
Aku mendapat telepon dari Jade.
"Hallo sayang. Ada apa? Maaf tadi aku tinggalkan karena ada hal mendesak yang harus ditangani..." Tapi dia tidak menggubris sapaanku.
"Daddy. Apa yang harus ku lakukan dengan Andrew dan Fred? Boleh kan kami sarapan bersama? Maksudku. Kami sudah sering melakukannya dengan Drey. Aku tidak bisa hanya membiarkan mereka melihatku makan kan? Mereka juga harus makan..." Dia ngomel. Aku terkekeh. Dia memang selucu itu.
"Tapi apakah mereka sudah diajak?"
"Iya, sudah. Tapi mereka bersikeras, bilang bahwa mereka tidak diizinkan. Beneran begitu? Bagaimana bisa kau bisa sekejam itu daddy? Masak mereka tidak dibolehkan makan?" Aku tidak bisa menahan perasaan yang membuncah di hatiku, dia bisa membuatku bahagia, geli dan terharu pada saat yang bersamaan.
"Letakkan ponsel ini di atas meja, pasang speakernya, suruh mereka mendekat sekarang..."
"Oke. Sebentar... Sini Andrew, Fred..." Ku pastikan mereka sudah ada di sana.
"Andrew..."
"Siap boss."
"Ketika nona boss memintamu untuk melakukan sesuatu yang wajar, lakukanlah. Makan adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Bukankah begitu Andrew?"
"Benar boss."
"Jade... Sekarang sudah oke kan?" Aku berkata bernada membujuk. Dia cekikikan di telepon.
"Bagus daddy. Kami mau makan sekarang. Bye..." Masih ku dengar dia tertawa kesenangan.
__ADS_1
"Bye honey..." Begitu dia menutup telepon, aku menelepon handphone Andrew.
"Hallo boss..."
"Andrew... Kita perlu bicara rahasia. Pindah ke ruang tamu sebentar..."
"Siap sebentar boss... Saya sekarang di ruang tamu. Ada apa boss?"
"Dengarkan Andrew... Nona boss mu ini adalah orang yang berhati baik dan murni. Ikuti perintahnya selama itu dalam batas wajar. Jika sudah tidak wajar, tanyakan pada saya. Tapi jangan coba-coba ambil keuntungan dalam kesempatan ini. Seperti menatapnya berlama-lama ketika dia berbicara atau tersenyum atau tertawa. Paham?"
"Siap, paham boss. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk selalu melihat ke bawah atau ke arah lain."
"Bagus. Tolong lakukan dengan benar. Dan tolong dukung saya Andrew. Kamu harus membantu dengan menunjukkan citra baik saya di depannya. Kapan saya bilang bahwa makan adalah sebuah larangan? Gara-gara ini poin plus saya jadi berkurang kan karena kamu? Boss macam apa saya ini di matanya? Jangan lakukan itu lagi. Kamu harus bijak dalam memutuskan hal mana yang baik untuk dilakukan dan tidak, paham kamu?"
"Maafkan atas kebodohan saya boss. Siap. Kami akan berusaha mengambil langkah bijaksana dalam setiap tindakan untuk menunjukkan citra baik Earnest Lee."
"Drey, lain kali, pastikan untuk memberi pengarahan yang baik pada mereka sebelum menempatkan mereka di rumah utama. Bagaimana bisa pria yang baik hati dan suka menolong ini melarang orang-orangnya untuk sarapan? Omong kosong itu..." Aku terus ngomel, mengeluarkan uneg-unegku. Dan akhirnya kami tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah boss, saya akan pastikan untuk memberi pengarahan yang baik kepada mereka."
"Bagus. Kamu harus membantu saya tetap tampak sempurna di matanya. Setidaknya sampai kami menikah. Saya sudah bekerja sangat keras untuk memenangkan hatinya. Dan apa? Kalian menodai reputasiku hanya karena perkara sarapan! Astaga!" Drey hanya tertawa merespon sikap cerewetku. Dan sepertinya kami bisa lebih santai.
Aku tidak tahu siapa yang akan kami temui. Dan apa yang akan terjadi. Tapi aku percaya, orang baik akan bertemu dengan orang baik. Aku tidak berpikir Tuhan begitu kejam untuk membiarkan Jade dalam kegelapan selamanya. Dan apa yang sedang ku lakukan saat ini adalah menolongnya. Menjadi tenang adalah satu-satunya pilihan. Dan itulah yang ku butuhkan saat ini.
"Berapa banyak mobil di belakang kita Drey?"
__ADS_1
"3 audi hitam dengan 10 orang kita boss."
"Bagus. Minta mereka untuk tetap bergerak santai, biasa saja, jangan sampai menarik perhatian. Sampai mereka mendapat aba-aba dari kita."
"Siap boss."
Tidak sampai satu jam, kami memasuki kawasan megah itu, mencapai vila milik keluarga Kim. Begitu hidung mobil mendekat, gerbang villa itu otomatis terbuka. Kami masuk mengitari halaman yang super luas sebelum mencapai teras.
"Perintahkan orang kita untuk menyisir area ini dengan cepat dan cara elegan. Kita tunggu laporan dalam hitungan detik. Segera laporkan jika ditemukan sesuatu yang aneh." Aku memberi perintah.
"Siap boss." Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk. Seorang wanita anggun dan cantik berdiri di dalam, pintu terbuka dengan lebar dan dia seperti sengaja menunjukkan dirinya dengan cara tersembunyi, tidak menyambut kami di teras, tapi di dalam rumah.
Aku terkesiap. Denise Kim! Dia sendirian. Tidak ada tanda-tanda pengawal di mana-mana. Mungkin perlu ku pastikan lagi setelah menerima laporan dari orang-orang kami yang sedang memantau keadaan sekitar. Tapi jika itu adalah Denise Kim, maka aku menduga, kami tidak dalam keadaan bahaya. Tidak mungkin wanita anggun dan elegan itu berbuat macam-macam kan? Dari track recordnya selama menjadi nyonya Kim, dia adalah wanita berhati baik. Berbanding terbalik dengan putri sambungnya, Gaia Kim.
Berarti pertemuan ini tidak akan berefek berbahaya. Aku memberi tanda pada Drey untuk menghentikan pemeriksaan oleh anak buahku. Aku keluar dari mobil dan menaiki tangga menuju teras. Semakin dekat ke pintu, semakin terlihat jelas, wanita cantik itu tersenyum dengan anggun. Yang ada hanya aura kehangatan.
"Selamat datang Earnest..." Dia menyapa dan menyodorkan tangan kanannya, untuk berjabat tangan.
"Halo tante..." Ku sambut dengan sama hangat.
Kemudian dia menggerakkan tangannya sebagai tanda untuk mempersilahkan aku masuk. Ku ikuti dia melangkah ke dalam. Pintu dibiarkan terbuka. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan itu, sangat luas. Tidak ramai oleh furniture macam-macam. Hanya yang perlu-perlu saja. Seperti satu set sofa ukuran raksasa dengan 10 seater di bagian tengah ruangan. Sebuah lemari pajangan yang dipenuhi aneka hiasan artistik dan estetik. Beberapa foto berukuran giant ditempel di dinding, foto dirinya bersama suaminya. Dan sepertinya yang satunya baru dipajang, foto mereka berempat, di pernikahan Gaia. Bersama Gaia dan suaminya. Sisanya adalah foto-foto keluarga mereka. Kemudian ada beberapa hiasan tipikal rumah mewah, beberapa lukisan, ukiran dan keramik. Namun, tidak ada orang yang terlihat. Apakah hanya kami berdua?
Itu bukan pertama kalinya aku bertemu dengannya. Sesekali, di masa lalu yang indah, ketika persahabatanku dengan Gaia masih basik, aku sering berkunjung ke rumah mereka untuk momen-momen penting seperti ulang tahun atau acara-acara lainnya. Jadi suasana itu tidak membuatku terlalu tegang.
"Silahkan duduk..." Aku duduk dan dia mengikuti, duduk di sofa terdekat menghadapku.
__ADS_1
"Mau minum teh atau kopi? Atau haruskah kita sarapan dulu? Sudah sarapan belum? Ini akan menjadi hari yang panjang..." Dia menatapaku dengan penuh arti. Aku pun mencoba mengartikan. Aku menduga bahwa aku akan mendengarkan sebuah penjelasan yang sangat panjang.