
Aku terbang ke Indonesia. Bukan untuk liburan. Tapi untuk mengadakan pertemuan perdana dengan Chanel Travis. Ku putuskan untuk mengikuti keputusan dari divisi PR, sekalian, aku akan memanfaatkan kerjasama itu untuk menyelidiki lebih jauh tentang seluk beluknya. Aku yakin, dengan cara itu, pasti aku bisa mendapatkan sesuatu.
“Hallo mr.Lee, senang bertemu kembali dengan anda…” Wanita paruh baya yang memperkenalkan dirinya sebagai pemilik agency di mana Chanel bergabung menyambut kedatangan kami. Ku sambut jabatan tangannya dengan berusaha ramah, sambil mataku celingukan sana sini mencari sosok yang ingin ku jumpai. Namun kelihatannya dia sendiri.
“Oh, hi… Apa kabar?”
“Kabar baik. Kami senang akhirnya mendapatkan kesempatan ini untuk bekerjasama dengan Earnest fashion. Saya jamin, anda tidak akan kecewa…” Dia bicara tanpa melihat kebutuhanku. Aku masih penasaran, kenapa tidak ada orang yang dimaksud?
“Apakah anda datang sendiri?” Akhirnya ku tuntaskan rasa penasaranku.
“Ah, iya. Chanel sedang ada jadwal shooting untuk sebuah brand kosmetik. Saya diutus ke sini untuk membicarakan kontrak dan jadwal. Saya berharap anda tidak keberatan…”
__ADS_1
“Ini sangat sulit bagi saya. Bingung harus bagaimana menyikapinya. Seolah-olah proyek ini tidak penting bagi pihak kalian. Sejak awal, kami sudah diperlakukan tidak sopan. Banyak selebriti ternama di luar sana berebutan untuk bekerja sama dengan kami. Mereka dengan antusias bertemu dengan kami. Jadi maaf. Untuk pertemuan kali ini, anda harus datang bersama dengan talent anda. Kita mundurkan saja pertemuan kali ini. Cari waktu di mana model untuk brand ini bisa hadir secara fisik.” Aku tidak bisa menahan emosi. Dia mungkin berpikir bahwa kami adalah orang paling sabar dan baik hati. Mungkin iya. Tapi tidak begitu caranya. Raut wajahnya berubah serius dan berpikir keras.
“Dan jika anda tidak bisa juga memastikan bahwa kita semua bisa hadir dengan lengkap, kami bisa mengubah kandidat sekarang juga. Banyak orang yang sedang menunggu untuk bekerja sama dengan kami. Mereka bisa dengan secepat kilat hadir di sini jika kami minta. Anda bisa hubungi kami lagi jika sudah membuat keputusan, dalam kurun waktu 24 jam.” Aku tidak peduli dengan ekspresinya yang, mulai dari terpelongo mencoba memahami situasi yang sedang terjadi, kemudian emosi karena sudah diketusin begitu, sampai kelihatan kuatir jika kontrak itu akhirnya batal. Aku tidak peduli. Dia sebaiknya berpikir keras bagaimana caranya menghadirkan Chanel di pertemuan itu.
Ku tinggalkan ruang pertemuan itu. Dia pasti bisa mengundurkan dirinya sendiri dari pertemuan itu. Mereka kami undah datang ke kantor kami. Earnest corps cabang Jakarta menyewa satu lantai di salah satu gedung perkantoran besar di daerah Jakarta Pusat. Mereka, peran utamanya adalah si selebriti yang hendak kami ajak bekerja sama. Bukan perwakilannya. Dia pikiri dia sepenting presiden apa? Apa-apa harus diwakilkan oleh agensinya. Aku bersungut-sungut, mendengus kesal selama dalam perjalanan. Dengan cepat aku bisa mencapai hotel tempatku menginap. Salah satu hotel besar di Jakarta Pusat. Ujung-ujungnya, aku akan masih menggalau, memikirkan Jade. Apa kabarnya? Semoga dia baik-baik saja.
Waktu yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Tidak sampai 24 jam, divisi PR sudah mendapatkan waktu reschedule. Di sore hari. Dan pertemuan itu akan diadakan di pagi esok harinya.
Jika dia lepas dari istana itu 3 tahun lalu, berarti dia sudah berusia 20 tahun waktu itu. Sudah cukup dewasa. Mungkin karena itu, dia sudah menangkap semua kualitas yang harus ada dalam diri seorang putri kerajaan. Dan aura itu keluar begitu saja di mana pun dia berada. Berbeda dengan Jade. Dia masih kecil ketika ditarik dari sana. Dan cara pandangnya tentang hidup sudah campur aduk. Dia harus bertahan di sebuah hutan rimba manusia dengan cara hidup yang dia tidak pernah lihat sebelumnya. Dia selamat saja, dan tetap hidup sampai selama itu, aku sudah bersyukur. Sangat mudah untuk melenyapkan diri sendiri karena depresi dan tidak memiliki tempat bergantung di sebuah tempat yang sama sekali asing. Meski begitu, aku harus bilang, kecantikan Jade dan kemurnian hatinya, tidak pernah bisa dibandingkan dengan siapa pun. Di mataku, dia adalah putri yang sebenarnya. Putri yang kuat dan tangguh, yang bisa melewati semua kesulitan dalam hidup dengan caranya sendiri.
Kakiku melangkah semakin dekat dan membuka pintu kaca. Tidak sadar, mataku menatap tajam kearahnya. Meski otakku sibuk, berkecamuk oleh berbagai hal tidak penting.
__ADS_1
“Hello mr.Lee…” Wanita paruh baya itu langsung beranjak dari tempat duduknya menyambut kedatanganku dan menjabat tanganku, ku sambut dan mendekat ke arah tempat dudukku di seberang mereka. Dia berdiri dari dan mengulurkan tangan.
“Hello mr.Lee. Saya Chanel Travis…” Dia memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris yang sangat kental aksen Perancisnya.
“Hello Chanel Travis. Selamat datang di Earnest Corps. Akhirnya kita bisa bertemu…” Ucapku basa basi.
“Senang bertemu anda. Saya mohon maaf karena beberapa kali tidak bisa secara langsung menghadiri pertemuan kedua belah pihak…” Dia pun berbasa basi. Tentu saja itu masalah besar. Saya emosi jika mengingat sikap tidak sopan itu. Namun ku simpan dalam hati. Tidak ada gunanya, hanya akan memperkeruh suasana.
“Oh. Tidak masalah. Anda sudah di sini sekarang. Maka kita bisa lanjut membicarakan mengenai kotrak dan jadwal. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sampai sebelum hari H launching produk Earnest fashion di Indonesia. Waktunya sudah dekat. Jadi saya berharap kita menyikapi proyek ini dengan serius dan dengan sikap yang profesional. Anda tau kan? Yang selebriti bukan hanya anda di sini. Kita semua sibuk. Namun sebagai orang besar, anda harusnya tau harus memprioritaskan yang mana dulu…” Sepertinya aku sedang ngedumel. Namun ekspresinya tenang. Bukan seperti yang ku harapka. Ah, iya. Aku kan sedang bertemu dengan foto copy Jade. Mereka bisa menjadi setenang laut mati jika mereka mau. Atau mungkin, dia tidak paham sepenuhnya dengan apa yang ku maksud. Jangan-jangan, bahasa Inggrisnya pun masih terbatas.
Drey datang dan duduk di sebelahku menyiapkan semua dokumen yang diperlukan. Dia membuka dua buah amplop besar dan menyerahkan satu copy ke wanita paruh baya itu untuk mulai dipelajari.
__ADS_1