
“Kau sedang dimabuk cinta Earnest. Kau sedang tidak berpikir jernih. Maka kau perlu kami, kedua orangtuamua, yang meluruskan. Yang memberitahu kamu apa yang benar dan apa yang salah. Dan sebagai anak, ini saatnya kau patuh, dengarkan kami, dan lakukan apa yang kami perintahkan. Kau bisa berkata dengan mudah tentang cinta karena belum mengalami asam garam pernikahan. Jangan pernah berpikir bahwa pernikahan bisa sesederhana saling mencintai kemudian menikah. Tidak, bukan begitu. Ada begitu banyak faktor yang menjadikan sebuah rumah tangga bisa langgeng selama puluhan tahun bahkan seumur hidup. Kau pikir cukup hanya dengan saling mencintai?” Papa menambahkan.
“Pikirkan ulang semua rencana ini. Tidak usah buru-buru. Habiskan cintamu padanya kemudian tinggalkan. Atau, tinggalkan saja sekarang. Sepertinya dia dan kedua orangtuanya paham dengan apa yang kita maksudkan. Seharusnya tidak sulit untuk mengakhiri. Setelah itu, kita bicarakan soal pernikahan yang sebenarnya. Papa dan mama sudah punya kandidat, para putri dari keluarga terpandang dan memiliki segudang prestasi di bidang mereka masing-masing. Yang pasti, salah satu dari mereka, siapa pun yang akan kau pilih, akan mampu mengimbangi sosokmu. Kalian akan menjadi pasangan public figure yang akan terus menjadi panutan masyarakat banyak. Jika kau sudah siap, kita akan bertemu mereka satu per satu. Kau bisa memilih sesuai yang kau mau. Bukan pernikahan yang semacam ini yang kami inginkan Earnest. Seorang gadis biasa, yang dia punya hanya kecantikannya. Tanpa nama dan prestasi apa-apa, sama sekali bukang tandinganmu. Apalagi, hendak menikah diam-diam tanpa sepengetahuan publik. Kami tidak bisa terima. Papa mama tidak bisa setuju dengan hal itu…” Mama memberikan ultimatum.
“Kalau itu yang papa mama harapkan, aku mungkin tidak akan pernah menikah. Jika iya, itu harus dengan Jade pa, ma. Tidak dengan wanita lain.” Aku tidak mau kalah dan segera beranjak dari dudukku meninggalkan mereka. Sama seperti sebelum-sebelumnya, kali ini pun, aku akan memutuskan segala sesuatu yang ku inginkan untuk hidupku.
Aku kembali pada aktivitasku. Aku menunggu-nunggu hari Jumat agar bisa terbang ke Seoul dan bertemu dengan Jade. Aku punya hutang yang sangat besar, yaitu mengembalikan kepercayaannya padaku, bahwa kami bisa bersatu tidak peduli apa pun yang terjadi.
…
__ADS_1
“Pulang ke rumah weekend ini. Papa mama mau bicara penting.” Aku menerima telpon dari mama.
“Ditunda dulu ma. Aku akan pulang ke Seoul Jumat ini, tiket sudah dipesan. Aku akan ke rumah pada hari Senin sore…”
“Tidak bisa. Kau harus datang. Ke Seoul bisa ditunda. Masalah yang satu ini tidak bisa ditunda. Papa mama akan memberitahu suatu hal yang penting, sebelum kau ngotot dengan semua ide pernikahanmu itu. Ini perintah. Jangan membantah.” Mama berkata dengan tegas dan menutup telpon. Artinya, aku tidak punya pilihan lain. Harus pulang ke rumah menghadap mereka. Ku batalkan tiket pesawat menuju Seoul. Berencana membeli yang baru, on spot, ketika akan berangkat nanti. Seandainya memungkinkan. Aku sama sekali tidak tau, apa yang ada di hati papa dan mama ketika memanggilku pulang.
Entah kenapa, ingatan yang hangat tentang rumah tiba-tiba hilang dalam ingatanku. Ku cari-cari, siapatau aku yang lupa karena terlalu sibuk mengembara, tapi tidak ku temukan. Earnest kecil itu sudah sangat mandiri dan sibuk sejak kecil. Rumah memang selalu kaku. Papa yang berwibawa yang selalu hadir dalam setiap acara makan kami, mama yang penuh kasih selalu ada menyiapkan segala kebutuhan seisi warga rumah. Semua rutinitas sehari-hari sebuah keluarga seperti sudah terjadwal dengan baik. Tapi di mana letak hangatnya? Ku coba cari di lubuk hatiku yang paling dalam dan dalam kumpulan memoriku, tidak ada. Semuanya baik, namun tidak ada kehangatan.
Ku lihat papa dan mama sudah duduk dengan rapi dan berwibawa di ruang keluarga. Mereka pasti sedang menungguku.
__ADS_1
“Halo pa, ma…” Aku menyapa.
“Ayo duduk…” Aku duduk, menghadap mereka berdua.
“Earnest… Semoga setelah mendengar ini, kau bisa paham dengan maksud papa dan mama…” Mama mulai angkat bicara.
“Papa dan mama ini punya masalah keturunan. Tidak bisa punya bayi. Kami sudah berusaha melakukan segala cara, tapi tidak berhasil. Sementara, papa ingin agar dia punya anak laki-laki yang akan meneruskan nama keluarga ini dan mengelola semua harta keluarga…” Aku terhenyak. Ku tatap dengan seksama wajah kedua orang tuaku. Ku pikir-pikir lagi, usia kami memang terpaut sangat jauh. Di usiaku yang menginjak 30an, papa dan mama sudah menginjak usia 70an. Sebelumnya aku berpikir, mereka mungkin merecanakannya demikian. Seperti kebanyakan pasangan suami istri yang sibuk bekerja, mereka sengaja menunda untuk punya anak. Dan kadangkala, terbersit sebuah tanya, kenapa wajah kami tidak begitu mirip. Hidungku yang mancung dan tampan tidak ku dapatkan dari mereka berdua. Jadi dari siapa? Hidung papa dan mama bisa dibilang imut, dengan mata yang sangat sipit. Iya, kadang-kadang aku bisa sekonyol itu bertanya-tanya sendiri tentang keberadaanku. Akhirnya terjawab. Ku tunggu mereka melanjutkan penjelasan itu.
“Akhirnya kami memutuskan untuk mengadopsi anak. Namun keluarga kita terlalu sering disorot oleh banyak orang dan media. Jika kami tiba-tiba punya anak, pasti tidak akan baik untuk perkembangan anak yang akan kami adopsi. Kami ingin dia tumbuh dengan pemahaman bahwa dia itu lahir dari darah dan daging kami. Maka kami berangkat ke Eropa dan tinggal di sana selama kurang lebih 2 tahun. Kami mendengar kabar bahwa ada suatu tempat di sana yang menyediakan bayi yang boleh dibeli. Penanganannya sangat profesional. Screening fisik dan mental si anak tergambar dengan jelas di dalam dokumen jual beli. Dari sana kami mendapatkanmu Earnest…”
__ADS_1
Ah… Ternyata, aku adalah anak yang dibeli. Ada perasaan yang asing merayap dalam kalbuku. Hawa dingin yang menyapu seluruh keberadaanku dan membangunkan dari andai-andai yang pernah ada. Dugaanku benar. Pertanyaan-pertanyaan nyeleneh tentang siapa aku, terjawab sudah. Ikatan yang sering ku cari-cari memang tidak ada. Makanya tidak bisa ditemukan. Yang kami lakukan adalah sebuah ritual kekeluargaan, tampak sempurna, namun tanpa hawa. Tidak ada hangat-hangatnya. Tapi bagaimana pun juga, aku seharusnya bersyukur. Aku tau itu. Aku tidak mungkin menjadi manusia durhaka yang tidak tau terimakasih. Aku sudah dipelihara dengan cara yang sedemikian sempurna. Tidak ada yang kurang. Yang ada harusnya hanya ucapan syukur. Masih kelu, ku tunggu mereka melanjutkan. Apa hubungannya dengan Jade? Apakah karena aku anak yang dibeli sehingga tidak berhak memutuskan sesuatu yang penting dalam hidupku?