Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Itu Mungkin Cinta


__ADS_3

"Terima kasih untuk apa?"


"Karena sudah membantu aku..."


"Oh, aku senang membantu."


"Apa yang bisa ku lakukan untuk membalas kebaikanmu?" Aku menoleh menatap wajahnya. Mengamati ekspresinya. Mata kami bertemu. Dia tulus dengan kata-katanya. Aku semakin yakin bahwa dia adalah seorang gadis yang polos. Jalan pikirannya sangat sederhana. Tidak neko-neko. Dia merasa senang ditolong. Karena sudah menerima kebaikan orang lain, adalah hal yang wajar untuk membalas.


"Katakan saja. Aku akan melakukan apapun..." Mata itu. Dengan nol persen emosi. Dia tulus. Entah kenapa, itu justru memprovokasi aku. Ada hal yang janggal. Seolah-olah, aku telah membantu dia karena ingin mendapatkan sesuatu sebagai balasan. Atau begitu kah? Ku coba mengingat beberapa jam yang lalu, aku membantunya tanpa berpikir apa pun. Sederhana saja, karena dia ketiduran sementara pekerjaannya harus selesai. Aku sama sekali tidak menginginkan apa-apa dibalik itu. Kenapa aku terlihat seperti murahan? Aku kesal.


"Apakah itu yang ada dalam pikiranmu? Bahwa jika seseorang membantumu, itu karena mereka ingin mendapatkan sesuatu sebagai balasan?"


"Mungkin tidak. Tapi begitulah caraku untuk menyederhanakan segala sesuatu. Hidup ini sudah sangat rumit, aku tidak ingin membuat semakin sulit. Aku tidak ingin berhutang budi kepada siapa pun. Karena dalam beberapa kasus, dunia bukan seperti apa yang ku pikirkan. Aku mungkin terlihat terlalu naif, tetapi aku sudah cukup banyak belajar untuk tidak menyikapi kebaikan orang lain seringan itu. Aku terlalu percaya pada istilah: tidak ada makan siang gratis di dunia ini..." Itu benar. Tetapi seperti sebuah cubitan di hatiku, rasanya sakit. Aku menerima penjelasannya sebagai sebuah sindiran. Bukan Earnest namanya jika tidak semakin ter-trigger dengan sindirian semacam itu. Aku ingin melihat sampai sejauh mana dia bisa menyanggupi kata-katanya. Dia bilang akan lakukan apa saja kan?


"Bagaimana jika aku menginginkanmu?" Test pertama. Dia terkekeh. Dan mengamati aku dengan santai, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemudian menarik bibirnya ke samping. Aku benar, dia sedang bersikap sarkas.


"Kenapa tidak? Jika itu yang kau mau?" Aku terpancing emosi.


"Begitukah caramu menangani pekerjaanmu? Ketika seseorang memberi bantuan, kau akan membayar dengan apa pun yang mereka minta, begitu?" Aku bertanya dengan nada tajam.


"Aku belajar banyak hal. Kadang-kadang, begitulah cara kerja dunia. Ada hal-hal yang memang kita tidak suka tetapi harus terjadi. Jika memang harus begitu, kenapa tidak?" Dia menjawab dengan santai.


"Untuk siapa saja kau sudah pernah membayar utang budi semacam itu?"


"Gaia? Dan kamu..." Aku menghela nafas pelan-pelan. Aku lega. Tidak sejauh yang ku sangka. Diam-diam ku maki Gaia dalam hati. Berani-beraninya dia menggunakan otoritasnya untuk memaksa seseorang melayani nafsu bejatnya. Tapi apa bedanya denganku? Ah, masa bodo. Ku seruput tehku. Hampir putus asa. Mengapa begitu sulit untuk berurusan dengan dia?Apa biasanya sesulit ini untuk mendapatkan hati seseorang?

__ADS_1


"Tapi aku serius ketika aku bilang terima kasih. Kau sudah melakukan banyak hal untukku hari ini. Aku lupa tepatnya sejak kapan, sampai tadi ketika kita bertemu di dalam pesawat, keadaan hatiku sangat kacau. Perasaanku sangat berantakan. Aku kehilangan arah mengetahui Gaia akan segera menikah. Aku tidak tau bagaimana nasibku setelah itu. Masihkah dia bersikap sebagai pelindungku ketika dia sudah menikah nanti? Apakah aku masih berguna? Bagaimana jika dia menyingkirkan aku setelah itu? Ke mana aku akan pergi? Aku terlalu takut untuk masuk ke sebuah tempat baru dan memulai sesuatu yang baru. Ditambah lagi, dia mengirimku ke sini lagi, aku sangat marah. Aku sangat membencimu sejak saat itu. Aku ketakutan jika di perhadapkan dengan situasi di luar kontrolku dan aku terpaksa melakukan hal yang tidak ku suka." Mata kami saling memandang selama beberapa detik. Aku menunggu kalimat selanjutnya.


"Dengan galau aku tetap berangkat, karena memang harus. Aku berdoa berulang kali dalam hati agar orang lain lah yang akan menyambutku di sini, bukan kamu. Tapi aku tidak menyangka, ketika kamu muncul di sampingku di pesawat, aku sangat senang. Aku memang menghindari bertemu denganmu. Tapi saat kau menyapaku, semua rasa lelah di hatiku hilang. Aku merasa damai. Terima kasih. Mungkin itu sebabnya aku ketiduran, setelah sekian lama kesulitan untuk tidur karena gelisah yang akut. Untuk itu lah aku mengucapkan terima kasih." Aku rasanya ingin terbang melayang. Hatiku senang tidak karuan. Bibirku kelu. Aku tidak menyangka bahwa posisiku se-signifikan itu di hatinya. Artinya, Masih ada harapan.


"Kalau begitu, tetaplah di sini sampai besok."


"Boleh. Kalau itu yang kau mau."


"Semudah itu?"


"Aku sudah bilang. Aku akan melakukan apapun yang kau minta."


"Apakah kau juga akan melakukan ini pada orang lain yang membantu mu?" Aku kesal mendengar kalimat yang itu.


"Hei Jade…? Kau kan berjanji padaku untuk tidak melakukannya..."


"Siapa yang ingin berada di situasi seperti itu? Aku kan sudah bilang, tidak selamanya aku bisa menghindari hal yang tidak ku suka. Kalau yang ku pertaruhkan adalah pekerjaan dan hidupku, kenapa tidak?" Aku mendesah frustrasi. Memutar tubuhku ke arahnya.


"Kau harus mengubah cara berpikir yang seperti itu. Itu pemikiran yang bodoh." Dia memutar badannya ke arahku. Dia tersenyum, sinis.


"Menurutmu siapa yang memberi aku ide bodoh itu?" Oh iya, itu aku.


"Aku sudah minta maaf untuk itu Jade. Aku sudah bilang bahwa seharusnya aku tidak melakukan itu padamu. Haruskah ku ulangi lagi? Aku menginginkanmu, itu benar. Bukan hanya untuk satu kali. Oke, waktu itu aku kelepasan, terlalu terbawa emosi. Tapi aku jujur waktu bilang bahwa aku takut tidak akan bisa mendapatkan kamu. Maksudku, hatimu. Lihat bedanya? Aku melakukannya karena aku menginginkan dirimu. Bukan untuk main-main..." Dia menertawakanku.


"Aku serius loh. Apa menurutmu ini lucu? Kenapa ketawa?"

__ADS_1


"Ya lucu lah. Earnest Lee menginginkan aku? Siapa yang akan percaya? Kau bahkan tidak mengenal aku. Jujur saja lah, kau hanya menginginkan aku untuk memuaskan nafsu. Mengapa pura-pura memperindah bahasa seolah-olah kau tulus? Sepertinya kau suka mengatakan kalimat-kalimat yang bagus untuk pamer. Seolah-olah kau adalah orang baik-baik..." Dia marah dengan gaya. Namun satu hal yang membuatku berharap, setidaknya dia bukan perempuan lemah yang tidak berdaya seperti dugaanku sebelumnya. Dia bisa marah. Tidak terima dengan kelakukanku. Baguslah. Aku menghela nafas lega.


"Jadi, bagaimana jika aku menginginkanmu untuk itu lagi. Apakah kau akan iyakan begitu saja?"


"Kenapa tidak? Lebih baik aku melakukannya denganmu. Pria tampan yang hidup dalam mimpi setiap wanita. Aku tidur dengannya. Aku tidak bisa bayangkan jika itu orang lain. Mungkin karena caramu yang semena-mena, yang pertama terasa sakit dan sulit untuk mengurai rasa sakit itu. Aku penasaran bagaimana rasanya jika ku lakukan dengan rela? Mungkinkah rasanya akan berbeda?" Aku sangat sedih. Aku gagal menyampaikan perasaanku yang tulus padanya. Aku terlalu terburu-buru waktu itu.Tidak mempertimbangkan dengan matang, akibat apa yang akan dia tanggung dengan perbuatanku. Dengan kata lain, aku sama sekali tidak memikirkan perasaannya.


"Kalau begitu, tetaplah di sini..." Aku berharap akan punya waktu untuk memperbaiki kesalahanku.


"Seperti yang kau mau. Bolehkah kita check sekarang mengenai laporan dari divisi PR?" Dia bangkit dan berjalan ke meja kerja.


Hatiku nelangsa. Aku tidak terima jika dia melakukan semua karena terpaksa. Adakah kemungkinan bahwa kami merasakan hal yang sama? Hanya, dia masih tidak bisa terbuka. Aku ingin tahu seberapa jauh dia bisa menyangkal perasaannya. Aku mendekatinya dan meraih tangannya.


"Ayo. Ikut aku..." Ku gandeng dia menuju kamar tidurku.


"Ayo kita lakukan sekarang. Dengan cara yang benar. Aku ingin menggantikan rasa sakit itu dengan sesuatu yang indah..." Dia tersentak. Tapi mengubah ekspresinya dengan cepat, menjadi posisi siap.


"Boleh aku mandi dulu?" Dia bertanya. Jantungku berdetak lebih kencang. Sepertinya dia juga menginginkan hal yang sama. Apakah dia juga merasakan cinta? Banyak pertanyaan beredar di benakku.


"Boleh. Butuh bantuan?"


"Contohnya?"


"Apa saja..." Jawabku. Dia tersipu. Matanya bersinar. Gotcha Jade! Itu mungkin cinta. Hatiku berubah menjadi berbunga-bunga.


"Kau harus membimbingku, apa yang biasanya dilakukan oleh pria?" Astaga! Aku ingin membunuh Gaia saat itu juga. Dia kehilangan bingkai dari gambaran hubungan sepasang kekasih yang seharusnya. Dia menangkap perubahan mendadak di wajahku dan cepat-cepat lari ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2