
Aku membetulkan letak sepatunya di rak sepatu. Dia menolak pelukanku seperti biasa. Langsung berjalan ke dalam kamar, meletakkan koper dan tas tangannya di area closet kemudian masuk ke kamar mandi. Dia harus mencuci wajah dan tangannya, melepaskan jaketnya, baru berani memeluk dan menciumku. Aku terkekeh mengikutinya dari belakang.
Dia baru saja tiba dari bandara, setelah 4 hari bertugas di kantor pusat di Singapura. Sambil menunggunya bersih-bersih, ku sajikan teh panas di atas meja. Kemudian mulai membuka koper dan tasnya untuk beres-beres. Aku memisahkan semua jenis pakaian yang harus dikirim ke laundry khusus untuk dry-clean dan pakaian yang bisa dibilas di mesin cuci biasa. Kemudian menempatkan barang-barang lainnya pada tempatnya. Aku menemukan sebuah kotak perhiasan warna hijau muda. Dan aku merasakan tangannya melingkari pinggangku, memelukku dari belakang.
“Untukmu… Bukalah...” Bisiknya. Aku tersenyum senang. Kebiasaannya, selalu membawa pulang sesuatu setiap kali bepergian. Ku buka dan menemukan sebuah gelang berlian yang sangat indah. Tapi bagiku, apa pun yang dia berikan, aku akan sangat senang menerima. Masalahnya adalah, aku bingung harus diapakan barang-barang itu. Aku bukan seseorang yang suka pergi ke mana-mana. Jadilah benda-benda indah dan mahal itu tersusun rapi sebagai pajangan. Menunggu dipakai. Tapi yang punya tidak pernah punya ide untuk pergi ke mana pun agar bisa memakai barang-barang itu.
"Suka nggak?" Dia berbisik lagi. Itu hanya basa-basi. Dia tahu aku tidak begitu suka dibelikan barang-barang mewah. Tapi aku tidak akan berpura-pura untuk menyenangkan hatinya. Ku tutup kotak itu. Aku membalikkan badan berhadapan dengannya dan menikmati tatapannya yang sudah sangat ku rindukan. Setiap kali bermesraan begitu, aku menyadari satu hal, bahwa aku bahkan belum mengatakan kata itu: 'Aku mencintaimu'. Kemudian aku bertekad harus mengatakannya hari itu juga. Namun entah kenapa, kesempatan demi kesempatan berlalu begitu saja. Dan lidahku masih kelu.
Ku nikmati pemandangan itu, dia sangat tampan. Tidak bisa ku hindari, pikiran-pikiran negatif seringkali terselip. Kadang bertanya-tanya apakah dia pernah memiliki wanita lain ketika jauh dariku? Ku habiskan beberapa saat menyelidiki lewat penampilannya, tetapi dia masih sama. Dia sedang jatuh cinta. Sorot di matanya tidak bisa bohong, dia masih pria yang sama yang berangkat meninggalkanku 4 hari lalu. Aku berjingkat, meraih bibirnya dan mencium dengan mesra. Ekspresinya berubah sumringah. Semudah itu membuatnya bahagia.
"Aku suka. Terima kasih...” Dia mencium bibirku.
“Tapi kau tahu aku tidak membutuhkannya, berhentilah melakukannya...” Dia tersenyum lebar.
“Aku tahu kau akan mengatakan itu. Tapi aku masih akan membawa barang-barang indah ke rumah ini. Aku bahkan akan membawa seluruh dunia untukmu.” Katanya. Itu konyol. Aku menyipitkan mataku memandangnya pura-pura tidak terima. Dia tersenyum melihat ekspresiku. Dia tahu bahwa aku tidak akan mudah percaya kata-kata manisnya. Tapi dia masih saja melakukannya.
“Aku ingin tau…” Aku mencoba mengatur kalimat yang paling sopan. Dia sedang menunggu kalimatku.
"Apakah kau bertemu wanita cantik di sana, agar kau tidak kesepian?" Aku berusaha untuk bertanya dengan hati-hati, tapi tidak berhasil. Aku harus memuaskan rasa penasaranku. Dia terbelalak.
“Hei Jade, pertanyaan itu sedikit jauh sayang. Kau meragukanku? Well, ada banyak wanita di sana. Tapi hanya kamu yang bisa membuatku merasa menjadi laki-laki sempurna. Itu sebabnya aku berusaha untuk pulang secepat mungkin setiap kali bepergian. Aku hanya menginginkanmu..."
"Beneran?"
“Mmm… Sebelum kau ada di sini, aku akan menghabiskan seminggu penuh setiap kali berkunjung ke cabang lain, atau bahkan lebih. Karena aku tidak merasa penting harus pulang ke rumah, yang mana pun itu. Toh, tidak ada yang menunggu ku di sana. Kau harus siap-siap. Mereka memperhatikan perubahan dalam diriku. Mereka curiga bahwa aku punya pacar. Segera setelah pencarian asal-usulmu selesai, kita akan mengumumkan hubungan kita dengan terang-terangan. Dan... Menikahlah denganku…” Belum tau kapan urusanku akan selesai. Tapi aku merasa ada yang mengganjal di dadaku setiap pertanyaan itu muncul dari mulutnya.
__ADS_1
Aku melepaskan diri dari pelukannya dan mencoba mengatur kata-kataku. Dia menangkap sesuatu yang aneh. Menarik tubuhku untuk kembali mendekat padanya, membingkai wajahku dengan tangannya dan menatap mataku dengan penuh selidik.
"Ada apa Jade? Apakah ada yang terjadi selama aku pergi? Drey belum melaporkan apa pun padaku. Artinya semua baik-baik saja kan?”
"Mr.Lee…” Aku menggumam, tidak sadar sedang memanggil namanya secara formal. Dia terkekeh.
“Ya mrs.Lee…?” Aku sontak tersenyum mendengarnya. Kemudian ku atur kembali sikapku.
"Tidak bisakah kau memanggilku dengan panggilan sayang?” Dia meminta.
"Contohnya?" Aku benar-benar tidak tahu harus memanggilnya apa. Karena dia jauh lebih tua, kurang lebih 10 tahun. Haruskah aku memanggil daddy? Dia memang berperan seperti sugar daddy jika ku lihat dari kacamata negatif. Apa-apaan sih?! Aku geli sendiri dengan cara berpikirku. Aku tertawa, istilah itu membuatku merasa agak ngeri-ngeri sedap.
"Kenapa tertawa?" Dia penasaran. Aku menggigit bibir mencoba untuk tidak mengatakan apa yang sedang ku pikirkan.
“Kau pasti memikirkan sesuatu yang aneh kan?” Aku diam. Dia mencium bibirku dan mengisapnya dengan lembut selama beberapa detik. Kemudian kembali lagi ke ekspresi penasarannya.
“Aku hanya kepikiran untuk memanggilmu daddy. Karena kau sangat memperhatikan dan menjagaku, juga memenuhi semua keperluanku. Tetapi ketika ku cari alasannya, aku menemukan kata sugar daddy. Lucu nggak sih? Makanya aku tertawa.” Dia malah tertawa, bahagia.
“Aku bukan sugar daddy Jade, hentikan pikiran bodoh itu. Aku masih 34, tergolong masih muda. Lagipula aku masih bujangan. Tapi aku senang dengan panggilan itu. Panggil aku daddy...” Dia menatapku penuh harap.
"Beneran? Bukannya itu aneh?” Aku memastikan.
"Tidak sama sekali. Di telingaku, itu adalah panggilan sayang paling mesra di dunia. Aku akan memanggilmu mommy kalau kita punya bayi nanti setelah menikah...” Dia berhenti dan menatapku. Aku merasa ada yang aneh ketika dia mengatakan itu.
“Mmm… Maksudku, daddy mommy adalah nama biasa yang disebut antara suami dan istri. Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Bagus. Tapi aku suka ketika kau panggil nama, atau sayang, atau honey. Jangan mommy...” Dia terkekeh, merasa geli. Kedengarannya memang agak aneh.
"Baiklah. Aku akan melakukan sesuai permintaan. Tadi mau bilang apa waktu panggil mr.Lee?" Dia kembali ke agenda sebelumnya. Ku tatap matanya. Sesaat aku ragu. Ku peluk dia. Dibalasanya pelukanku, tangannya melingkari tubuhku dan mengusap-usap punggungku lembut. Memberi efek menenangkan.
“Mari kita hentikan pencarian itu. Aku sudah tidak perlu tau siapa aku...” Iya. Karena aku ketakutan. Semakin dia getol melakukan penyelidikan, aku semakin dihantui perasaan takut. Aku menyesal telah pernah memohon bantuannya dalam pencarian itu.
"Coba kasitau, kenapa?"
"Aku tidak tau. Aku merasa sangat cemas. Aku takut kalau kita akan menemukan sesuatu yang tidak terduga...” Dia mencium kepalaku dan memelukku lebih erat.
"Beneran nggak apa-apa kalau kita hentikan?"
“Mmm… Dan ayo pergi jauh. Tinggalkan kota ini.” Dia masih tidak berhenti mengusap-usap punggungku.
"Tapi aku harus menyelesaikan ini sayang. Agar nanti tidak ada penyesalan. Aku janji, aku akan membawamu jauh dari sini setelah menemukan jawabannya. Apa pun hasilnya nanti, kita akan pergi jauh..."
"Kenapa tidak berhenti saja?" Aku menatapnya memohon.
“Karena kau bilang kau hanya akan menikah denganku jika kita sudah selesai dengan ini...” Dia berkata dengan serius. Ah, iya, aku ingat telah berkata begitu.
“Bagaimana jika sesuatu yang menakutkan benar-benar terjadi waktu itu? Aku sama sekali tidak siap. Dan... tidak bisakah kau menikah dengan orang lain saja? Aku sudah senang hanya menjadi pacarmu...” Bukankah itu adalah pernyataan yang bodoh? Tapi bagiku, itu adalah cara main yang aman. Aku benar-benar tidak siap menghadapi fakta buruk apapun. Dan apa pun faktanya nanti, aku lebih takut lagi jika hal itu akan membuatnya meninggalkanku. Aku lebih baik tidak tau apa-apa selamanya.
Dia mencium keningku, ku rasakan bibirnya yang lembut dan hangat menyentuh kulitku untuk waktu yang lama. Seolah hendak mengalirkan semua kekuatan yang dia punya untuk menenangkan aku.
“Itu ide yang bodoh sayang. Aku ingin kita selalu bersama. Mengapa aku harus menikah dengan orang lain?”
__ADS_1
“Bagaimana jika kita menemukan sesuatu yang menakutkan, seperti… entahlah. Maksudku, itu akan membuatmu meninggalkanku? Aku terlalu takut. Aku suka dengan cara begini. Lebih baik aku yang memutuskan agar kau meninggalkan aku, daripada aku berharap bersamamu selamanya tapi kau tetap akan meninggalkan aku. Bisakah kita melakukannya dengan cara begitu?" Dia memelukku lebih erat.
“Itu pemikiran yang salah Jade. Kau adalah hal yang terpenting untukku. Ingat itu baik-baik. Dalam keadaan apa pun, aku tidak akan meninggalkanmu. Ayo kita tuntaskan pencarian itu. Aku akan berada di sini bersamamu, tidak perlu takut. Itu keputusannya. Oke?" Ku lingkarkan kedua tanganku memeluk tubuhnya, ku peluk erat. Aku ingin menyampaikan padanya betapa takutnya aku kehilangan dia.