Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Setelah Cinta?


__ADS_3

Sudut Pandang Jade


Aku melihat perubahan yang cepat di wajahnya. Bukan sesuatu yang baik. Entah apa yang dipikirkannya. Aku segera berlalu dari pandangannya, lari ke kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam.


Jika ku ikuti kata hatiku, aku sangat menginginkannya. Aku mendambakan sentuhan itu lagi. Aku merasa tidak adil, yang pertama dulu dia hanya fokus pada apa maunya. Hampir di seluruh permainan itu, aku merasakan sakit. Aku juga ingin merasakan bahagia seperti yang diceritakan orang-orang ketika bercinta.


Tapi tenang, aku tau batasannya dan tidak berharap lebih. Tidak akan berani bermimpi untuk memilikinya. Kami hanya akan melakukannya sekali lagi untuk menukar rasa sakit itu dengan sesuatu yang lebih indah, kemudian cukup. Lagipula, aku tidak tahu bagaimana caranya bertindak sebagai milik seseorang. Aku terlalu takut untuk menerima semua risiko negatif yang akan ku terima jika melakukannya. Bagaimana jika dia meninggalkan aku setelah aku menjadikannya duniaku? Pasti akan sangat menyakitkan. Aku hanya simpanan buat Gaia, kami memiliki hubungan tanpa komitmen, tapi duniaku rasanya mau runtuh ketika dia akan menikah. Jadi, aku hanya menginginkan itu sekali. Dan cukup. Demi kedamaian hidupku.


Aku menatap diriku di cermin. Ku lepas pakaianku satu persatu. Ku habiskan beberapa saat melakukan ritual, memeriksa tubuhku secara detail dan membangkitkan rasa syukur. Setidaknya aku terlahir sempurna. Meski tidak lebih dari sebuah cangkang. Cangkang yang sempurna, tapi kosong. Mari kita manfaatkan dengan baik Jade. Memiliki Earnest untuk tidur sekali dua kali sudah cukup. Tidak usah menghayal terlalu tinggi seolah-olah kau bisa memilikinya. Jangan. Ku yakinkan diriku berkali-kali. Kemudian ku lanjutkan membersihkan tubuhku.


Aku begitu tenggelam menikmati mewahnya fasilitas kamar mandi itu, mulai dari sikat gigi, pasta gigi, sabun, shampo dan interiornya yang mewah. Aku bahkan belum pernah menikmati kemewahan itu di hotel atau di mana pun. Sisi diriku yang katrok ku biarkan menikmati suasana itu dengan leluasa.


Tiba-tiba tangannya melingkari pinggangku. Aku terkejut dan segera membalikkan badan. Dia di sana! Begini kah cara yang biasanya dilakukan oleh seorang pria? Aku mencoba ikut gerakannya. Tangannya membingkai wajahku, mengelus pipiku lembut.


"Aku mencintaimu Jade..." Belum lagi selesai usahaku menenangkan detak jantung, dia menghujani aku dengan perkataan itu. Aku tertegun. Apakah semudah itu mengatakan cinta? Tapi apa garis akhir dari cinta? Aku tidak mengerti. Tapi sorot matanya tulus.


"Apakah itu kalimat pembuka bagi pria ketika memulai hal seperti ini?" Aku benar-benar penasaran. Bukan untuk menyindir. Ku harap dia menerima pertanyaan itu seperti yang ku maksudkan. Dia sepertinya paham.


"Bukan. Aku benar-benar mencintaimu..."


"Bagaimana dengan semua wanita sebelum aku? Kau bilang mereka dengan mudah jatuh ke pelukanmu?"


"Tak satu pun dari mereka pernah jatuh ke pelukanku. Kau adalah yang pertama..." Itu mengejutkan. Seorang Earnest Lee? Bisakah dia dipercaya? Tapi lagi-lagi, tanya ini muncul lagi di benakku: terus kenapa? Akan di mana ujungnya? Seharusnya kami konsisten hanya untuk bersenang-senang.


"Mari menjadi yang pertama dan terakhir untuk satu sama lain... Boleh kan?" Dia bertanya lagi. Bagaimana dengan Gaia? Tapi bolehkah aku menyebutkan nama itu di saat-saat seperti ini? Ku putuskan tidak. Aku tidak ingin merusak suasana. Ku balas pelukannya.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Dia tidak menjawab pertanyaan itu,  dan langsung mencium bibirku. Aku membalas, ciuman adalah hal yang mudah, aku sudah latihan banyak bersama Gaia. Aku hanya perlu mengimbangi permainannya. Kemudian dia berhenti dan mengamati ekspresiku. Hei, aku menikmatinya, ayo teruskan, kenapa berhenti? Haruskah ku bilang begitu? Tapi jangan, terlalu berani. Aku menunggu gerakan berikutnya.


"Ayo kita lakukan dengan benar. Tidak di sini." Dia menyimpulkan. Oh begitu. Aku patuh. Aku menyelesaikan mandiku dan memakai jubah mandi. Dia membantu mengeringkan rambutku. Kemudian kami duduk di sofa, ku ambil posisi duduk di sampingnya. Dia sudah menyiapkan sampanye dan buah anggur di atas meja.


"Sampanye?"


"Boleh. Aku ikut saja." Dia tersenyum dan menuangkan sampanye ke dalam gelas kemudian kami menikmatinya. Sesekali aku mengunyah buah anggur.


"Begitukah cara pria melakukannya? Maksudku, ada break di antaranya?" Dia terkekeh. Tiba-tiba mencium pipiku. Tidak, itu bukan ciuman. Dia bernapas di sana selama beberapa detik.


"Aku ingin menikmati setiap detik bersamamu. Aku ingin kau tahu, aku menginginkanmu dengan tulus. Bukan semata hanya untuk itu..."


"Oh begitu. Tapi itu tidak akan berhasil. Mari kita lakukan ini jika kebetulan bertemu saja..."


"Mengapa begitu?"


"Kau tahu mengapa."


"Aku tidak tahu." Dia menjawab dengan tegas. Terserah. Aku terus mengunyah anggur. Rasanya manis, renyah digigit dan tanpa biji. Dia benar-benar punya semua barang premium di rumah itu.


"Aku akan menghabiskan semua anggur ini..." Aku memandangnya memastikan bahwa informasi yang ku sampaikan diterima dengan baik. Dia tertawa.


"Kok tertawa?"


"Nggak apa-apa. Kamu lucu. Haruskah aku menambahkan lagi? Suka anggur?"


"Tidak usah. Ini sudah cukup. Tidak secara khusus menyukainya. Aku ngunyah terus karena rasanya enak. Aku suka semua yang mahal dan enak."


"Apakah itu berarti kau menyukaiku?" Aku hampir tersedak, tidak menduga datangnya pertanyaan itu.

__ADS_1


"Mungkin?" Dia tersenyum sangat lebar. Aku suka ekspresi wajah yang dia tunjukkan. Dia memastikan aku tau bahwa pendapatku penting baginya.


"Jadilah Pacarku."


"Tidak mau."


"Istri?"


"Ya enggak lah. Apalagi itu."


"Jadi apa dong?"


"Begini saja cukup." Aku menyandarkan tubuhku padanya dan menciumnya sembarangan, kena lehernya. Dia bergerak dan membingkai wajahku.


"Yakin tidak mau jadi pacarku? Bagaimana kalau aku jadian dengan orang lain?"


"Tidak apa-apa. Jadianlah."


"Dan kita masih bisa bertemu seperti ini?"


"Jika itu yang kau mau, boleh."


"Kamu harus mengubah pemikiran seperti ini Jade. Itu salah. Dalam hal cinta, it's okay untuk saling memiliki di antara orang yang saling mencintai."


"Jadi, kamu benar-benar ingin memiliki aku?"


"Iya. Aku sudah bilang."


"Kalau begitu ayo lakukan sekarang. Aku akan memutuskan nanti setelah merasakannya, apakah itu akan membuatku bahagia atau tidak." Matanya berbinar cinta.


"Yakin. Kau janji akan mengganti rasa sakit yang dulu. Kau harus tepati. Biar adil. Aku ingin tahu rasanya."


"Aku suka kau bisa sejujur ini padaku." Wajahnya sumringah total.


"Boleh kan?"


"Boleh lah. Terutama saat kau bersamaku. Aku ingin kau bisa dengan bebas mengekspresikan rasamu dan mengutarakan semua isi pikiranmu. Aku senang semakin mengenalmu..."


Selanjutnya adalah hasil karyanya. Dia menepati janji, membuat aku merasakan bahagia, diperlakukan dengan istimewa. Aku bisa melakukan itu bersamanya selama sisa hidupku. Aku berbaring memeluk lengannya.


"Are you okay?" Dia berbisik.


"Mmm..."


"Apakah aku lulus?"


"Lulus."


"Skornya?"


"Sekitar 97%?"


"Bagaimana dengan 3% lainnya?"


"Mungkin setelah satu putaran lagi?" Dia menatapku tidak percaya.

__ADS_1


"Aku bisa gila Jade. Kenapa kau bisa sejujur ini?" Aku terkekeh.


"Bagaimana caranya menjadi pacarmu? Apakah aku harus mencintaimu juga?"


"Akan sempurna jika kau melakukannya. Siapa yang tidak mau? Dicintai oleh orang yang kau cintai..."


"Katakan padaku bagaimana mencintai."


"Aku akan ajari pelan-pelan..."


"Terus, kapan kau akan meninggalkanku? Setelah setahun? Dua tahun? Atau lebih? Agar aku bisa mempersiapkan hati terlebih dahulu..." Dia mendengus tertawa.


"Aku tidak berencana untuk meninggalkanmu, selamanya."


"Apakah itu valid? Maksudku, apakah laki-laki biasanya menepati janjinya?"


"Earnest Lee selalu menepati janjinya."


"Kemudian, apa yang akan kita lakukan setelah bertahun-tahun?"


"Nikahi aku."


"Emang boleh?"


"Kenapa tidak?"


"Bagaimana dengan karirmu? Maksudku penggemarmu? Dan keluargamu?"


"Pada akhirnya, aku harus kembali ke kehidupanku sendiri. Aku tidak bisa selamanya hidup untuk mereka dan merasa kesepian. Benar kan?"


"Setuju. Kau harus hidup untuk dirimu sendiri. Dan, apa lagi setelah itu?"


“Aku ingin bayi kita…” Bisiknya. Aku terdiam.


Yang itu tidak mungkin. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku, tapi aku tidak pernah menginginkan bayi. Tidak hanya itu, bahkan menikah pun tidak. Tapi menikah jauh lebih baik daripada hidup sendiri dan tidak ada tempat untuk bersandar. Tapi punya anak? Aku tidak bisa bayangkan manusia sepertiku punya anak. Akan jadi apa mereka nanti dirawat oleh orang yang tidak punya identitas seperti diriku? Aku bahkan tidak tau siapa Jade? Berasal dari mana dia? Kenapa dia tidak punya nama belakang seperti orang-orang? Terus, bagaimana jika kelak dia tidak mencintaiku lagi? Kalau aku sendirian dan ditinggal, yang menderita hanya aku. Bagaimana dengan anak-anak kami? Idenya membuatku overthinking. Aku tidak suka perasaan itu ketika dia menyebutkan ingin memiliki anak. Dia menggerakkan tubuhnya sedikit untuk melihat wajahku dan mengamatiku.


"Jade ...?"


“Mmmm…?”


"Ada yang salah?"


"Entahlah. Aku merasa aneh dan tidak suka ketika kau mengatakan itu.”


"Sorry Jade... Apa karena kau tidak suka bayi?”


"Mungkin. Lihatkan? Keputusanmu untuk menjadikan aku pacar itu salah besar. Mungkin kau bisa mendapatkannya dengan wanita lain. Bukan aku. Mari kita berhenti di tahap menjadi 'pacar' saja.'” Dia mencium keningku dengan lembut dan berhenti di sana beberapa saat.


“Aku tidak bisa berhenti. Tidak masalah. Nggak punya bayi juga nggak apa-apa...”


“Tapi kau suka mereka...”


"Betul. Tapi aku lebih menyukaimu. Kau prioritas utama. Aku tidak menikah denganmu untuk punya anak. Lagipula, kita masih punya waktu untuk membicarakannya. Yang penting aku bisa bersamamu selamanya.” Aku bergerak menggapai wajahnya dan mencium bibirnya.


"Mari kita dapatkan yang 3% lagi..." Aku mencoba untuk genit, dan dia tergoda. Binar di matanya muncul begitu cepat. Dia mulai menjalankan proyek 3%.

__ADS_1


__ADS_2