Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Malaikat Hitam


__ADS_3

Malaikat Hitam


Ku baca judulnya.


Beberapa istilah masih sama. Malaikat hitam ini selalu ada dalam setiap cerita. Sampai-sampai, aku cukup yakin bahwa malaikat hitam yang dia sebutkan itu benar-benar ada. Jadi, kali ini, dia akan berbicara tentang malaikat hitam dengan lebih detail. Ketika ku telusuri sekilas keseluruhan cerita, semua terasa familiar. Aku bisa menebak dengan mudah, ini pun masih tentang kerajaan itu. Hanya ada beberapa hal yang berbeda. Dia menamai raja sebagai pangeran iblis. Aku mendesah, dia akhirnya menemukan sebuah istilah yang tepat untuk menyebut raja itu. Siapa pun itu, real atau tidak, dia memang iblis. Jika adegan yang dia gambarkan dalam semua cerita benar-benar terjadi, maka nama pangeran iblis terlalu bagus, harusnya raja iblis.


Plot yang berbeda yang dia maksud adalah, karena cerita itu fokus pada interaksinya dengan si malaikat hitam.


Ini adalah hal paling aneh yang pernah terjadi di dalam ruanganku. Aku terbangun karena disentuh. Aku tersentak kaget. Tidak pernah ada yang boleh menyentuh kami. Apalagi oleh malaikat hitam, jika bukan untuk tujuan tertentu. Ku pandangi sosoknya. Iya, dia adalah malaikat hitam. Tapi bukankah harusnya dia mengetuk pintu? Aku pasti dengar dan bangun. Dia tidak boleh masuk ke dalam. Hanya boleh menunggu di luar pintu sampai aku keluar dan kami berjalan menuju ruang perjamuan. Aku menenangkan diri. Mencoba mencerna situasi yang sedang terjadi.


"Apakah kamu mengenaliku?" Dia bertanya, dia menatapku dengan seksama, tepat ke mataku. Tidak seharusnya begitu. Namun dia melakukannya.



*"Kamu adalah salah satu dari malaikat hitam..." Aku menjawab dengan pasti, bercampur sedikit ragu, karena... Kenapa dia harus bertanya? Dia harusnya tau bahwa aku tau.


"Iya..." Dia ragu sejenak.*


"Tapi aku bukan orang yang biasa membantumu, tidak bisakah kamu melihat bedanya?" Dia mendekatkan wajahnya padaku. Perlahan, aku ingin marah. Tindakan itu tidak sopan. Tidak ada dari mereka yang boleh dengan berani-beraninya menyodorkan wajah mereka begitu dekat pada kami. Itu adalah tindakan tidak sopan. Tapi aku tau, aku harus menguasai diri. Rekam jejakku harus bersih sampai tiba hari di mana aku menjadi putri terpilih.


__ADS_1


“Apakah kamu lupa siapa dirimu? Kamu adalah malaikat hitam yang kemarin, dan kemarin dan kemarinnya lagi.” Aku menjawab dengan tegas. Dan yakin pasti bahwa jawabanku benar.


Semua malaikat hitam di tempat itu adalah sama. Yang membedakan mereka hanya tongkat yang ada di tangan mereka. Dia terdiam mendengar jawabanku, agak lama dan menggigil, kemudian menutup matanya, menarik nafas dalam-dalam. Aku sedang sibuk berpikir, bagaiamana aku akan melaporkan perbuatan tidak sopan ini pada raja? Kehadiran satu orang malaikat hitam seperti dia akan menjadi cela pada citra kerajaan. Bagaimana kalau malaikat hitam yang lainnya pun akan berpikir melakukan hal yang sama? Keadaan akan kacau. Mereka harusnya cukup menyembunyikan wajah mereka di balik hoodie yang menutup setengah wajah mereka. Kami hanya boleh melihat bibir mereka yang berwarna merah pekat yang selalu melengkung sempurna, itu pun hanya sekilas.


"Valene, aku tidak selalu ada di sini. Aku bukan yang kemarin, dan yang kemarinnya lagi. Ini pertama kali aku ada di sini, kamu tidak bisa mengenali aku?" Valene? Dia kelihatan kesulitan bernafas, air mengalir diri pipinya, keluar dari matanya. Apakah dia sedang kesulitan? Oh... Bisa jadi. Tapi kenapa? Sebagai putri yang baik, aku harus mencoba menenangkannya.



“Apakah kau sedang kesulitan? Ada yang bisa ku bantu? Dan, apa itu valene? Sebuah kata? Itukah sebabnya kamu kesulitan?” Aku mencoba bersikap baik. Dia menatapku lagi, dengan seksama. Ekspresinya adalah sesuatu yang baru, belum pernah ada di sekitar istana itu pernah menunjukkan ekpresi serupa itu. Yang pasti bukan sesuatu yang baik. Dia sedang tidak senang. 


Aku pun berpikir keras. Bagaimana cara agar orang menjadi senang? Berada dekat raja? Darah segar? Segelas vitamin? Itu yang membuat aku senang. Dan tentunya gelar sebagai putri pilihan raja. Tapi aku tidak mampu memberikan itu semua padanya. Merekalah yang setiap hari menuntun kami untuk mendapatkan itu dan membuat aku senang. Aku bertanya-tanya, jika sama sekali tidak dapat membantunya, apakah itu akan memengaruhi rekam jejak yang bagus yang sudah ku jaga selama ini?



...


Aku berhenti sejenak. Valene? Bukankah itu nama yang ku dengar dari Drey? Aku memeras otak untuk mengingat, tapi aku tidak yakin. Mungkin ini lah yang dimaksud dengan penyakit tua. Sepertinya aku memang sudah tua, aku bahkan tidak bisa memastikan. Ku telpon Drey untuk memastikan.


"Halo boss..." Dengan segera dijawab. Suaranya parau. Dia pasti sudah tidur. Tapi aku tidak repot-repot untuk meminta maaf.*


“Drey, apakah kamu menyebutkan sesuatu seperti 'Valene' ketika kita memeriksa berkas tadi malam?"

__ADS_1


“Tunggu Bos, aku perlu mengingat banyak hal. Tunggu, ah… iya. Valene Varon, anak perempuan kecil yang masuk dalam daftar penumpang di kapal yang sama, pada hari Denise Varon tiba di Korea...”


"Oke Drey. Terima kasih.”* Ku tutup telpon dan aku terhenyak. Valene. Dia bahkan punya nama itu, apakah dari ingatannya yang hilang? Aku kembali fokus ke layar Mac.


...



“Valene itu sebuah nama? Tidak ada nama seperti itu di tempat ini. Kita semua disebut Malaikat di tempat ini. Tidak ada nama lain. Aku malaikat putih dan kamu malaikat hitam. Sebentar lagi, aku akan dipanggil seorang putri, ketika pilihan itu jatuh padaku, aku adalah seorang putri...” Aku masih mencoba menjelaskan dengan sopan. Jujur saja, dia sangat tidak sopan. Berani-beraninya memberi nama. Itu sama saja dia ingin menyamakan kedudukannya dengan raja. Hanya raja yang berhak memberi kami nama. Dia meraung-raung namun berusaha meredam volume suaranya. Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Aku sedikit panik. 


*“Baiklah. Apapun panggilanmu. Ayo tinggalkan tempat ini...” Mau tidak mau, aku keheranan. Tidak bisa lagi ku pertahankan wajah manis dan tenang yang ku perjuangkan sejak awal. Tapi tiba-tiba aku sadar. Apakah sudah waktunya? Karena, semua kejadian itu aneh. Dari awal sampai akhir. Tidak ada ketukan di pintu. Dan seorang malaikat hitam masuk, melangkah ke dalam kamarku. Belum pernah terjadi sebelumnya.


"Apakah sudah giliranku?" Aku berubah semangat. Berharap bahwa dugaanku benar. Dia mengenyitkan dahi, menatapku dengan seksama, sepertinya dia tidak paham dengan apa yang ku maksudkan. Namun ekspresi di wajahnya berubah dengan cepat. 



“Oh, iya benar. Giliranmu sudah tiba. Ayo. Bersiaplah, dan ikuti aku...” Hatiku rasanya mau lompat keluar dari sarangnya. Benar dugaanku. Aku adalah putri yang terpilih.



“Apakah aku disebut putri sekarang? Saya seorang putri?" Aku meyakinkan, dengan perasaan yang sangat senang.

__ADS_1



"Iya benar, kamu adalah seorang putri sekarang. Kamu sudah terpilih." Dia meyakinkan aku.*


__ADS_2