Putri Kegelapan

Putri Kegelapan
Siapa Aku?


__ADS_3

Sudut pandang Earnest


Terbangun dari bunyi bel pintu, aku bangun dan yang ku cari pertama kali adalah Jade. Di mana dia? Ku pakai jas piyamaku. Sambil penasaran, di mana Jade? Apa mungkin di ruang kerja masih menulis? Tapi siapa yang membunyikan bel selarut ini? Aku membuka pintu dan melihat mereka berdiri berjejer di depan pintu, dengan heran. Drey, Andrew dan Fred, mereka bertiga memegang paper bag cukup besar berbeda jenis di tangan masing-masing, makanan?


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Mereka saling menatap satu sama lain.


“Maaf boos, butuh waktu lama untuk mendapatkannya, karena saya harus membangunkan pemilik restoran dulu untuk membuatkan ini. Sudah larut malam dan restoran sudah tutup.” Kata Fred dengan bangga dengan hasil kerjanya. Tapi kemudian mereka saling memandang satu sama lain karena aku masih keheranan dan mengernyitkan dahi. Drey langsung cepat tanggap memahami situasi itu.


"Boss, Anda mengirim pesan kepada kami, untuk membeli makanan-makanan ini..." Dia menunjukkan handphonenya padaku. Ku perhatikan dengan seksama, benar, itu adalah nomorku.


“Benar boss, saya juga mendapatkan pesan yang sama.” Jawab Andrew sambil berusaha mengeluarkan handphone dari sakunya. Jade?


Aku berjalan tergesa-gesa ke dalam rumah dan memeriksa handphone. Aku mengirimkan pesan teks pada mereka bertiga beberapa jam yang lalu. Aku mencium sesuatu yang tidak beres. Pasti Jade yang mengirimkan pesan itu, tapi untuk apa? Aku memeriksa semua ruangan. Kamar mandi, mungkin dia disana. Tapi tidak ada. Oh mungkin dia ada di ruang kerja, aku menuju ke sana dengan tergesa-gesa, tetapi dia tidak ada. Ku hubungi nomornya, aku mendengar telepon berdering. Ku ikuti suara dan menemukan handphonenya. Ada di atas nakas di samping tempat tidur. Dia tidak membawa handphonenya!


"Drey!" Aku berteriak.


"Siap boss!"


“Cari Jade sekarang! Panggil semua pasukan, cari Jade!”

__ADS_1


"Siap boss!" Mereka bergerak dengan cepat.


Aku mencoba mencari petunjuk di dalam rumah. Tasnya masih ada. Berarti dia tidak bawa tas. Aku sedikit lega, apa mungkin dia hanya keluar sebentar dan akan kembali? Aku berharap begitu.


Ku periksa dompetnya, semua kartu lengkap, dia tidak bawa satu pun. Semakin menguatkan dugaanku bahwa dia tidak akan lama. Apa lagi? Ku periksa dompetku, siapa tahu dia membawa kartuku. Jika iya, baguslah. Akan lebih mudah untuk melacaknya jika dia menggunakannya. Tapi tidak ada yang hilang, hanya... uang, dia mengambil semua cash yang selalu ada di dompet. Dia mengambil semua uangnya. Aku mencoba tenang dan berpikir, dia tidak membawa apa pun. Bahkan tidak membawa pakaian. Aku menghela nafas besar dan berharap Drey dan pengawal lainnya menemukannya dan pulang bersama.


Tapi aku tidak bisa tenang. Dimana dia sekarang? Ketakutan merayap membungkus seluruh keberadaanku, sampai ke tulangku. Tolong Jade, jangan lakukan hal-hal yang bodoh.


Lalu aku ingat, dia bilang dia punya ide untuk menyelesaikan ceritanya. Aku tergesa-gesa menuju ke ruang  kerja. Semua gadget diatur dengan rapi, utuh pada tempatnya. Ku buka iMac dan menyalakannya. Langsung menuju folder tempat semua file cerita.


...


Dia terus berkata-kata tentang hal yang aneh, bahwa raja adalah iblis, dia adalah pangeran iblis. Diam! Aku teriak, tapi hanya bisa dalam hati. Tidak! Raja bukan iblis! Tapi lidahku kelu, aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Bagaimana mungkin dia berkata bahwa dia iblis? Dia adalah dewa bagiku. Setidaknya, dia selalu memberiku apa yang paling kubutuhkan dengan teratur. Vitamin itu. Hal yang paling ku butuhkan saat ini. Dengan itu, aku tidak akan menderita. Setidaknya, pangeran iblis itu memperlakukanku seperti seorang putri. Aku tidak akan mengalami perasaan mencekam menakutkan seperti ini jika berada bersama dia.


Dan, dia membuangku! Jadi siapa yang iblis? Dia mengatakan sesgala hal yang bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya. Seharusnya aku tidak mempercayainya sejak awal untuk mengikutinya. Tapi aku tidak punya pilihan. Ku pikir dia adalah malaikat hitam, dan sudah seharusnya aku tunduk padanya. Sekali lagi, aku tidak punya pilihan selain mengikutinya.


Akhirnya aku merasakan benci. Untuk dia, dan untuk diriku sendiri.


Bagiku, dia adalah malaikat paling jahat. Aku harus memanggil dia iblis karena dia telah menempatkanku dalam kekacauan ini. Identitas diriku kacau. Aku tidak tau siapa aku? Aku seharusnya menjadi seorang putri, putri pangeran iblis --jika itu adalah sebutan yang pantas untuknya--. Tidak masalah, karena setidaknya aku punya jati diri yang bisa ku pegang. Tapi sekarang? Siapa aku?

__ADS_1


...


Aku terhenyak. Jade sudah tau! Tapi kapan? Aku mencoba flashback dari kejadian kemarin.


Dia baik-baik saja dalam dua hari terakhir, bahkan sangat baik, moodnya bagus. Dia mengatakan karena kemajuan dalam menulis ceritanya. Dan tadi malam? Ah... Pantas saja dia bersikap manis, apa mungkin karena dia sudah merencanakan ini semua? Untuk meninggalkanku? Tapi tidak, hal itu tidak penting sekarang. Keputusan untuk meninggalkanku tidak menjadi masalah sekarang, aku bisa mengejarnya kapan saja. Hal yang paling menakutkan yang ku bayangkan adalah, jika dia melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri.


Pencarian diadakan sampai subuh dengan memperkirakan sejauh mana dia berjalan. Tapi kami masih belum mendapatk petunjuk. Di semua area di sekitar kompleks, di taman dan di toko-toko terdekat.Tidak ada tanda-tanda bahwa Jade ke sana.


Kami memutuskan memeriksa CCTV gedung apartemen itu. Dan menemukan dia berjalan menuju pinggir jalan dan menyetop taksi. Kuci satu-satunya dalah menemukan taksi itu. Sementara mencari-cari, aku pergi ke gereja dan memeriksa rumah kecil di belakang gereja dan taman. Siapa tau dia pergi ke sana. Tapi dia tidak ada di sana. Aku bahkan mencari-cari berita di internet kalau-kalau ada tindakan kejahatan dari semalam atau ditemukan mayat di suatu tempat, tetapi nihil. Di sore hari, kami akhirnya menemukan taksi. Kami meminta agar dia menelusuri kembali sejarah perjalanannya mulai dari kemarin malam. Ditemukan! Dia mengantarkan seorang gadis --yang ciri-cirinya sama dengan Jade-- ke sebuah apartemen tua di Busan. Busan? Aku mencoba mengingat-ingat, kota pertama yang mereka tinggali setelah tiba di Korea. Jangan bilang dia pergi ke Perancis lewat jalur laut?


Taksi itu meluncur di depan kami, menelusuri jalanan yang sama dengan yang kemarin malam. Setelah kurang lebih 3 jam, kami akhirnya tiba di gedung itu. Kami memeriksa seluruh gedung. Penghuninya tidak banyak, wajar saja, memang gedung itu sudah tua dan terbengkalai, tentu saja bukan menjadi pilihan untuk menjadi tempat tinggal. Setelah bertanya-tanya, kami diarahkan ke kamar yang terletak di bawah tanah. Ada beberapa kamar kosong tidak terpakai. Pantas saja, siapa yang mau membayar untuk tinggal di sini? Udara lembab, sangat tidak sehat dan sangat bau. Jade tidak mungkin di sini kan? Tapi entahlah. Aku hanya berharap bisa menemukannya secepatnya.


Setelah menyusuri lorong kamar-kamar yang pintunya terbuka, kami menemukan sebuah kamar dengan pintu tertutup. Aku mendorong pintu perlahan dan mengarahkan cahaya dari ponselku ke seluruh ruangan. Seseorang sedang berbaring di atas dipan! Di sudut ruangan! Jade?! Aku berjalan mendekati dipan dan memeriksa dengan seksama. Dia adalah Jade!


Aku tidak bisa mengendalikan diri, memanggil namanya sambil menangis.


"Jade ..." Tapi tidak ada reaksi. Ku sentuh tubuhnya, sangat dingin, membeku.


“Drey, bantu Drey, kita ke rumah sakit terdekat sekarang!” Kami bergerak cepat. Kami mengangkat tubuhnya yang sudah kaku dengan sangat hati-hati. Aku tidak tahu dari mana ku dapatkan kekuatan super itu, kami berhasil membawanya ke mobil. Dan meluncurkan mobil mencari rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2