-baik saja. Aku hanya akan mengandung anak dari seorang petinggi di jajaran kepemimpinan organisasi geng besar itu. Meminjamkan rahimku. Aku sudah belajar dari internet, bahwa aku akan berhubungan dengan seorang pria saja, mengandung anaknya, kemudian selesai. Dan aku boleh pulang untuk menjalani hidupku kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku sudah setting diriku untuk berpikir bahwa aku dijodohkan dengan seorang pria tua dan tidak lama kemudian akan diceraikan. Dan untuk itu aku memperoleh imbalan yang tidak main-main jumlahnya. Mudah kan? Aku berpikir sesederhana itu.


Aku berbaring di sebelah mama dan ku peluk tubuhnya yang masih gemetar karena menangis. Ku elus-elus lengan dan punggungnya. Untuk menyalurkan rasa nyaman yang ada dalam hatiku. Bahwa aku baik-baik saja. Karena aku takin tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi. Coba bayangkan. Sebuah rumah mewah dan megah tiga lantai lengkap dengan furniturenya. Sejumlah uang cash yang cukup untuk menghidupi keluarga kami sampai aku kembali lagi dan bisa bekerja dengan normal. Bahkan mungkin cukup untuk selamanya jika dikelola dengan baik. Sebuah mobil mewah untuk digunakan oleh papa dan mama selama aku tidak bersama mereka. Dan banyak fasilitas dan kemudahan lainnya, seperti voucher hotel dan restaurant mahal. Bahkan untuk belanja barang-barang yang kami suka. Termasuk benda fashion. Sebuah lompatan yang sangat tinggi. Siapa yang tidak akan tergiur untuk menerima semua itu hanya dengan meminjamkan rahimku?


Dua tahun itu hanya sebentar. Jangan minta aku membandingkan dengan 20 tahun hidupku yang sudah berlalu dengan sangat sengsara. Dua tahun itu hanya sekejap mata. Hanya sebentar.


Setelah menikmati hidup yang menyenangkan dengan papa dan mama selama kurang lebih sebulan --aku diberi waktu sebulan untuk meyakinkan dan menenangkan mama--, aku berangkat menuju tempat itu. Jangan ditanya. Sebulan itu cukup untuk menorehkan kenangan indah yang cukup lumayan mampu menindih luka-luka yang pernah ada. Kami menikmati tinggal di rumah mewah dengan service yang lengkap dari para pelayan. Tidur dengan nyenyak di atas kasur empuk yang mewah dan mahal. Makan makanan enak yang belum pernah kami makan sebelumnya. Pergi berlibur ke tempat-tempat indah dan mahal. Meningap di hotel-hotel mewah. Dan belanja barang apa pun yang ingin kami punya sesuak hati. Dan itu membuat penampilanku semakin bagus. Jauh lebih baik. Ku pikir-pikir, aku dijadwalkan berangkat sebulan setelah menanda tangani kontrak bukan karena maksud baik dari pihak mereka untuk membahagiakan keluargaku. Tapi semata hanya untuk menata diriku agar kelihatan lebih sehat dan cantik. Iya. Tapi lama baru ku sadari.

__ADS_1


Sesuai dengan kesepakatan, jenis surrogacy yang akan ku jalani adalah natural. Tanpa bantuan alat medis apa pun. Tau kan maksudku natural itu apa?


Aku sudah menerima perlakuan sangat istimewa sejak hari pertama aku tiba di sebuah tempat yang, haruskah ku bilang mirip istana? Kurang lebih begitu. Begitu masuk ke dalam pintu, sejauh mata memandang, yang tampak adalah area rumah yang sangat luas dan megah. Untuk orang miskin seperti aku, yang tidak pernah merasakan berada di tempat seperti itu, tempat itu sama sekali tidak dapat ku deskripisikan. Intinya, jika rumah yang ku dapatkan adalah mewah, tempat itu jauh lebih berkelas. Dilengkapi dengan para pelayan yang serba cantik dan cekatan. Seragam yang mereka pakai pun bukan style jaman modern, mereka memakai baju bak di cerita-certia dongeng berupa dress terusan panjang yang polos terbuat dari satin, kelihatan cantik dan anggun. Mereka menyambutku dengan hangat dan mengantarku ke sebuah ruangan, lebih tempatnya, rumah dalam versi kecil. Kamar itu lengkap dengan segala fasilitas sebauh rumah.


Mungkin karena dia dalah salah satu pemimpin tertinggi di lingkaran organisasi itu. Aku berpikir begitu polos. Sehingga bawaanku selalu senang. Seperti memijakkan kaki di sebuah negeri dongeng yang selama ini hanya ada di cerita-cerita klasik.


Dia masih mengirim hadiah-hadiah dan uang pada papa mamaku selama aku berada di sana. Yang membuat papa semakin gila-gilaan --bukannya sembuh dari penyakit judinya--. Dan dia menjanjikan hadiah yang fantastis jika aku bisa melahirkan bayi perempuan yang sehat dan cantik, apalagi kalau mirip dia. Aku tau, di surat kontrak tertulis, dia hanya menginginkan seorang anak perempuan. Dia berkata, bayi perempuan itu lucu dan menggemaskan. Dengan segenap hati, aku pun mengikuti semua programnya. Benar, saya mengikuti sebuah program untuk dapat mengandung seorang anak perempuan yang mirip dengan papanya. Mulai dari mengikuti aturan olah-raga yang harus ku ikuti setiap hari, jenis makanan dan asupan nutrisi yang ku konsumsi, bahkan semua bentuk vitamin dan obat-obatan, lengkap tertulis dalam sebuah buku manual.

__ADS_1


Membuat program itu berhasil demi hadiah uang, itulah yang selalu ku katakan pada diriku sendiri atau pada pelayan dan nanny yang mendampingi aku selama di sana. Tapi tidak sesederhana itu. Aku jatuh cinta. Diam-diam, aku mencintainya dan mencintai bayi yang ada dalam kandunganku. Aku merancang segala jenis rayuan untuk meluluhkan hatinya agar kami bisa hidup sebagai sebuah keluarga. Aku terlalu ge-er bahwa dia cinta padaku.


Tapi kemudian aku sadar kekuatan dari sebuah kontrak kerjasama. Apalagi, tentu saja sudah menyebutkan pasal-pasal terkait pelanggaran segala. Tidak bisa diganggu gugat. Harus dijalankan sesuai dengan apa yang sudah tertulis, hitam di atas putih. Segera setelah melahirkan bayi perempuan sehat dan cantik, aku mendapat sebuah bundelan dokumen untuk ditandatangani. Isinya adalah perjanjian serah terima hadiah uang yang jumlahnya fantastis dan kesediaan untuk memutuskan hubungan dalam bentuk apa pun dengan bayi yang baru saja ku lahirkan.


Aku akan tinggal di sana selama 10 bulan lagi untuk menyusui bayi itu dan setelah itu harus memutuskan hubungan dengannya apapun yang terjadi. Itu jika aku setuju menanda tangani surat itu. Jika tidak, aku segera akan dipulangkan tanpa bisa melihat bayiku lagi. Tentu saja, tinggal di sana adalah pilihan yang terbaik. Setidaknya aku masih bisa melihatnya, menyentuhnya, menggendingnya dan mengalirkan sebagian dari tubuhku ke tubuhnya melalui ASI. Dengan begitu aku berharap, semoga kelak dia ingat bahwa aku adalah mamanya. Meski sangat kecil kemungkinan kami akan bertemu kembali, tapi secuil harapan itu tetap ku genggam.


Singkat cerita, bayi itu ku tinggalkan di sana setelah 10 bulan. Jika aku melawan, resikonya adalah kehilangan nyawa, bukan hanya nyawaku, tapi seluruh keluargaku yang sudah ikut menikmati uang pria itu --yang sampai aku saat ini aku tidak tau siapa namanya--. Itu adalah momen yang sangat memilukan hati. Sangat sakit ketika aku harus membunuh cinta yang sangat kuat untuk pria itu. Lebih sakit lagi ketika aku harus melepas bayiku, yang sudah bisa mencengkeram jemariku dan tenang dalam pelukanku selama 10 bulan. Tapi aku tidak punya piilihan kan? Aku hanya menghibur diri, setidaknya dia punya papa yang kaya raya. Jadi dia akan dirawat dengan baik layaknya putri raja dan tidak akan pernah kekurangan. Itu adalah satu-satunya penghiburan yang membuatku tegar untuk menjalani hidup setelah melepaskannya.

__ADS_1


Aku sempat memberinya sebuah nama. Valene Varon, alku memberi nama belakangku karena aku sama sekali tidak tau siapa nama papanya. Aku memahat nama itu dalam hati dan tidak pernah absen membisikkan nama itu di telinganya, dan memanggil namanya setiap kali aku bercakap-cakap dengannya dalam kurun waktu 10 bulan itu. Berharap dia masih mengingat ku di alam bawah sadarnya.


__ADS_2