Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Penantian Melelahkan


__ADS_3

Kami pulang. Hampir tengah malam kami berangkat menuju bandara. Tanpa mendapatkan hasil apa pun. Sebagai pendatang di negara orang, tentu saja kami harus bersikap sopan sesuai batasan norma. Kami duduk dalam waktu yang sangat lama di sebuah kafe dekat lobi gedung apartemen itu, tapi wajah yang kami kenal tidak kunjung tampak. Kami sama saja seperti para pengawal yang kami kirim berjaga-jaga di sana selama ini. Toh kami tidak bisa langsung masuk ke rumahnya dengan mengetuk. Gedung itu punya sistem keamanan yang kuat. Setiap orang yang masuk harus menggunakan sebuah kartu agar bisa melewati setiap pintu dan gerbang yang ada. Sementara kami tidak kenal siapa pun di sana. Dan tidak mungkin menggunakan cara-cara jitu untuk bisa masuk. Bagaimana kalau kami tertangkap? Jadi panjang urusannya.


Dengan kata lain. Kami masih harus bersabar, entah sampai kapan.


...


Sudah 470 hari berlalu. Apakah aku menghitung sedetail itu? Iya. Entah untuk apa gunanya, namun aku selalu menandai kalender di handphone. Seolah-olah aku sedang menunggu sesuatu terjadi dalam waktu dekat. Meski tidak tau tepatnya kapan. Harus ku akui, terkadang aku merasa sangat lelah. Ingin marah dan menyalahkan sesuatu atau seseorang, tetapi tidak tahu siapa --kadang Drey dan pasukannya menjadi sasaran--. Aku merasakan derita dari menunggu. Sangat berat dan aku terseok-seok. Apalagi, masih belum ada keputusan dari doter, berapa lama lagi kami harus menunggu. Rasanya jauh lebih baik menerima pernyataan yang sangat lama ketimbang tidak sama sekali. 10 tahun? Tidak masalah. Setidaknya kami tau bahwa kami perlu bersiap sampai selama itu. Yang bisa kami lakukan hanyalah beriman dan terus melakukan hal-hal yang sedang kami lakukan. Tapi sampai kapan?


Hari ini hanya satu hari dari sekian banyak hari yang melelahkan.

__ADS_1


Aku berangkat ke Jepang selama 3 hari untuk memantau produk baru yang akan launching segera. Namun masalah terjadi, proyek yang sudah lama dirancang untuk sebuah festival musim panas menjadi macet hanya karena informasi yang salah. Semua perusahaan fashion pasti akan meluncurkan produk mereka sebelum festival dimulai. Karena biasanya para pelanggan akan belanja kebutuhan itu jauh-jauh hari. Ketika merek lain  sudah mulai meluncurkan produknya, Earnest Fashion masih dalam tahap menunggu persetujuan untuk memproduksi beberapa desain. Beberapa diantaranya justru desain yang akan menjadi andalan. Emosiku mulai memuncak. Dalam keadaan dingin dan tegang, aku berusaha semaksimal mungkin untuk menangani semua dalam 3 hari itu. Satu hal yang pasti, aku tidak bisa tidak hadir seperti biasa untuk mengunjungi Jade. Jumat sore adalah jadwal yang sudah ditetapkan, dan selalu harus terjadi begitu. Tidak sedikitpun ada niat untuk datang terlambat atau bahkan tidak datang pada hari itu juga. Aku bahkan sudah menyempatkan diri membeli beberapa buku baru dari toko buku setempat untuk dibacakan ketika berkunjung nanti.


Tidak peduli seberapa keras usahaku mencoba meluruskan masalah itu secepat mungkin, aku tetap ketinggalan pesawat. Mau tidak mau aku ganti penerbangan ke sore hari, berangkat jam 6 sore dari Narita airport. Setidaknya aku masih akan bertemu dengannya pada hari itu meski sudah larut malam. Meskipun mungkin dia sudah lelap dan tidak sadar dengan kedatanganku. Tapi tidak, setidaknya aku harus menyetor bau tubuhku dan suaraku di ruangan itu, dan ciumanku di kepalanya, atau apapun itu. Namun jujur, aku kesulitan mengatur emosiku. Itu sebabnya hari itu menjadi super melelahkan, karena aku grafik emosi yang naik turun tinggi sekali. Aku bahkan menangis selama di pesawat mengenang kembali semua hal yang telah terjadi selama ini. Mungkin hormonal, entahlah, aku mencoba menghibur diri.


Aku tiba di villa itu pukul 10 tepat. Seperti yang ku duga, dia tidur telentang. Artinya dia benar-benar tidur. Selama ini dia hanya akan memberi punggungnya padaku. Ku tatap wajah cantik itu dalam-dalam untuk melepas rinduku. Ku cium keningnya. Aku melihat jejak air mata di wajahnya dan matanya sembab. Para nanny yang menjaga di sana mengatakan bahwa dia tidak berhenti menangis sejak sore hari, dia bahkan tidak makan malam. Sampai Denise datang untuk menenangkannya. Aku memang menerima panggilan tidak terjawab dari Denise setelah mendarat di bandara dan dalam perjalanan ke rumah. Tetapi baru menyadarinya setelah hampir sampai, aku sama sekali tidak memeriksa handphone dan tidak repot bertanya mengapa.


“Jade… Ini adalah hari yang melelahkan sayang. Tapi aku memang harus minta maaf karena datang terlambat. Aku mendengar dari nanny bahwa kau menangis tidak henti sejak sore tadi. Apa karena aku terlambat? Aku sangat menyesal, maafkan aku. Aku baru saja kembali dari Tokyo, dari bandara langsung ke sini. Aku sudah berusaha untuk menyelesaikan semua urusan agar jadwal penerbangan terkejar dan aku tiba di sini tepat waktu, tetapi tidak bisa. Urusan di sana harus secepatnya selelsai. Setelah benar-benar selesai aku baru boleh meninggalkan tempat itu. Dan aku mengubah penerbangan menjadi sore hari, setidaknya aku masih bisa melihat kau tidur. Aku lelah secara emosional. Ini adalah pertama kalinya bagi pegawai Earnest fashion menyaksikan betapa kejamnya seorang Earnest dan aku bicara dengan nada tinggi, bahkan membentak. Ah... aku sangat lelah sayang. Bahkan di pesawat, aku menangis karena tidak bisa menahan perasaan ini. Bisakah kau bantu aku? Hanya dengan tersenyum padaku. Atau mungkin mengatakan beberapa kata. Atau apapun itu, untuk menenangkan jiwaku yang gersang? Aku merindukanmu. Aku berusaha keras untuk mengingat semua momen yang pernah kita alami bersama karena jika tidak, aku hampir melupakan semuanya. Caramu tersenyum, tertawa, sorot di matamu saat mengatakan cinta, saat kau marah atau menggodaku. Tolong aku... Aku sedang merasa sangat lelah sayang... "


Aku menumpahkan air mata sepuasnya, sesekali menekan kedua mataku dengan jemariku. Aku mencoba untuk tidak bersuara agar tidak membangunkannya. Perlahan ku rasakan selimut bergerak dan tangannya melingkari pinggangku dari samping. Aku mencoba merasakannya, apakah Jade benar-benar melakukan ini? Dia menyandarkan kepalanya di punggungku dan mengelus punggungku berulang kali. Aku berhenti menangis, mencoba meyakinkan diriku jika ini nyata.

__ADS_1


"Jade ...?" Ku balikkan tubuhku ke arahnya. Di bawah redupnya lampu tidur, aku masih bisa melihat  matanya yang bercahaya, dia bicara sesuatu di sana. Aku bisa merasakan semua emosi baik dalam diriku berkumpul di mataku. Ku bingkai wajahnya di tanganku.


"Jade ..." Dia mengambil tangannya dari pinggangku dan menyeka pipiku. Matanya bicara rindu. Dalam sekejap mata, aku berpikir bahwa harus menggunakan momen ini untuk menarik dia keluar dari dunianya.


"Jade, aku merindukanmu ..." Dia diam, hanya lewat matanya, mengatakan hal yang sama denganku.


“Katakan sesuatu sayang...” Aku memohon. Tapi dia tetap diam dan mulai menangis. Ku bawa ke dalam pelukanku dan mengusap punggungnya dengan lembut.


“Tidak apa-apa Jade, tidak masalah. Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Tidak apa-apa sayang...” Ini adalah kemajuan besar, aku tidak seharusnya meminta lebih. Setidaknya dia bergerak, meresponku dan mengatakan sesuatu meski dalam diam. Itu lebih dari cukup. Semua badai emosi yang kudapatkan hari itu mereda, luruh, hilang entah ke mana. Ku peluk dia dalam tidurku.

__ADS_1


__ADS_2